TRIBUNNEWSMAKER.COM - Chef Arnold Poernomo kembali menjadi sorotan setelah melontarkan kritik tajam terhadap investor dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kali ini, ia menyoroti orientasi keuntungan para investor yang dinilainya terlalu ingin cepat mendapatkan kembali modal yang telah dikeluarkan.

Melalui unggahan di akun Threads pribadinya, @arnoldpo, pada Rabu (21/10/2026), Chef Arnold mempertanyakan alasan investor dapur MBG begitu mengejar keuntungan, sementara keberlanjutan program tersebut hingga lima tahun mendatang masih menjadi tanda tanya.

Pernyataan itu pun menjadi perhatian di tengah perbincangan mengenai bisnis dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk besarnya modal yang harus dikeluarkan mitra dan potensi pendapatan dari program tersebut.

Chef Arnold
Chef Arnold (Instagram @arnoldpo)

Chef Arnold Pertanyakan Sikap Investor Dapur MBG

Dalam unggahannya, Chef Arnold secara terbuka mempertanyakan sikap para investor yang dianggapnya terlalu berorientasi pada keuntungan.

"Kenapa segitu rakusnya para investors dapur MBG," tulis Chef Arnold dalam unggahan Threads-nya.

Ia kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan ketidakpastian mengenai kelanjutan program MBG dalam lima tahun ke depan.

Baca juga: Betrand Peto Diperiksa 8 Jam, Dicecar 54 Pertanyaan, Kasus Dugaan Pelecehan Masuki Babak Baru

Menurut Arnold, keinginan mendapatkan keuntungan dengan cepat menjadi hal yang patut dipertanyakan apabila para investor sendiri belum yakin apakah proyek tersebut akan terus berjalan dalam jangka panjang.

Kritik itu mengarah pada persoalan bagaimana investasi dapur MBG dijalankan dan bagaimana para mitra memandang keberlanjutan program pemerintah tersebut.

Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan kritis Chef Arnold terhadap orientasi keuntungan investor, bukan bukti bahwa seluruh investor dapur MBG memiliki perilaku yang sama.

Sebelumnya, Chef Arnold Juga Kritik Pengelolaan MBG

Sorotan terhadap investor tersebut bukan satu-satunya kritik Chef Arnold mengenai program MBG.

Sehari sebelumnya, ia juga menyampaikan kritik terkait skema pelaksanaan program, pengelolaan dapur, hingga prioritas penggunaan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam unggahannya pada Selasa (20/10/2026), Arnold mengibaratkan pelaksanaan MBG seperti restoran yang belum siap dikembangkan melalui sistem waralaba, tetapi justru dipaksakan berkembang secara besar-besaran.

Ia menilai program tersebut seharusnya memiliki sistem pengelolaan yang lebih terpusat, terkontrol, dan didukung standar operasional yang jelas.

Arnold juga menyoroti persoalan food waste atau makanan dan bahan pangan yang terbuang. Ia mengaku pernah turun langsung ke lapangan dan melihat bahan makanan segar berakhir menjadi sampah.

"Kenapa segregetan itu saya sama MBG? Saya keliling ke lapangan WASTE! SAMPAH! BAHAN SEGER PUN JADI SAMPAH. Itu duit pajak kita," tulisnya.

Menurut Arnold, persoalan pelaksanaan di lapangan perlu mendapat perhatian serius agar tujuan program yang dinilainya baik tidak terkendala oleh pengelolaan yang kurang optimal.

BGN Pernah Jelaskan Besaran Modal dan Potensi Pendapatan Investor

KABAR MBG - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam konferensi pers, di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
KABAR MBG - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam konferensi pers, di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). (KOMPAS.com/FIRDA JANATI)

Di tengah kritik mengenai keuntungan investor, Badan Gizi Nasional sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai skema pembiayaan dan kebutuhan modal mitra dapur MBG.

Dalam siaran pers pada 25 Februari 2026, BGN menyebut investasi awal untuk membangun fasilitas SPPG berkisar Rp2,5 miliar hingga Rp6 miliar, bergantung pada lokasi dan harga lahan.

BGN juga menjelaskan bahwa angka sekitar Rp1,8 miliar per tahun yang beredar di publik merupakan estimasi pendapatan kotor maksimal dari komponen insentif, bukan keuntungan bersih yang langsung diterima investor.

Angka tersebut masih harus memperhitungkan investasi awal, penyusutan aset, dan biaya operasional lainnya.

Dengan perhitungan tersebut, BGN memproyeksikan titik impas atau break-even point dalam kisaran 2 hingga 2,5 tahun.

Penjelasan ini menjadi konteks penting dalam memahami perdebatan mengenai keuntungan bisnis dapur MBG.

Besarnya modal, perkiraan pendapatan, biaya operasional, dan ketidakpastian keberlanjutan program merupakan faktor yang perlu diperhitungkan dalam menilai investasi tersebut.

Kritik Chef Arnold pun kembali mengangkat pertanyaan mengenai keseimbangan antara tujuan pelayanan gizi bagi masyarakat dan kepentingan bisnis para mitra.

Pada akhirnya, tata kelola yang transparan, pengawasan yang memadai, serta pengelolaan anggaran yang bertanggung jawab menjadi aspek penting agar program MBG dapat berjalan sesuai tujuannya.

(Tribunnewsmaker.com)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.