TRIBUNNEWS.COM - Perubahan iklim kian menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, dengan dampak yang meningkat lebih cepat daripada respons dunia dalam mengatasinya.

Laporan Lancet Countdown 2026 mencatat panas berkaitan dengan sekitar 710.000 kematian di seluruh dunia pada 2023. Lebih dari 70 persen beban kematian tersebut diperkirakan berkaitan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Temuan itu disampaikan dalam laporan yang melibatkan 146 peneliti dari lebih dari 100 institusi. Studi tersebut dipimpin University College London melalui kolaborasi internasional dengan dukungan strategis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikutip dari Anadolu Agency, Rabu (28/10/2026), laporan tersebut memperingatkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan terus meningkat meskipun sejumlah kemajuan telah dicapai sejak Perjanjian Paris pada 2015.

“Temuan kami tidak menyisakan keraguan: dampak perubahan iklim terhadap kesehatan tumbuh lebih cepat daripada respons dunia, dan dalam banyak kasus bahkan semakin cepat,” kata Direktur Eksekutif Lancet Countdown, Marina Romanello.

WHO juga menyebut rata-rata kematian terkait panas meningkat hampir 36 persen pada periode setelah Perjanjian Paris dibandingkan dekade sebelumnya.

Temuan ini memperkuat peringatan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan kenaikan suhu atau kerusakan ekosistem. Dampaknya juga menyentuh keselamatan manusia, produktivitas ekonomi, dan kesiapan sistem kesehatan menghadapi cuaca ekstrem.

Kerugian Ekonomi Tembus 1 Triliun Dolar AS

Dampak panas ekstrem tidak hanya terlihat dari jumlah kematian. Peneliti memperkirakan paparan panas menyebabkan hilangnya potensi pendapatan lebih dari 1 triliun dolar AS secara global pada 2025.

Angka tersebut menjadi tahun ketiga berturut-turut ketika kerugian potensi pendapatan akibat panas ekstrem melampaui 1 triliun dolar AS.

Baca juga: Krisis Iklim Ancam Kesehatan Mental, Pakar Soroti Dampak Karhutla Terhadap Anak

Laporan itu juga mencatat lebih dari separuh wilayah daratan dunia mengalami kekeringan ekstrem setidaknya selama satu bulan pada 2025.

Kekeringan dan panas ekstrem dapat memperbesar risiko kesehatan, mengganggu ketersediaan air serta pangan, dan menekan kemampuan masyarakat untuk bekerja di luar ruangan. Kelompok yang bekerja di sektor informal, pertanian, konstruksi, dan pekerjaan luar ruang lainnya berpotensi menghadapi paparan panas secara langsung.

Meski demikian, besarnya dampak dapat berbeda menurut kondisi iklim, kerentanan penduduk, kualitas layanan kesehatan, serta kesiapan pemerintah di setiap wilayah.

Investasi Energi Bersih Meningkat, Bahan Bakar Fosil Masih Dominan

Di tengah peningkatan risiko tersebut, dunia juga mencatat kemajuan dalam pembiayaan energi bersih.

Investasi global untuk energi bersih mencapai rekor 2,1 triliun dolar AS pada 2025. Namun, bahan bakar fosil masih menyumbang lebih dari 80 persen pasokan energi global.

Kondisi itu memperlihatkan tantangan dalam menekan sumber emisi gas rumah kaca. Transisi menuju energi rendah karbon telah berjalan, tetapi belum cukup cepat untuk mengimbangi peningkatan risiko kesehatan yang berkaitan dengan pemanasan global.

Laporan Lancet Countdown menyerukan agar pemerintah dan lembaga internasional mempercepat pengurangan emisi, memperkuat adaptasi terhadap dampak iklim, serta menempatkan perlindungan kesehatan sebagai bagian utama kebijakan iklim.

WHO Dorong Sistem Kesehatan Lebih Siap

WHO menegaskan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan sudah dirasakan di berbagai kawasan dunia. Karena itu, kebijakan iklim perlu disertai langkah konkret untuk melindungi masyarakat dari panas ekstrem, cuaca berbahaya, penyakit, dan gangguan terhadap ketahanan pangan.

Kepala Unit Perubahan Iklim, Kualitas Udara, Energi dan Kesehatan WHO, Diarmid Campbell-Lendrum, mengatakan laporan tersebut menunjukkan bahwa tindakan iklim juga merupakan intervensi kesehatan.

Menurut WHO, sejumlah langkah yang perlu diperkuat mencakup sistem peringatan dini berbasis informasi iklim, rencana adaptasi kesehatan nasional, penguatan fasilitas kesehatan agar tahan menghadapi dampak iklim, serta pengurangan polusi dari penggunaan bahan bakar fosil.

WHO juga menjalankan kerja sama dengan kementerian kesehatan dan mitra internasional melalui Alliance for Transformative Action on Climate and Health (ATACH) untuk mendorong sistem kesehatan yang lebih tangguh, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Laporan Lancet Countdown meminta agar perubahan iklim secara formal diakui dan ditangani sebagai darurat kesehatan global. Seruan itu merupakan rekomendasi para peneliti, bukan berarti WHO telah menetapkan status darurat kesehatan internasional secara formal untuk perubahan iklim.

Menjelang konferensi iklim COP31, para peneliti menekankan bahwa pemerintah perlu mempercepat pengurangan emisi sekaligus memperluas perlindungan kesehatan. Kedua langkah tersebut dinilai penting agar manfaat kebijakan iklim dapat dirasakan lebih merata dan tidak hanya dinikmati masyarakat yang memiliki sumber daya untuk beradaptasi.

 

(*)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.