Liputan6.com, Jakarta - Investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan fakta penting situasi di jalur lengkung, sebelum KA 4B Argo Bromo Anggrek menabrak KA 5568A Commuter Line di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.


KA 4B awalnya berjalan langsung di Jalur III Stasiun Bekasi melewati sinyal keluar J12 dengan aspek hijau. Kemudian setelah melewati sinyal keluar J12 yang terletak di Km. 26+659, perjalanan KA 4B memasuki petak blok antara Stasiun Bekasi dengan Stasiun Bekasi Timur, menghadapi Sinyal Pembantu UB104 di Km 28+030 dan Sinyal Blok B104 di Km 28+440.


Sebelum Sinyal Pembantu UB104, terdapat jalan rel lengkung nomor IP.MC22D mulai lengkung (ML) Km 27+398.569 dan akhir lengkung (AL) Km 27+685.472 dengan radius lengkung 946 m.


Berdasarkan hasil wawancara dan rekaman percakapan, pada saat KA 4B melintas di petak jalan antara Stasiun Bekasi - Stasiun Bekasi Timur, Sinyal Blok B104 menunjukkan aspek merah.


"Untuk membuktikan perilaku dari aspek persinyalan pada saat kejadian, tim KNKT melakukan analisis data logger persinyalan Stasiun Bekasi - Stasiun Bekasi Timur serta simulasi pelayanan KA berjalan langsung keluar Jalur III Stasiun Bekasi dengan status track 104BT terokupasi untuk membuktikan perilaku konsisten dari aspek persinyalan," tulis KNKT dalam laporan investigasi kecelakaan perkeretaapian tabrakan antara KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.


Hasilnya adalah Sinyal Keluar J12 keluar Jalur III Stasiun Bekasi menunjukkan aspek berwarna hijau (semboyan 5) yang mengindikasikan 'berjalan'.


Sinyal Pembantu UB104 menunjukkan cahaya mendatar menyala berwarna putih (semboyan 9C3) yang mengindikasikan Sinyal Blok B104 aspek berwarna merah (semboyan 7).


Sinyal Blok B104 masuk Stasiun Bekasi Timur menunjukkan aspek berwarna merah(semboyan 7) yang mengindikasikan 'berhenti'.


Saat tim KNKT melakukan observasi lapangan, ditemukan bahwa KRL menggunakan windshield dengan material laminated safety glass, dan lokomotif menggunakan windshield dengan material polycarbonate. Kondisi saat ini ditemukan adanya banyak goresan wiper dan swirl mark pada permukaan windshield polycarbonate lokomotif.


Dari hasil pengamatan pada kabin lokomotif CC206, sumber cahaya lampu tampak lebih berpendar dengan penyebaran cahaya yang signifikan (light scattering).


Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kontras visual antara aspek sinyal dengan sumber cahaya lingkungan.


Pada kabin KRL TM6000, kondisi light scattering teridentifikasi lebih sedikit dengan visibilitas terhadap sinyal lebih jelas.


KA 4B berjalan langsung di Jalur III Stasiun Bekasi dan dijadwalkan berhenti untuk naik - turun penumpang di Stasiun Cirebon. Pada saat melewati Sinyal Keluar J12 Stasiun Bekasi, masinis KA 4B memperoleh aspek hijau yang mengindikasikan berjalan dengan kecepatan sesuai dengan rencana atau kecepatan operasi dan tidak ada informasi bahwa sinyal berikutnya (B104) akan menunjukkan aspek merah.


Dalam pemahaman masinis dan asisten masinis KA 4B terhadap aspek persinyalan tiga aspek, aspek sinyal hijau secara berurutan akan diikuti oleh aspek hijau atau, kemungkinan terburuknya, menunjukkan aspek kuning, sedangkan aspek merah yang mengindikasikan berhenti selalu didahului oleh aspek kuning sebagaiindikasi untuk berjalan hati-hati.


Hal ini berdasarkan hasil wawancara, pemahaman terhadap perilaku persinyalan ini diperoleh dari pendidikan, pelatihan, dan pengalaman selamamenjadi Awak Sarana Perkeretaapian (ASP).


Lokasi sinyal blok B104 terletak setelah lengkung nomor IP.MC22D dan baru terlihat dari jarak 410 m sebelum sinyal, sehingga tidak memenuhi jarak tampak minimum 600 m yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 44 Tahun 2018 tentang Persyaratan Teknis Peralatan Persinyalan Perkeretaapian.


Untuk menambah jarak tampak tersebut, dipasang Sinyal Pembantu UB104 yang menunjukkan indikasi aspek pada sinyal utamanya, yaitu Sinyal Blok B104.


Dari hasil pengamatan lapangan diketahui bahwa Sinyal Pembantu UB104 menggunakan lampu bohlam LED berwarna putih yang disusun berjajar 5 (lima) buah dengan aspek vertikal, diagonal dan horisontal.


Pada malam hari, cahaya lampu dari UB104 sulit dibedakan dengan pencahayaan dari kawasan permukiman karena banyaknya lampu dengan warna dan intensitas yang serupa di sekitar lokasi tersebut.


Selain itu, kondisi kaca depan kabin lokomotif yang terdapat goresan wiper dan swirl mark menyebabkan pendaran cahaya berlebih (light scattering) juga turut mengurangi visibilitas Sinyal Pembantu UB104, sehingga aspek yang ditampilkan menjadi lebih sulit diidentifikasi dari jarak yang memadai.


 


Pemahaman yang dimiliki masinis dan asisten masinis KA 4B setelah melewati aspek hijau pada Sinyal Keluar J12 Stasiun Bekasi berpengaruh terhadap alokasi perhatian mereka.


Dengan adanya pemahaman bahwa sinyal berikutnya masih menunjukkan aspek yang mengizinkan untuk berjalan dan tidak adanya jadwal berhenti sampai dengan Stasiun Cirebon, perhatian masinis dan asisten masinis KA 4B cenderung lebih terarah pada informasi yang mendukung pemahaman tersebut.


Akibatnya, aspek yang ditunjukkan oleh Sinyal Pembantu UB104 berpotensi untuk tidak menjadi pusat perhatian bagi masinis, sehingga adanya aspek sinyal yang berbeda dari pemahaman masinis dan asisten masinis KA 4B menjadi tidak terantisipasi.


Kombinasi antara pemahaman terhadap perilaku urutan aspek persinyalan, berkurangnya visibilitas Sinyal Pembantu UB104 pada malam hari, serta adanya light scattering pada windshield lokomotif menurunkan efektivitas Sinyal Pembantu UB104 dalam menambah jarak pandang Sinyal Blok B104.


Hal ini berpotensi menurunkan situational awareness masinis dan asisten masinis KA 4B terhadap posisi dan aspek sinyal, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kegagalan dalam mengidentifikasi aspek yang ditampilkan Sinyal Pembantu UB104.


Dengan tidak teridentifikasinya aspek Sinyal Pembantu UB104, aspek yang ditampilkan oleh Sinyal Blok B104 merupakan satu-satunya informasi yang dimiliki masinis bahwa blok di depannya tidak aman dilalui oleh KA 4B.


"Oleh karena itu, masinis baru melakukan pengereman full service setelah melihat aspek Sinyal Blok B104. Apabila aspek Sinyal Pembantu UB104 dapat teridentifikasi dengan baik, maka Masinis KA 4B dapat melakukan upaya pengereman lebih awal dan dampak dari kecelakaan dapat berkurang," beber KNKT.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.