Liputan6.com, Jakarta - Ibunda Manohara Odelia Pinot, Daisy Fajarina, didampingi kuasa hukumnya, mendatangi Bareskrim Polri, pada Selasa (13/10/2026). Kedatangannya guna mengadukan dugaan tindakan premanisme yang dialaminya di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Kuasa hukum Daisy, Erles Rareral, mengatakan bahwa pihak kepolisian telah menerima pengaduan tersebut. Ia berharap pihak yang berwajib segera menindaklanjuti laporan dan mengusut pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden itu.
"Laporan kita sudah diterima dengan baik, Puji Tuhan sudah diterima dengan baik, dan akan diproses menurut informasi Jumat atau Senin nanti akan dikabari mengenai perkembangan dari laporan ini," kata Erles usai membuat laporan.
Daisy mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat hendak mengambil dagangan dari tempat usahanya di sebuah gedung yang terletak di Kemang. Daisy menjelaskan, persoalan bermula ketika seorang pelanggan tetap memesan air minum sebanyak 15 boks dari restoran miliknya.
Untuk memenuhi pesanan tersebut, ia menghubungi pegawainya dan meminta agar barang disiapkan sebelum dikirimkan kepada pelanggan. Namun kurang dari setengah jam kemudian, pegawainya menghubungi Daisy dan menginformasikan bahwa air minum tersebut tidak boleh dikeluarkan karena harus mendapat izin dari pihak manajemen gedung.
"Lalu saya dengan yang seperti biasa kan saya hubungin pegawai saya di restoran, saya bilang, 'Tolong siapkan air 15 boks untuk beliau, untuk customer kami yang memang sudah regular memesan air di kami.' Terus nggak sampai setengah jam pegawai kami menghubungi Mama lagi, bilang, 'Bunda, airnya nggak boleh keluar. Harus ada izin dari manajemen,'" tutur Daisy.

Daisy lalu mendatangi langsung pihak gedung untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ia mengaku sudah berusaha meminta izin agar barang dagangan itu bisa dibawa keluar, terlebih restoran miliknya tidak lagi beroperasi selama hampir satu bulan sejak 2 Oktober akibat situasi pembongkaran gedung.
"Sesampainya saya di sana, saya tetap tidak diizinkan. Saya sampai memohon, 'Gimana kok ini namanya penyanderaan barang kan. Saya hanya, memang tugas kami, pekerjaan kami adalah restoran gitu loh, dan restoran kita ini udah hampir 1 bulan dari sejak tanggal 2 kita udah nggak operasi lagi karena situasi pembongkaran gedung dan lain-lain sebagainya. Sedikit sekali yang kita dapat income dari air ini, tapi kita harus menjaga relationship dengan customer kita kan,' gitu. 'Oh tetap tidak bisa,'" ungkapnya.
Daisy mengaku sempat menjelaskan bahwa pelanggan yang memesan air minum tersebut merupakan seorang aparat berpangkat tinggi. Namun, menurut pengakuannya, petugas keamanan tetap menolak mengizinkan barang keluar dengan alasan menjalankan tugas.
"Terus saya bilang, 'Maaf ini dengan segala rasa hormat, beliau ini juga aparat loh yang memesan air, bukan mau sombong atau bagaimana ya, gitu loh. Tapi aparat yang juga udah bintang lah,'. 'Oh kita nggak peduli mau bintang 10, kita hanya menjalankan tugas,' katanya," ujar Daisy.
Situasi memanas ketika Daisy mengaku direkam dan disebut sebagai penyusup saat berusaha membawa sendiri barang dagangannya. Ia merasa kecewa karena menganggap dirinya merupakan penyewa tempat atau tenant di gedung tersebut.
"Dan yang saya tidak terimanya sekali tuh, mereka kan mestinya kenal saya ya, mestinya kenal kita, kita tenant di situ gitu loh. Kok kita pakai divideoin, bilang ini penyusup, masuk tanpa izin gitu loh. Apa-apaan. Saya nenteng air sendiri untuk bawa keluar, pintunya ditutup. Sampai ya ada, ada insiden sedikit lah main dorong-dorongan sama security gitu," urainya.
Daisy juga mengaku tidak terima dengan sikap petugas keamanan yang dinilainya arogan. Ia merasa tidak mendapat perlakuan yang semestinya, terlebih dirinya merupakan seorang perempuan yang sudah berusia lanjut.
"Dia nggak ngelihat lagi saya sebagai orang tua, sebagai perempuan, nggak ada lagi, dan mereka benar-benar yang arogan banget yang nggak perduli. Gitu loh," lanjut Daisy.
Daisy mengungkapkan, peristiwa itu berlangsung selama beberapa jam. Ia awalnya menghubungi pegawainya sekitar pukul 18.48 WIB, kemudian memutuskan datang langsung ke lokasi sekitar pukul 19.30 WIB setelah mengetahui barang pesanannya tidak bisa dikeluarkan.
"Kejadiannya itu, pokoknya pemesanan Mama itu jam 6.45, eh sori 6.48 Mama hubungin pegawainya Mama. Karena dia bilang tidak bisa, akhirnya Mama putuskan untuk berangkat ke sana sekitar setengah 8. Sampai mungkin jam 10-an baru Mama bisa pulang dengan tangan hampa ya gitu loh," ungkapnya.
Menanggapi pengakuan kliennya, Erles menduga ada pihak yang bertindak seperti preman meski mengenakan seragam satuan pengamanan. Ia meminta kepolisian menelusuri perusahaan penyalur tenaga keamanan yang bertugas di lokasi, termasuk memeriksa legalitasnya.
"Mungkin kita minta aja dari Mabes Polri untuk melacak itu badan security yang kita cantumkan di situ. Apakah preman dipakaikan baju security? Karena kalau security yang terdidik bahasanya nggak seperti itu. Itu preman, preman banget. Penjaga di situ. Jadi dari bahasa dan sikap ya. Mabes Polri akan mengecek juga penyalur security itu, izin dari mereka. Itu kita akan minta ditindak," kata Erles.
Erles menambahkan, pihaknya telah melaporkan seorang perempuan berinisial J, pihak manajemen, serta sejumlah petugas keamanan yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Ia menyebut telah menyerahkan foto dan rekaman video sebagai bukti pendukung kepada kepolisian.
"Kita laporkan di sini Saudari J ya, dan kawan-kawan manajemennya ya, serta beberapa security itu. Dan kita sudah serahkan foto daripada anggota security tersebut, serta video ya, jadi sudah lengkap. Tinggal aja mereka yang mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang sangat-sangat memalukan dan mengecewakan," pungkas Erles.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.