TRIBUN-TIMUR.COM - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026, dengan pertumbuhan yang ditopang penguatan bisnis data, layanan digital, infrastruktur, hingga konektivitas internasional.
Dalam laporan keuangan sembilan bulan pertama 2026, pendapatan Telkom tumbuh 3,5 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY), sementara EBITDA meningkat 2 persen menjadi Rp55,5 triliun.
Perseroan juga mencatat laba bersih Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen, sedangkan laba bersih normalisasi meningkat 3,9 persen YoY menjadi Rp16,5 triliun.
Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan pendapatan berasal dari bisnis Data, Internet & IT Services yang naik 8,3 persen YoY menjadi Rp71,5 triliun.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perseroan terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30 dengan fokus memperkuat bisnis inti dan memberikan manfaat nyata bagi perusahaan dalam jangka panjang.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan,” ujar Nanang dalam keterangan pers, Senin (2/11/2026).
Empat Segmen Bisnis Catat Pertumbuhan
Dari sisi bisnis, segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband membukukan pendapatan Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen YoY.
Di Telkomsel, pendapatan meningkat 1,8 persen YoY menjadi Rp82,9 triliun, terutama didorong bisnis digital yang tumbuh 7,7 persen menjadi Rp60,7 triliun.
Strategi pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, dan penguatan strategi komersial turut mendorong peningkatan monetisasi layanan seluler.
Hasilnya, rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) seluler Telkomsel meningkat 7,1 persen YoY menjadi Rp45.400, disertai kenaikan data yield sebesar 6,5 persen.
Sementara itu, pendapatan IndiHome tercatat Rp19,1 triliun seiring penataan basis pelanggan, meski sejumlah indikator menunjukkan perbaikan secara kuartalan.
Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2 persen secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ) menjadi 9,63 juta pelanggan, sedangkan ARPU naik 3,2 persen menjadi Rp217.700.
Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan tumbuh 5,5 persen YoY menjadi Rp7,1 triliun, didukung layanan data center, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur TelkomGroup.
Anak usaha Telkom, Mitratel, mencatat pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan fiber to the tower (FTTT) sebesar Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8 persen YoY.
Mitratel juga membukukan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun, dengan margin EBITDA 82,9 persen serta margin laba bersih 22,2 persen.
Sementara itu, NeutraDC mencatat pertumbuhan pendapatan 17 persen YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026.
EBITDA NeutraDC meningkat 35 persen YoY dengan margin mencapai 40,9 persen, didukung kontribusi data center di Singapura dan Cikarang serta meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui layanan Neutra Compute.
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW).
Untuk mendukung ekspansi tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kapabilitas teknis, akses pasar, dan pendanaan.
Pada segmen B2B ICT, pendapatan tercatat Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1 persen YoY, dengan kontribusi pertumbuhan antara lain berasal dari segmen usaha kecil dan menengah (SME).
Pendapatan segmen SME meningkat 10,2 persen YoY menjadi Rp3,3 triliun, didorong pertumbuhan pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen menjadi 771,1 ribu pelanggan.
Bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga mencatat pertumbuhan 6,2 persen YoY.
Adapun segmen International membukukan pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 5,8 persen YoY, terutama didukung peningkatan pendapatan jaringan sebesar 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun.
Penguatan layanan konektivitas internasional dilakukan melalui pengembangan jaringan kabel laut, termasuk proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026 dan proyek INSICA yang ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pengembangan infrastruktur tersebut turut mendukung posisi Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” tambah Nanang.
Transformasi TLKM 30 dan Penataan Portofolio
Di tengah pertumbuhan bisnis, Telkom juga melanjutkan transformasi melalui inisiatif TLKM 30 yang memiliki empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi proses dan kualitas layanan, memfokuskan portofolio pada bisnis inti, mengoptimalkan nilai aset melalui monetisasi dan kemitraan strategis, serta memperkuat peran Telkom sebagai strategic holding.
Pada pilar Operational & Service Excellence, perseroan menjaga disiplin pengelolaan biaya dan arus kas untuk mendukung efisiensi operasional, keberlanjutan investasi, serta kualitas layanan.
Pengelolaan tersebut juga mencakup pembayaran terkait program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP) sebagai bagian dari upaya membangun struktur organisasi yang lebih efektif dan produktif.
Sementara pada pilar Streamlining, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas hingga kuartal III 2026, terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, dan penggabungan dua entitas.
Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen.
Sebanyak 94,3 persen belanja modal tersebut dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperluas kapabilitas konektivitas digital.
Nanang menyebut penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi prioritas transformasi tahun ini agar TelkomGroup memiliki organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan adaptif.
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya.
Pada pilar Unlock Value, salah satu langkah penting yang telah diselesaikan ialah pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui aksi korporasi tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access.
Model tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat,” tutup Nanang.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.