TRIBUNNEWS.COM - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus memakan korban, termasuk tenaga medis yang berjuang menangani pasien.

Tiga dokter dilaporkan meninggal akibat Ebola dalam waktu kurang dari 72 jam di sebuah pusat perawatan di Beni, Provinsi Kivu Utara, wilayah timur Kongo.

Peristiwa ini terjadi ketika jumlah korban jiwa akibat wabah tersebut mendekati 5.000 orang, sementara penyebaran virus masih sulit dikendalikan.

Dikutip dari NDTV, Sabtu (31/10/2026), salah satu dokter yang meninggal adalah Dr. Marie-France Shogogo.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) menyampaikan belasungkawa atas kematiannya sekaligus meminta agar perlindungan bagi tenaga kesehatan ditingkatkan.

Korban Jiwa Mendekati 5.000 Orang

Berdasarkan laporan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional (INSP) Kongo, hingga 28 Oktober 2026 tercatat 10.274 kasus Ebola terkonfirmasi, termasuk 4.992 kematian.

Baca juga: Kemlu Pastikan Nihil WNI Terjangkit Wabah Ebola yang Meluas di Afrika, Pemantauan Terus Digalakkan

Jumlah tersebut menunjukkan tingkat kematian kasus mencapai 48,6 persen. Wabah ini telah menyebar ke 67 zona kesehatan di delapan dari 26 provinsi di Kongo.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan pada Sabtu (31/10/2026) bahwa jumlah korban jiwa telah melampaui 5.000 orang berdasarkan data pemerintah yang diumumkan sehari sebelumnya.

Di Beni, tempat tiga dokter tersebut meninggal, tercatat 661 kasus Ebola dengan 443 kematian. Tingkat kematian kasus di wilayah itu mencapai 67 persen.

Adapun di seluruh Provinsi Kivu Utara, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 2.391, dengan 1.341 kematian.

Penanganan Wabah Menghadapi Kendala

Wabah yang diumumkan pada 15 Mei 2026 ini disebabkan oleh virus Ebola strain Bundibugyo, jenis langka yang belum memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui secara khusus untuk melawannya.

Keterlambatan mendeteksi kasus, konflik, dan layanan kesehatan yang kewalahan turut mempersulit upaya menghentikan penyebaran virus.

Menurut laporan INSP, fasilitas perawatan Ebola di Kivu Utara telah beroperasi pada kapasitas 86,3 persen.

Sementara itu, pemantauan baru menjangkau 82,2 persen dari kontak pasien yang telah teridentifikasi, masih di bawah target 95 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi petugas kesehatan dalam melacak penyebaran virus dan menangani pasien di tengah meningkatnya jumlah kasus.

Ebola Menyebar ke Negara Lain

Penyebaran Ebola kini tidak hanya terjadi di Kongo.

Nigeria pekan lalu menjadi negara Afrika keempat yang melaporkan kasus Ebola dalam wabah kali ini, memperluas penyebaran virus hingga Afrika Barat.

Kenya dan Uganda di Afrika Timur juga telah melaporkan kasus.

Sejumlah pemerintah mulai membatasi perjalanan dari dan menuju wilayah terdampak untuk mengurangi risiko penyebaran lintas negara.

Menurut laporan Al Jazeera, Arab Saudi pada Jumat (30/10/2026) menangguhkan perjalanan ke dan dari Kenya.

Kebijakan itu mencakup penghentian perjalanan warga Saudi ke Kenya serta penerbitan semua jenis visa bagi pelancong dari negara tersebut.

Arab Saudi juga melarang masuk pelancong yang datang dari Kenya, termasuk mereka yang transit melalui negara ketiga dan pernah berada di Kenya atau negara terdampak Ebola lainnya dalam 21 hari sebelumnya.

Sebelumnya, pada Juni 2026, Arab Saudi telah menangguhkan perjalanan ke dan dari Kongo, Uganda, serta Sudan Selatan.

Baca juga: Kenya Konfirmasi Kasus Ebola Kedua, Pasien 39 Tahun Kerabat Korban Pertama

Wabah Terbesar Kedua Sepanjang Sejarah

Wabah Ebola di Kongo tahun ini tercatat sebagai yang terbesar kedua sepanjang sejarah, setelah epidemi yang melanda Guinea, Liberia, dan Sierra Leone pada 2014–2016.

Epidemi tersebut menginfeksi lebih dari 28.600 orang dan menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Sementara itu, wabah di Kongo terus meluas dengan lebih dari 10.000 kasus dan ribuan kematian.

Belum adanya pengobatan atau vaksin yang disetujui untuk strain Bundibugyo, ditambah konflik dan keterbatasan layanan kesehatan, membuat pengendalian wabah masih menjadi tantangan besar.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.