TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Ini respons terbaru Dinas Pendidikan sikapi pelatihan kebencanaan di SMPN 1 Nunukan
Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan mengetahui teori.
Siswa dan guru juga perlu memahami langkah yang harus dilakukan, ketika situasi darurat benar-benar terjadi.
Hal inilah yang menjadi perhatian dalam simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMPN 1 Nunukan, pada Rabu (21/10/2026).
Sebanyak 853 siswa dan 64 guru terlibat dalam kegiatan tersebut.
Simulasi ini menjadi upaya membangun kesiapsiagaan warga sekolah, dalam menghadapi potensi bencana, sekaligus menanamkan pemahaman mengenai pentingnya keselamatan di lingkungan pendidikan.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Andi Maskur, mengatakan simulasi kebencanaan perlu dilaksanakan secara berkala, agar pengetahuan yang diperoleh warga sekolah tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar minimal satu kali dalam setahun.
Bahkan, jika memungkinkan, pelaksanaannya bisa ditingkatkan menjadi dua kali setahun.
"Kami dari Dinas Pendidikan mengucapkan terima kasih kepada BPBD, Damkar, dan PMI.
Harapan kami ke depannya simulasi ini bisa dilaksanakan satu kali setahun.
Kalau bisa maksimal dua kali setahun," kata Andi Maskur kepada TribunKaltara.com.
Menurutnya, simulasi merupakan bagian penting dari proses pembelajaran, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga guru dan seluruh warga sekolah.
Baca juga: 853 Siswa SMPN 1 Nunukan Provinsi Kaltara Dilatih Siaga Bencana
Andi Maskur menegaskan, pengetahuan kebencanaan harus mencakup seluruh tahapan penanganan, mulai dari sebelum bencana, ketika bencana terjadi, hingga pasca bencana.
Pemahaman tersebut dinilai penting, agar warga sekolah mampu mengenali risiko, dan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan sesuai kondisi yang dihadapi.
Ia juga berharap, pelaksanaan SPAB di SMPN 1 Nunukan dapat menjadi contoh bagi sekolah menengah pertama lainnya di Kabupaten Nunukan.
Sebagai salah satu sekolah unggulan dan percontohan, SMPN 1 Nunukan diharapkan mampu mendorong penerapan budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan yang lebih luas.
"Ini bukan hanya SMPN 1 Nunukan, tetapi juga sekolah-sekolah lain.
Ke depannya, SMP lain bisa meniru apa yang dilakukan SMPN 1 Nunukan tentang penanganan kebencanaan," ujarnya.
Dengan demikian, edukasi kebencanaan di sekolah tidak hanya berfokus pada pelaksanaan simulasi, tetapi juga membentuk kebiasaan untuk mengutamakan keselamatan.
Di balik upaya meningkatkan kesiapsiagaan siswa, Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan juga menaruh perhatian pada aspek keamanan bangunan sekolah.
Andi Maskur mengatakan, fasilitas pendidikan perlu mendapat pengawasan agar risiko yang berkaitan dengan kondisi bangunan dapat diminimalkan, terutama dalam menghadapi potensi gempa bumi.
Ia mencontohkan kejadian plafon sekolah yang runtuh sebagai persoalan yang perlu menjadi perhatian dalam pemeliharaan dan perbaikan sarana pendidikan.
Menurutnya, pemilihan material bangunan juga perlu dipertimbangkan dengan memperhatikan aspek keselamatan.
Salah satu opsi yang disampaikan adalah penggunaan material plafon PVC yang relatif ringan, sebagai bagian dari upaya perbaikan fasilitas sekolah.
"Ke depannya, proses bangunannya akan kita awasi sebaik-baiknya.
Contohnya, selama ini ada sekolah-sekolah yang plafonnya runtuh.
Ke depannya kita akan memperbaiki dengan mempergunakan PVC yang bahan materialnya ringan," jelasnya.
Perhatian terhadap bangunan sekolah ini, menjadi bagian penting dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
Sebab, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada kemampuan siswa dan guru merespons keadaan darurat, tetapi juga perlu didukung sarana dan prasarana yang memperhatikan keselamatan.
Melalui simulasi SPAB dan pengawasan fasilitas pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan berharap upaya membangun sekolah yang aman dan tangguh terhadap bencana dapat diterapkan secara berkelanjutan.
(*)
Penulis: Fatimah Majid
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.