TRIBUNNEWS.COM – Pelatih Como, Cesc Fabregas, tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya usai memimpin timnya mengukir sejarah di Liga Champions.
Bermain di Stadion Giuseppe Sinigaglia, I Lariani tampil memukau dengan membantai raksasa Inggris, Manchester United lewat skor telak 4-1, Kamis (22/10/2026) dini hari WIB.
Laga baru berjalan dua menit, Nico Paz sudah membobol gawang Setan Merah lewat tembakan spekulasi.
Pada menit ke-49, ia menyodorkan umpan terobosan matang yang diselesaikan dengan dingin oleh Anastasios Douvikas untuk menggandakan keunggulan.
Nico Paz kemudian mengunci kemenangan Como pada menit ke-57 setelah berhasil memanfaatkan blunder fatal yang dilakukan gelandang MU, Carlos Baleba.
Sementara gol keempat Como diukir oleh sundulan Jacobo Ramon pada menit ke-76. Dan gol hiburan MU lahir dari Joshua Zirkzee pada menit ke-90+1.
Dengan hasil ini, Como mengoleksi 6 poin dari tiga laga awal Liga Champions. Sedangkan MU kian mempersulit lolos ke 16 besar usai baru memiliki 3 poin.
Berbicara kepada Sky Sport seusai laga, Fabregas menyebut hasil manis tersebut sebagai awal dari perjalanan panjang yang tengah dibangun Como.
"Ini adalah malam yang sangat istimewa bagi kami. Namun, ini baru langkah awal dari target besar yang ingin kami capai. Kita harus tetap membumi dan terus melangkah," ujar Fabregas, dikutip dari Calciocomo.
"Para pemain tampil luar biasa hari ini, tetapi perjuangan belum selesai karena laga berikutnya sudah menanti di hari Sabtu."
"Secara khusus, saya ingin mendedikasikan kemenangan bersejarah ini untuk Davide Baccarini, salah satu petugas kitman (perlengkapan) kami," tambahnya.
Baca juga: Hasil Akhir Como vs Manchester United di Liga Champions: Skor 4-1, MU Bikin Malu Premier League
Harmoni Proyek Como
Ditanya mengenai sejauh mana Como sanggup bersaing dengan tim-tim papan atas Eropa, mantan bintang Spanyol itu memilih untuk tetap bersikap realistis.
"Saya tidak tahu apakah kami bisa bersaing dengan semua tim. Yang terpenting adalah menjaga kerendahan hati. Kami selalu bersiap dan bertarung sekuat tenaga, seperti yang kami tunjukkan saat melawan Inter di Coppa Italia musim lalu," tutur Fabregas.
"Bagi saya, organisasi tim adalah kunci. Namun yang paling krusial adalah keyakinan para pemain. Menghadapi nama besar seperti Manchester United, ditambah fakta bahwa banyak pemain kami yang baru meraskan atmosfer Liga Champions, tekanan itu tentu ada. Namun, kepercayaan diri mereka membuat pertandingan berjalan sempurna," jelasnya.
Fabregas juga membeberkan alasan utamanya bertahan dan melatih di Como, mulai dari gantung sepatu hingga dipercaya menangani tim utama.
"Saya datang ke sini demi proyek klub dan untuk mengakhiri karier sebagai pemain. Saya kemudian dipercaya memegang tim Primavera. Dalam dunia pelatih, tidak ada yang diberikan secara cuma-cuma, apa pun visi Anda," kata Fabregas.
"Saya sangat beruntung bekerja bersama Pak Suwarso dan Mirwan Ludi. Mereka adalah sosok luar biasa yang memahami filosofi saya. Kami memiliki visi sepak bola yang sama, saling percaya, dan siap melangkah bersama dalam suka maupun duka."
Refleksi Peran False Nine di Barcelona
Di akhir sesi wawancara, Fabregas sempat bernostalgia mengenai peran false nine yang pernah ia perankan saat masih membela Barcelona.
"Saat itu saya bermain sebagai false nine. Saya sangat menyukai peran itu. Iniesta dan Xavi bermain sangat disiplin menjaga posisi, sementara saya dan Lionel Messi lebih leluasa membaca ruang kosong serta bergerak bebas saat menyerang."
"Kebebasan itulah yang memungkinkan kami menciptakan momentum ekstra di lapangan," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Ali)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.