Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Trauma setelah dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih membekas pada siswa SDN Taman Kalijaga Permai, Kota Cirebon.
Mayoritas orang tua kini memilih menolak kelanjutan program tersebut di sekolah, meski kondisi anak-anak yang terdampak mulai membaik.
Penolakan itu mengemuka dalam rapat antara pihak sekolah dan wali murid pada Rabu (28/10/2026).
Orang tua meminta kejelasan penyebab kejadian, jaminan keamanan makanan, hingga tindak lanjut bagi keluarga yang kehilangan waktu bekerja selama anak menjalani perawatan.
Salah seorang wali murid kelas III, Hadi Diana mengatakan, dirinya secara pribadi memilih menolak MBG.
Baca juga: Dinkes Cirebon Cabut Sertifikat SLHS Dapur MBG Kalijaga Buntut 432 Warga Keracunan MBG
Ia khawatir kejadian serupa terulang apabila program tetap berjalan tanpa adanya kejelasan dan jaminan keamanan.
“Kalau saya pribadi sih menolak. Cuma secara pribadi kan pikiran saya menolak itu bakal ada pergantian ataupun ada alternatif lain. Ternyata di saat menolak ya selesai menolak, tidak ada solusi,” ujar Hadi seusai rapat dengan pihak sekolah, Rabu (28/10/2026).
Menurut Hadi, orang tua perlu mendapatkan penjelasan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami anak-anak setelah menyantap makanan dari program tersebut.
Ia mempertanyakan bagaimana kejadian itu bisa terjadi, padahal penyelenggaraan MBG melibatkan sejumlah pihak yang dinilai memiliki kompetensi di bidangnya.
“Karena bilangnya kan dalam satu SPPG itu sudah ada orang-orang berkompeten, dari kepolisian, ahli gizi dan lain-lain, tapi bisa terjadi seperti ini,” ucapnya.
Hadi juga meminta pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memastikan proses pengolahan hingga penyajian makanan benar-benar mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP).
Menurut dia, keamanan makanan tidak cukup hanya mengandalkan pencicipan sebelum makanan dibagikan kepada siswa.
“Jadi mungkin SOP-nya ditegakkan, dipastikan bukan cuma guru yang mencicipi MBG ini sebelum dibagikan ke murid, tapi dipastikan memang sudah aman di saat dikonsumsi jam-jam yang sudah disesuaikan untuk dimakan anak-anak tersebut,” jelas dia.
Penolakan Hadi bukan tanpa alasan.
Salah seorang anaknya turut terdampak dugaan keracunan MBG dan harus menjalani perawatan selama empat hari tiga malam di Rumah Sakit Siloam Putera Bahagia.
Ia menceritakan, gejala awal diketahui ketika dirinya masih bekerja.
Sekitar pukul 12.30 WIB, ia menerima kabar bahwa kondisi tubuh anaknya mulai menghangat.
Setelah dibawa pulang, anak tersebut mengalami muntah-muntah.
“Jam setengah satu, saya ditelepon lagi kerja bahwa anak saya hangat badan. Setelah dibawa pulang, muntah-muntah,” katanya.
Menurut dia, kabar mengenai siswa lain yang mengalami gejala serupa mulai ramai setelah anak-anak pulang ke rumah masing-masing.
Saat itu, pihak sekolah mulai mengarahkan siswa yang mengalami keluhan serupa untuk mendapatkan penanganan medis.
Pengalaman mendampingi anak selama dirawat membuat Hadi turut memikirkan kondisi orang tua lain yang harus meninggalkan pekerjaan demi menjaga anaknya.
Ia mengatakan, sejumlah wali murid mengeluhkan tidak bisa berdagang atau bekerja karena khawatir dengan kondisi anak mereka.
“Ini kan harus ada pemikiran dari pihak tersebut, apa solusinya dengan mereka-mereka yang jadinya tidak kerja? Terganggu penghasilannya,” ujarnya.
Hadi menilai persoalan tersebut tidak boleh diabaikan.
Baca juga: 98 Siswa dan Guru Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Cirebon, Kini Masih Trauma
Bagi orang tua yang mengandalkan penghasilan harian, tidak bekerja berarti kehilangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, ia berharap pihak terkait tidak hanya berfokus pada penyelidikan penyebab kejadian, tetapi juga memikirkan tindak lanjut bagi keluarga yang terdampak.
Penolakan juga disampaikan Mega Susilowati, wali murid kelas IV SDN Taman Kalijaga Permai.
Ia mengatakan, anaknya turut terdampak, mengalami diare dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Ciremai selama satu malam.
Meski kini kondisinya telah membaik dan kembali beraktivitas, pengalaman tersebut masih meninggalkan trauma.
Menurut Mega, anaknya merasa takut ketika melihat telur bulat dari luar.
Telur puyuh sebelumnya menjadi salah satu makanan yang mendapat perhatian dalam penelusuran kejadian dugaan keracunan tersebut.
“Trauma kalau lihat telur bulat dari luar. Kalau masak mamanya sih tidak,” ucap Mega.
Ia mengatakan, mayoritas orang tua yang mengikuti rapat menginginkan penyaluran MBG dihentikan di sekolah tersebut.
Mereka khawatir kejadian serupa kembali terjadi jika program dilanjutkan.
“Penginnya tetap menolak sih, Mas. Karena trauma takut kejadian sama,” jelas dia.
Mega menegaskan, penolakan itu muncul karena orang tua masih khawatir terhadap keamanan makanan yang akan dikonsumsi anak-anak mereka.
Kepala SDN Taman Kalijaga Permai, Fauziyah Hayati Fazrin mengatakan, pihak sekolah telah menampung aspirasi wali murid melalui pertemuan yang dilakukan secara bertahap berdasarkan jenjang kelas.
Dalam pertemuan tersebut, orang tua menyampaikan sejumlah hal, mulai dari permintaan klarifikasi mengenai kejadian dugaan keracunan, permohonan maaf kepada keluarga terdampak, hingga pertanyaan mengenai kompensasi bagi orang tua yang tidak bisa bekerja.
Fauziyah menyebut, mayoritas orang tua masih mengalami trauma sehingga cenderung tidak menginginkan penyaluran MBG kembali dilanjutkan di sekolah.
“Kebanyakannya ya tidak mau,” kata Fauziyah.
Ia mengatakan, keputusan mengenai penerimaan program akan mempertimbangkan persetujuan orang tua sebagai pihak yang anaknya menjadi penerima manfaat.
Baca juga: 35 Guru di Cirebon Jadi Korban Keracunan MBG, PGRI Soroti Tugas Guru yang Tak Ada di UU
Pihak sekolah juga menyiapkan surat pernyataan untuk menampung sikap orang tua.
Selanjutnya, perwakilan wali murid akan dijadwalkan bertemu dengan pihak SPPG guna membahas aspirasi tersebut.
“Yang penting, atas persetujuan orang tua semua dilakukan,” ujarnya.
Fauziyah menambahkan, pihak sekolah akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar aspirasi wali murid dapat disampaikan dan ditindaklanjuti.
ut belum dapat disimpulkan.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.