TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gemericik aliran air dan hamparan batuan di Sungai Oyo, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, tidak sekadar menjadi panorama alam biasa bagi perupa Yudha Kusuma Putera.
Berawal dari kenangan masa kecil yang berkesan saat berburu batu permata di tepi sungai, pengalaman intuitif tersebut kemudian diolah menjadi ruang refleksi kritis atas hubungan mendalam antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya.
Eksplorasi memori dan lanskap alam itu kini dihadirkan kembali secara komprehensif bagi publik dalam perhelatan pameran seni rupa tahunan Nandur Srawung (NS) #13 yang berlangsung pada 21–28 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Pameran bertajuk Nandur Srawung #13 kali ini secara resmi melakukan reposisi peran strategis dengan mengusung skema trilogi kuratorial "Akademi" untuk periode 2026 hingga 2028.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pendukung bagi proses regenerasi seniman muda di Indonesia.
Untuk edisi tahun 2026, pameran mengusung subtema "Akademi: Lanskap" guna memetakan serta membaca ragam praktik, medium, perspektif, dan posisi seni rupa kontemporer nasional.
Dalam perhelatan tersebut, Yudha Kusuma Putera, perupa kelahiran Magelang tahun 1987 yang kini tinggal dan berkarya di Yogyakarta, menampilkan dua karya interaktif yang sarat narasi ekologis.
Karya pertama merupakan instalasi bertajuk Simulasi Kali Oyo (2014, 2024) bernuansa neon box, batu-batuan, senter, dan kaca pembesar berukuran 122 × 244 cm.
Baca juga: Merawat Akar Sejarah Pertanahan Yogyakarta Melalui Historiografi 1946–2012
Karya kedua berupa kolase buku dan foto anonim berukuran 14,8 × 21 cm bertajuk Portrait batu batu (2022).
"Karya ini berawal dari pengalaman saya saat mengikuti program residensi selama dua bulan di Bumi Pemuda Rahayu, Desa Muntuk, Dlingo, Yogyakarta, pada 2014 lalu. Pengalaman tinggal dan berkarya di sana mendorong saya untuk meninjau kembali bagaimana hubungan manusia dengan lingkungan alam di sekitarnya. Pada masa itu, ketertarikan saya pada batu permata sejak kecil muncul kembali ketika saya mengunjungi Sungai Oyo yang lokasinya tidak jauh dari tempat saya tinggal. Pengalaman menyenangkan saat mencari batu di sungai itulah yang kemudian menjadi titik tolak penciptaan karya ini," kata Yudha.
Melalui karya instalasi tersebut, Yudha mengajak pengunjung untuk tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan berinteraksi secara fisik dalam mengamati detail-detail bentang alam dari berbagai perspektif:
"Instalasi ini menghadirkan kembali pengalaman tersebut melalui foto lanskap Sungai Oyo yang diambil dari ketinggian, dengan batu-batu temuan yang telah dipoles diletakkan di atas permukaannya. Sebuah kaca pembesar mengajak pengunjung mengamati detail batu secara saksama, sementara batu-batu yang belum diolah ditempatkan di bawah meja. Dengan mempertemukan beragam sudut pandang, mulai dari bentang lanskap sungai hingga tekstur mikroskopis setiap batu, karya ini mengajak pengunjung untuk membangun kedekatan dengan lingkungan alam melalui pengamatan yang lebih mendalam."
Karya yang bertumpu pada pengalaman personal dan interaksi lingkungan ini terus mengalami perkembangan bentuk serta skala penyajian sejak pertama kali dipamerkan.
"Pada 2024, saya diundang untuk mempresentasikan karya ini dalam perhelatan Indonesia Bertutur. Menanggapi tema yang diusung dalam acara tersebut, serta melalui diskusi bersama kurator pameran, saya menciptakan ulang instalasi ini dalam skala yang lebih besar. Di sini, pengunjung dipersilakan menyentuh dan mengamati batu-batu yang dihadirkan, sehingga mereka dapat mengalami karya secara langsung melalui keterlibatan fisik yang menggema pengalaman saya saat mencari batu di sungai," ujar Yudha.
Kehadiran karya Yudha Kusuma Putera yang turut mengisi agenda Wicara Seniman menjadi bagian integral dari arah baru pameran Nandur Srawung #13.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta Purwiati menyampaikan bahwa perhelatan ini merupakan agenda rutin tahunan TBY untuk mengawal, memfasilitasi, serta mengembangkan seni rupa kontemporer di Yogyakarta.
Untuk periode tiga tahun ke depan (2026–2028), pengelolaan kuratorial dipercayakan kepada tim kurator muda yang terdiri dari Gintani Swastika, Febrian A. Hasibuan, dan Tomi Firdaus.
"Ini adalah agenda tahunan untuk pameran Nandur Srawung tahun ini, dan mulai tahun 2026 sampai nanti 2028, dengan kurator-kurator muda kita yang sangat berbakat dan luar biasa ini untuk bisa selalu mengembangkan seni rupa kontemporer yang ada di Yogyakarta," ujar Purwiati.
Purwiati menjelaskan, perhelatan yang berlangsung selama satu pekan penuh ini tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga diisi serangkaian agenda harian yang intensif, seperti diskusi publik, kelas penulisan seni, seni performa, kuliah umum, hingga berbagai lokakarya pendidikan seni.
Kurator Nandur Srawung #13, Gintani Swastika, mengungkapkan bahwa penetapan skema "Akademi" berawal dari pembacaan mendalam terhadap konstelasi dan infrastruktur peristiwa seni rupa di Yogyakarta saat ini.
Menurutnya, pameran perlu mengambil peran baru yang lebih berdampak sebagai ruang produksi pengetahuan serta wadah pengembangan kapasitas seniman muda.
"Saya merasa sudah saatnya Nandur Srawung melakukan reposisi, karena dalam lanskap atau infrastruktur konstelasi peristiwa seni, kami perlu memberikan perhatian kepada teman-teman seniman muda khususnya, untuk kemudian memberikan ekosistem yang mendukung," kata Gintani.
Gintani menerangkan bahwa skema trilogi kuratorial "Akademi" dirancang secara bertahap selama tiga tahun berturut-turut. Setelah subtema "Akademi: Lanskap" pada 2026, pameran pada tahun 2027 akan melangkah ke subtema "Akademi: Lab" untuk memberikan ruang inovasi dan pendalaman praktik berkesenian.
Rangkaian trilogi ini ditargetkan bermuara pada subtema "Akademi: Lintasan" pada tahun 2028 melalui skema pertukaran dan kolaborasi berskala regional bersama ruang atau organisasi seni budaya di kawasan Asia Tenggara.
Pada penyelenggaraan tahun ini, pameran Nandur Srawung #13 menampilkan karya dari 100 seniman terpilih. Kurasi peserta dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu undangan khusus dan pendaftaran terbuka (open call).
Jalur pendaftaran terbuka berhasil menyedot antusiasme tinggi dengan menjaring 264 perupa dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Lampung, Bali, Jambi, Riau, hingga peserta terjauh dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Pameran ini menyandingkan perupa lintas generasi. Sejumlah seniman senior yang terlibat antara lain Siti Adiyati, Titarubi, Nadiah Bamadhaj, dan Maryanto.
Sementara dari deretan seniman muda menampilkan nama-nama seperti Ipeh Nur, Marten Bayuaji, Mira Rizki, hingga Ari Zal Zainal Beta.
Selain pameran visual, publik dapat mengikuti Kelas Penulisan Seni yang diikuti 10 penulis muda, Diskusi Publik mengenai polemik seni pasca-reformasi dan pendidikan seni, Kuliah Umum, serta Wicara Seniman bersama Bonggal Hutagalung, Maryanto, Nina Widjaja, Pangestumu, dan Yudha Kusuma Putera.
Sektor literasi publik juga diperkuat melalui kehadiran Kios Seni yang berkolaborasi dengan Yogyakarta Art Book Club (YKABC) melalui lokakarya penerbitan seni pada Selasa (27/10/2026).
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi berkelanjutan terhadap seni kontemporer Indonesia, Nandur Srawung #13 menganugerahkan penghargaan Lifetime Achievement Award serta memfasilitasi Pidato Kebudayaan oleh seniman Melati Suryodarmo pada Minggu (25/10/2026).
Rangkaian acara ditutup pada Rabu (28/10/2026) dengan penganugerahan Audience Recognition Award bagi seniman open call terfavorit pilihan pengunjung.
Pameran ini terbuka untuk masyarakat umum secara gratis setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta.(*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.