TRIBUNPEKANBARU.COM, DUMAI - Sejumlah perempuan anggota Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Dumai kini tak lagi hanya berkutat dengan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Di tangan mereka, selembar kain putih disulap menjadi karya batik dengan motif khas Kota Dumai. Berawal dari pelatihan membatik yang digelar bersama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), para anggota TP PKK Dumai kini mampu memproduksi batik sendiri.
Karya tersebut kemudian dikenal sebagai Batik Dumai atau Batik Putri Tujuh, yang mengangkat berbagai motif terinspirasi dari alam pesisir dan budaya Melayu Kota Dumai.
Dari yang sebelumnya tidak bisa membatik, kini puluhan tangan perempuan Dumai terlihat lincah memainkan canting di atas kain putih
Bukan hanya menghasilkan kain bermotif indah, keterampilan tersebut juga mulai membuka peluang ekonomi baru bagi para pengrajinnya.
Ketua TP PKK Kota Dumai, Leni Ramaini, mengaku tidak menyangka pelatihan yang awalnya hanya ditujukan untuk memberikan keterampilan kepada anggota PKK kini berkembang menjadi kegiatan produktif.
Dirinya menjelaskan, pelatihan membatik tersebut diikuti 20 anggota TP PKK tingkat Kota hingga kecamatan dan dilaksanakan selama dua bulan.
"Awalnya pelatihan membatik diikuti sebanyak dua puluh peserta dari TP PKK Tingkat Kota Dumai dan Kecamatan. Mereka antusias mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh PHR selama dua bulan, pada 2023, Alhamdulillah peserta pelatihan mendapatkan transfer keterampilan dari tanah Jawa," katanya, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, keterampilan membatik yang diperoleh peserta kini mulai menjadi sumber pendapatan baru bagi anggota TP PKK. Bahkan Kini keahliannya dalam membatik jadi sumber pendapatan baru untuk meningkatkan ekonomi, khususnya anggota TP PKK.
Leni yang juga menjabat sebagai Ketua Dekranasda Dumai menyampaikan apresiasi kepada PHR atas dukungan yang diberikan.
Ia berharap dukungan terhadap pengembangan kreativitas masyarakat Dumai, dapat terus berkesinambungan sehingga keterampilan yang dimiliki masyarakat dapat memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi.
"Proses pembuatan Batik Dumai dilakukan di Aula Balai Khairul Anwar yang kini menjadi tempat produksi atau dapur Galeri Batik Dumai. Lokasinya berada di Jalan Putri Tujuh, kompleks perumahan Wali Kota Dumai. para anggota TP PKK memproduksi berbagai motif Batik Dumai," sebutnya.
Leni menerangkan proses pembuatan batik bermula dari Kain putih dibentangkan, kemudian para pengrajin mulai menorehkan malam menggunakan canting, dari tangan-tangan perempuan tersebut lahir berbagai motif yang membawa identitas Dumai.
Dirinya mengaku, nama batik Dumai sendiri itu bernama Putri Tujuh yang mana nama Putri Tujuh sendiri diambil dari legenda lokal yang sangat melekat dengan identitas Kota Dumai.
Ia mengatakan penamaan tersebut sengaja dipilih agar batik yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa cerita daerah.
"Kami ingin batik ini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa cerita dan makna dari daerah kita sendiri," terangnya
Sejumlah motif kini menjadi ciri khas Batik Putri Tujuh, di antaranya Pucuk Rebung yang melambangkan pertumbuhan dan harapan, Bunga Tanjung sebagai simbol keanggunan dan keharuman budi, serta Periuk Beruk atau Kantong Semar yang menggambarkan kelestarian alam pesisir.
Ada pula Selembayung, ornamen Melayu yang mencerminkan kemegahan dan adat istiadat masyarakat Dumai. Sementara motif utama yang dikembangkan adalah Motif Batik Sunting.
Motif tersebut melambangkan kecantikan, kelembutan dan kehormatan perempuan Melayu, sekaligus mencerminkan nilai kesopanan, kemuliaan dan martabat yang dijunjung dalam adat.
Sementara, Eva, pengurus TP PKK Dumai sekaligus koordinator Galeri Batik Dumai sebagai wadah batik Putri Tujuh mengaku, Untuk memperluas pemasaran, TP PKK Kota Dumai membuka Galeri Batik Dumai di pusat pertokoan Dumai Islamic Center (DIC), Jalan HR Subrantas Dumai dan juga di media sosial galeri batik Dumai.
Eva mengaku, dalam satu bulan, Galeri Batik Dumai bisa menjual hingga 100 lembar kain batik. Pembelinya tidak hanya masyarakat Dumai, tetapi juga warga dari luar daerah.
"Batik tersebut dibeli untuk kebutuhan pribadi, oleh-oleh khas daerah hingga pesanan dari sejumlah instansi dan perusahaan. Untuk harga, batik cap dijual sekitar Rp250 ribu per lembar, sedangkan batik tulis dibanderol sekitar Rp350 ribu per lembar," pungkasnya.
( Tribunpekanbaru.com / Donny Kusuma Putra )
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.