TRIBUNJOGJA.COM - Anak yang biasanya banyak bicara di rumah bisa tiba-tiba diam ketika bertemu orang baru.

Sebagian anak memilih bersembunyi di belakang orang tua, enggan menjawab sapaan, atau hanya mengamati anak-anak lain yang sedang bermain.

Situasi tersebut terkadang membuat orang tua khawatir anaknya kesulitan bersosialisasi.

Tidak jarang orang tua langsung meminta anak untuk menyapa, bersalaman, atau ikut bermain agar tidak terus-menerus malu.

Padahal, anak yang diam saat bertemu orang baru belum tentu tidak ingin berteman.

Sebagian anak membutuhkan waktu untuk mengenali lingkungan dan merasa nyaman sebelum mulai berinteraksi.

Menurut PAUDPEDIA, platform informasi pendidikan anak usia dini dari Kemendikdasmen, setiap anak memiliki cara beradaptasi yang berbeda ketika bertemu orang baru.

Anak yang memilih mengamati situasi terlebih dahulu tidak otomatis mengalami masalah dalam kemampuan sosialnya.

Lantas, bagaimana sebaiknya orang tua menghadapi anak yang pemalu?

Anak Pemalu Belum Tentu Tidak Pandai Bersosialisasi

Rasa malu ketika bertemu orang baru dapat berkaitan dengan temperamen anak.

Ada anak yang mudah memulai percakapan, sedangkan anak lainnya cenderung berhati-hati ketika berada di lingkungan yang belum dikenal.

Anak yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri mungkin lebih nyaman mengamati orang-orang di sekitarnya sebelum memutuskan untuk bergabung.

Hal tersebut tidak selalu berarti anak tidak memiliki keinginan untuk berteman.

Sebagian anak baru mulai berbicara atau bermain setelah mengenali situasi dan merasa cukup nyaman dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang tua perlu membedakan perilaku tersebut dari kesulitan sosial yang lebih menetap.

Anak yang diam saat bertemu kerabat yang jarang ditemui, misalnya, belum tentu mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah.

Karena itu, penting untuk memperhatikan perilaku anak dalam berbagai situasi, bukan langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak pandai bersosialisasi hanya karena enggan menyapa orang baru.

Memaksa Anak Bergaul Bukan Satu-satunya Cara Membuatnya Berani

Mendorong anak untuk berinteraksi memang penting, tetapi orang tua tidak harus memaksanya langsung berani.

Ketika anak bersembunyi atau menolak menyapa orang baru, hindari memarahinya, membandingkannya dengan anak lain, atau mempermalukannya di depan banyak orang.

Ucapan seperti "Ayo, jangan malu begitu!" mungkin dimaksudkan untuk menyemangati, tetapi belum tentu membantu anak merasa lebih nyaman.

Orang tua dapat memberikan waktu kepada anak untuk mengamati situasi sambil tetap mendampinginya.

Setelah anak mulai merasa nyaman, ajak ia melakukan interaksi sederhana sesuai kesiapannya.

Misalnya, anak dapat mulai dengan memperhatikan permainan teman-temannya, bermain bersama satu anak, atau mencoba mengucapkan salam kepada orang yang sudah dikenalnya.

Pendekatan bertahap membantu anak memperoleh pengalaman berinteraksi tanpa harus menghadapi situasi yang terasa terlalu berat sekaligus.

American Academy of Pediatrics juga menyarankan orang tua membantu anak menghadapi situasi sosial melalui langkah-langkah kecil, latihan percakapan, dan kegiatan yang sesuai dengan minatnya.

Dengan demikian, tujuan orang tua bukan membuat anak langsung menjadi paling berani, melainkan membantunya membangun kenyamanan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Cara Membantu Anak Lebih Nyaman Bertemu Orang Baru

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendampingi anak yang cenderung pemalu.

1. Berikan waktu untuk beradaptasi.

Ketika mengajak anak ke acara keluarga atau lingkungan baru, jangan langsung menuntutnya untuk berbicara dengan semua orang.

Biarkan anak mengamati keadaan terlebih dahulu sambil mengetahui bahwa orang tua tetap berada di dekatnya.

2. Latih interaksi sederhana di rumah.

Orang tua dapat mengajak anak bermain peran, misalnya berpura-pura bertemu teman baru atau berlatih mengucapkan salam kepada tetangga.

Latihan tersebut membantu anak memiliki gambaran mengenai apa yang dapat dikatakan ketika menghadapi situasi serupa.

3. Mulai dari lingkungan yang lebih kecil.

Jika anak belum nyaman bermain dengan banyak teman, orang tua dapat mengajaknya berinteraksi dengan satu anak terlebih dahulu.

Pilih kegiatan yang disukai anak agar ia memiliki kesempatan untuk berkomunikasi melalui aktivitas yang terasa menyenangkan.

4. Hargai kemajuan kecil.

Ketika anak mulai berani menyapa, menjawab pertanyaan, atau bergabung dalam permainan, berikan apresiasi atas usahanya.

Orang tua juga sebaiknya menghindari kebiasaan memperkenalkan anak dengan label seperti "Dia memang pemalu" di depan orang lain.

Sebagai gantinya, orang tua dapat mengatakan bahwa anak sedang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Cara tersebut membantu orang tua menjelaskan perilaku anak tanpa menjadikannya sebagai sifat tetap yang harus terus melekat pada dirinya.

Meski demikian, anak yang pendiam atau membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi tidak otomatis mengalami gangguan kecemasan.

Membantu anak bersosialisasi bukan berarti memaksanya untuk selalu berbicara atau segera bergabung dengan orang lain.

Orang tua dapat mendampingi anak melalui pengalaman sosial yang bertahap, memberikan rasa aman, dan menghargai prosesnya dalam membangun keberanian.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.