TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Pertamina Patra Niaga menyalurkan sekitar 28.000 hingga 29.000 tabung LPG bersubsidi 3 kilogram setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Pasokan tersebut diangkut dari Kota Tarakan menggunakan kapal sebelum didistribusikan ke wilayah tujuan, Minggu (8/11/2026). 

Namun, penyaluran energi di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia ini masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk persaingan dengan produk energi dari negara tetangga.

Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Patra Niaga Kaltimtara VIII, Reza Pangestu, mengatakan distribusi BBM dan LPG ke Sebatik membutuhkan perencanaan serta sistem pengangkutan yang tidak sederhana.

"Memang tidak dipungkiri banyak juga barang-barang atau produk dari Malaysia yang masuk ke wilayah Sebatik, karena secara geografis sangat berdekatan. Ini menjadi salah satu tantangan kami dalam mendistribusikan produk nasional," ujarnya kepada TribunKaltara.com belum lama ini.

Menurut Reza, penyaluran energi ke wilayah perbatasan merupakan bagian dari upaya memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap produk energi nasional.

"Tujuan kami supaya masyarakat di Sebatik sebagai masyarakat Indonesia juga berhak mendapatkan akses energi dan merasakan kedaulatan energi hingga ke ujung negeri," katanya.

Baca juga: Jaga Pasokan Energi Sebatik Nunukan, Pertamina Hadapi Tantangan Distribusi BBM dan LPG di Perbatasan

Tantangan distribusi serupa juga terjadi di wilayah pedalaman Nunukan, termasuk Kecamatan Lumbis dan Krayan. Pengiriman energi ke Krayan bahkan memanfaatkan transportasi udara sebelum dilanjutkan menggunakan kendaraan darat.

Nelayan Keluhkan Kuota BBM Subsidi

Di tengah upaya menjaga pasokan energi, keterbatasan kuota BBM bersubsidi masih menjadi kendala bagi nelayan di Pulau Sebatik.

Djoardi, nelayan asal RT 007 Muara Sungai, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat, mengaku mendapat alokasi sekitar 900 liter BBM untuk tiga bulan. Jumlah tersebut digunakan untuk menunjang aktivitas penangkapan ikan.

Ketika kuota habis, ia harus menunggu alokasi berikutnya. Bahkan, aktivitas melaut terkadang terpaksa dihentikan meskipun kondisi cuaca sedang mendukung.

"Kalau kuota sudah habis, kami menunggu lagi. Kadang kami tidak turun melaut karena tidak bisa mengambil BBM lagi. Kalau menggunakan BBM Malaysia, biayanya sudah tidak sesuai dengan hasil tangkapan karena harganya jauh lebih mahal," jelasnya.

Nelayan yang telah sekitar 15 tahun menjalani pekerjaan tersebut mengatakan bahan bakar menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya operasional kapal.

Untuk kebutuhan sekitar 10 hari, Djoardi biasanya membeli hingga dua drum BBM. Setiap drum berkapasitas 200 liter dengan harga berkisar Rp1,3 juta hingga Rp1,4 juta.

Meski demikian, penggunaan BBM dalam negeri dinilainya membantu menekan pengeluaran dibandingkan ketika harus membeli bahan bakar dari Malaysia.

"Alhamdulillah, selama kami menggunakan BBM ini, masih bisa membantu. Dalam 10 hari kami bisa mendapatkan sekitar Rp5 juta, bahkan terkadang lebih," tuturnya.

Ia berharap pemerintah mempertimbangkan penambahan kuota BBM bersubsidi agar aktivitas nelayan tidak terus terkendala. Hasil tangkapan menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anak.

Persaingan dengan Produk Malaysia

Perkembangan distribusi energi nasional di Sebatik juga dirasakan pelaku usaha penyalur LPG. Direktur PT Sebatik Island Flowers, Abdullah, mengingat awal dirinya dipercaya menjadi agen LPG Pertamina pada akhir Desember 2014.

Saat itu, ketergantungan masyarakat terhadap gas dari Malaysia masih cukup tinggi. Kehadiran agen LPG dalam negeri menjadi salah satu upaya memperluas akses energi nasional di wilayah perbatasan.

"Ketika itu Pertamina turun untuk mengantisipasi ketergantungan dari gas negeri jiran Malaysia. Akhirnya kami diangkat menjadi agen LPG 3 kilogram pada 2014," ucapnya.

Pada awal operasional, alokasi yang diterima hanya sekitar 1.120 tabung. Seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan masyarakat, distribusi terus berkembang.

Kini, PT Sebatik Island Flowers membawahi 46 pangkalan, terdiri dari 30 pangkalan di Pulau Sebatik dan 16 pangkalan di Pulau Nunukan.

Meski distribusi berkembang, persaingan dengan produk energi Malaysia masih berlangsung. Abdullah mengatakan, ketika pengiriman LPG dalam negeri terlambat akibat cuaca buruk atau kendala transportasi laut, sebagian masyarakat kembali memilih gas Malaysia yang harganya lebih murah.

"Ketika ada cuaca tidak bagus dan terjadi keterlambatan, otomatis masyarakat lebih memilih lagi gas dari Malaysia karena harganya lebih murah," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kelancaran transportasi laut untuk pengiriman LPG ke wilayah perbatasan.

"Ini bukan hanya soal harga, tetapi harga diri bangsa kita di wilayah perbatasan. Bahwa kita ada, Pertamina ada dalam menjaga ketahanan energi," tegasnya.

Selain LPG bersubsidi 3 kilogram, penggunaan Bright Gas juga mulai berkembang. Produk ukuran 5,5 kilogram diminati sejumlah pelaku usaha mikro, seperti kafe dan warung, serta masyarakat yang tidak lagi menggunakan LPG bersubsidi.

Sementara itu, LPG ukuran 12 kilogram digunakan sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi pelanggan agen tersebut.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.