TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Tangis pecah di layar ponsel saat seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Cirebon, Jawa Barat akhirnya kembali berbicara dengan anaknya setelah 35 tahun terpisah.
Perempuan bernama Jaeni Tirya Sakrim itu terlihat menyeka air mata menggunakan tisu saat berbicara melalui video call dengan keluarga di Desa Hulubanteng, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Di seberang layar, anak dan kerabatnya bergantian menyapa, memperkenalkan anggota keluarga, hingga menunjukkan wajah cucu-cucunya yang selama ini belum pernah ditemuinya secara langsung.
Momen haru tersebut terekam dalam video yang dibagikan keluarga Jaeni.
Dalam percakapan itu, Jaeni juga kembali mengingat nama kedua orangtuanya, yakni Bapak Dirya dan Ibu Ruti.
Namun, keluarga kemudian menyampaikan bahwa keduanya telah meninggal dunia.
Baca juga: Berangkat 1991 Hilang 1994, Ini Kronologi PMI Cirebon Ditemukan di Arab Saudi setelah 35 Tahun
"Bapak Dirya sama Ibu Ruti udah meninggal, Bu. Udah almarhum," ujar salah satu anggota keluarga dalam percakapan tersebut, seperti dikutip Tribun, Selasa (29/9/2026).
Mendengar kabar itu, Jaeni langsung merespons dengan nada haru.
Percakapan kemudian berlanjut pada anak-anak dan cucu yang kini sudah bertambah.
Salah satu anggota keluarga memperlihatkan Abdul Rohim, Abdul Rohman, serta anak-anak mereka melalui kamera ponsel.
"Ini Rohim yang bantu, Bu. Ini Abdul Rohim, ini Abdul Rahman, ini anak-anaknya nih, cucu Ibu," kata anggota keluarga.
Keluarga juga beberapa kali meminta Jaeni untuk pulang.
"Bu, pulang dulu, Bu. Enggak kangen sama anak-anak?" tanya seorang kerabat.
Jaeni kemudian menjawab sambil menangis.
"Kangen... saking kangennya pengen ketemu," jawabnya.
Namun, Jaeni mengaku belum bisa pulang dalam waktu dekat.
Keluarga kemudian menjelaskan kepada perwakilan Indonesia di Arab Saudi yang ikut terhubung dalam komunikasi tersebut mengenai kondisi Jaeni.
Mereka meminta bantuan agar proses kepulangan Jaeni dapat dibantu.
"Iya, Pak. Cuma Ibu tadi tuh enggak bisa pulang sekarang, Pak. Katanya mau habisin kontrak dulu. Tadi katanya dua tahun lagi," ujar anggota keluarga kepada petugas.
"Minta tolong dibantu ya, Pak. Kasihan. Pengennya pulang, kumpul, cucu-cucunya pada kangen," lanjutnya.
Dalam video tersebut, pihak perwakilan Indonesia juga meminta Jaeni memperlihatkan kondisi fisiknya dari jarak jauh.
Jaeni kemudian berdiri dan memperlihatkan postur tubuhnya di depan kamera.
Keluarga pun kembali menyampaikan terima kasih atas bantuan dan informasi yang diberikan.
Bagi Abdul Rohim (38), video call tersebut bukan sekadar percakapan melalui layar ponsel.
Itu menjadi momen ketika ia akhirnya kembali melihat dan berbicara dengan ibu kandungnya setelah puluhan tahun tanpa kabar.
Rohim saat ini telah menikah dan memiliki dua anak.
Namun, ketika Jaeni pergi ke Arab Saudi pada 1991, Rohim masih berusia sekitar tiga tahun.
Selama 35 tahun, komunikasi antara ibu dan anak itu terputus.
Bahkan, Rohim mengaku sudah tidak mampu mengingat wajah asli ibunya.
"Kalau saya emang enggak tahu, wajah asli Ibu saya tuh enggak tahu, cuma tahu di foto. Udah lupa lah, gitu," ujar Rohim saat ditemui di rumahnya di Desa Hulubanteng, Senin (28/9/2026).
Menurut Rohim, pertemuan melalui video call itu berlangsung setelah keluarganya menerima informasi dari pemerintah desa mengenai seorang perempuan asal Cirebon yang sedang mencari keluarganya di Arab Saudi.
"Jadi waktu hari Minggu kemarin tuh, saya dikabarin sama Pemerintah Desa. Dia dapat kabar dari Kuwu Mekarsari, dari Kecamatan Waled. Dia ngabarin kalau rekannya di KBRI ngasih kabar bahwa ada warga Cirebon, Desa Hulubanteng, datang ke KBRI nyari keluarganya," kata Rohim.
Informasi yang disampaikan perempuan tersebut kemudian dicocokkan dengan data keluarga Rohim.
Jaeni menyebut dirinya memiliki tiga anak, yakni En Yulia, Abdul Rohman dan Abdul Rohim.
Ia juga menyebut alamat rumah keluarganya di Blok Paing, Desa Hulubanteng, dekat lapangan bola.
Nama kedua orangtuanya pun sama dengan yang diketahui keluarga.
"Ciri-ciri yang Ibu ceritain ke pihak KBRI tuh sama persis. Dia punya anak tiga, namanya En, Rohman, Rohim. Terus rumahnya di Blok Paing, Desa Hulubanteng, dekat lapangan bola. Orang tuanya namanya Ibu Ruti, Bapak Driya, persis," ucap Rohim.
Kecurigaan bahwa perempuan tersebut adalah ibunya semakin kuat setelah keluarga menerima foto paspor.
"Makanya, wah ini mah udah pasti kayaknya Ibu saya. Pas dia ngirim foto paspor, ternyata benar Ibu saya," jelasnya.
Beberapa hari kemudian, keluarga difasilitasi untuk melakukan video call.
Tangis pun pecah.
"Ya alhamdulillah, ternyata benar itu Ibu saya. Ibu juga ya kita nangis lah, nangis bahagia, karena udah 35 tahun enggak ada kabar," kata Rohim.
Jaeni berangkat ke Arab Saudi pada 1991 untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Tiga tahun pertama, komunikasi dengan keluarga masih berjalan.
Namun, pada 1994, hubungan tersebut terputus.
Saat itu, komunikasi masih mengandalkan telepon umum atau wartel.
"Karena dulu kan zaman dulu kalau telepon di wartel, di Babakan di sana. Terus tiba-tiba lost contact. Nomor yang di Arab tuh enggak bisa dihubungi, Ibu juga mungkin nyari ke sini enggak bisa dihubungi, makanya lost contact dari tahun '94," ujar Rohim.
Sejak saat itu, keluarga tidak lagi mendapatkan kabar tentang keberadaan Jaeni.
Rohim pun sempat berupaya mencari ibunya melalui sejumlah pihak.
Ia mengaku terakhir melakukan pencarian pada 2019, tetapi belum menemukan titik terang.
"Sempat nyari di lembaga-lembaga terkait. Terakhir 2019 saya udah usahain, tapi belum ada kabar," katanya.
Rohim juga pernah menitipkan surat kepada Dedi Mulyadi dan meminta bantuan Selly Andriany Gantina untuk mencari keberadaan ibunya.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Hingga akhirnya, kabar justru datang dari perwakilan Indonesia di Arab Saudi.
"Alhamdulillah mungkin sekarang Allah baru mempertemukan," ucap Rohim.
Dari komunikasi melalui video call, keluarga juga mengetahui bahwa Jaeni masih bekerja sebagai ART di Arab Saudi.
Menurut Rohim, ibunya bahkan masih berada di tempat majikan yang sama sejak pertama kali berangkat pada 1991.
"Keterangan Ibu sih kemarin pas saya tanyain, semenjak awal berangkat sampai sekarang katanya di satu tempat aja. Mungkin dulunya orang tuanya, sekarang anaknya," katanya.
Komunikasi keluarga dengan Jaeni saat ini masih dilakukan melalui telepon milik majikannya.
Jaeni sebenarnya ingin pulang.
Namun, berdasarkan cerita Rohim, kepulangannya belum dapat dilakukan karena anak majikannya sedang sakit dan masih membutuhkan pendampingan.
Selain itu, Jaeni disebut harus menunggu pekerja pengganti dan mengajarinya terlebih dahulu.
"Ibu tuh enggak bisa, katanya karena anak majikannya lagi sakit. Terus juga kan harus ada pembantu yang baru, harus diajarin dulu," ujarnya.
Jaeni kini diperkirakan berusia 58 atau 59 tahun.
Rohim berharap ibunya dapat segera pulang dan berkumpul bersama keluarga.
"Sebagai anak ya udahlah, udah sepuh, waktunya kumpul lagi sama anak. Kan anak juga udah lama ditinggal. Kita kumpul bareng, nikmati masa tua lah," katanya.
35 tahun berlalu membuat kehidupan ketiga anak Jaeni berubah.
Ketika Jaeni pergi, Rohim masih berusia sekitar tiga tahun.
Kini Rohim telah menikah dan memiliki dua anak.
Saudara kembarnya, Abdul Rohman, juga telah memiliki tiga anak.
Artinya, Jaeni kini telah memiliki lima cucu.
Kelima cucu tersebut selama ini belum pernah ditemuinya secara langsung.
Dalam video call, keluarga bahkan memperlihatkan cucu-cucu tersebut kepada Jaeni.
Rohim mengatakan, ibunya terlihat senang ketika melihat cucu-cucunya melalui layar ponsel.
"Ibu juga senang, katanya enggak sabar pengen nggendong," ujar Rohim.
Keluarga berharap pertemuan melalui layar ponsel itu segera berlanjut menjadi pertemuan langsung.
Rohim mengatakan, berdasarkan komunikasi terakhir, ibunya berencana pulang setelah Lebaran, setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya di Arab Saudi.
"Harapannya sih Ibu cepat segera pulang dengan selamat, sehat, terus bisa berkumpul sama keluarga, sama anak, sama cucu," katanya.
Kini, setelah 35 tahun hanya menyimpan kenangan dan foto lama, Rohim akhirnya kembali mendengar suara ibunya sekaligus melihat wajahnya melalui layar ponsel.
Pertemuan itu memang belum terjadi secara langsung.
Namun, bagi keluarga di Desa Hulubanteng, video call tersebut menjadi awal terbukanya kembali hubungan ibu dan anak yang terputus sejak 1994.
Seperti diketahui, ditinggal sang ibu saat usianya baru tiga tahun, Abdul Rohim (38) tumbuh dewasa tanpa mengetahui keberadaan perempuan yang melahirkannya.
Selama 35 tahun, kabar tentang ibunya, Jaeni Tirya Sakrim, terputus setelah perempuan asal Desa Hulubanteng, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, itu berangkat menjadi PMI di Arab Saudi pada 1991.
Jaeni akhirnya diketahui masih hidup setelah perwakilan Indonesia di Arab Saudi menerima informasi mengenai seorang perempuan asal Cirebon yang sedang mencari keluarganya.
Identitas tersebut kemudian dicocokkan dengan keterangan keluarga di Cirebon hingga akhirnya dipastikan bahwa perempuan itu adalah Jaeni, ibu Rohim.
Kini, keluarga tinggal menunggu kepulangan Jaeni ke Indonesia agar pertemuan setelah 35 tahun tidak lagi berlangsung melalui layar ponsel, tetapi benar-benar terjadi di rumah mereka di Desa Hulubanteng.(*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.