Liputan6.com, Jakarta - Nyeri bisa muncul kapan saja dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain obat pereda nyeri yang dijual bebas, beberapa tanaman herbal dan bahan alami juga telah digunakan selama ratusan tahun untuk membantu meredakan rasa sakit.
Jahe, kunyit, cengkeh, peppermint, hingga lavender termasuk bahan alami yang berpotensi membantu mengelola nyeri. Sejumlah penelitian telah menguji manfaatnya, meski kekuatan bukti ilmiah untuk setiap bahan berbeda-beda.
Dikutip dari Medical News Today yang telah ditinjau secara medis oleh Dominique Fontaine, BSN, RN, HNB-BC, HWNC-BC pada Kamis, 17 September 2026, terdapat 9 pilihan alami yang dapat digunakan untuk membantu mengelola nyeri.
Jahe atau Zingiber officinale berpotensi menjadi pereda nyeri alami.
Penelitian pada 2017 menemukan bubuk jahe sama efektifnya dengan ibuprofen dalam mengendalikan nyeri setelah operasi.
Penelitian lain menunjukkan konsumsi 2 gram jahe per hari dapat sedikit mengurangi nyeri otot akibat latihan resistensi dan berlari jika dikonsumsi setidaknya selama lima hari.
Jahe juga diduga dapat membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi peradangan akibat olahraga.
Kunyit mengandung kurkumin, senyawa aktif yang memiliki sifat pereda nyeri dan antiperadangan.
Tinjauan pada 2021 menyebut kurkumin dapat mengurangi nyeri dengan tingkat efektivitas yang serupa dengan obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID.
Namun, peneliti merekomendasikan kunyit sebagai terapi tambahan bersama NSAID, bukan sebagai pengganti obat tersebut.
Kunyit dapat ditambahkan ke dalam makanan, smoothie, atau jus.
Cengkeh telah lama digunakan sebagai pengobatan rumahan untuk membantu meredakan sakit gigi.
Penelitian pada 2021 menemukan minyak cengkeh memiliki kemampuan mengurangi nyeri yang sebanding dengan es saat anak menjalani penyuntikan di dalam rongga mulut.
Minyak cengkeh juga ditemukan lebih kuat dibandingkan gel lignokain, yaitu anestesi lokal.
Peppermint berasal dari tanaman Mentha piperita L. dan mengandung senyawa aktif seperti mentol, carvacrol, serta limonene.
Sejumlah penelitian menunjukkan peppermint memiliki efek antiperadangan, antimikroba, dan pereda nyeri.
Minyak peppermint yang telah diencerkan juga secara tradisional digunakan untuk membantu meredakan sakit kepala tegang dengan cara mengoleskannya pada pelipis dan dahi.
Minyak esensial lavender juga berpotensi membantu meredakan nyeri.
Penelitian pada 2023 menemukan bahwa menghirup minyak lavender atau mengoleskannya pada kulit dapat secara signifikan mengurangi nyeri saat seseorang menjalani pemasangan jarum ke arteri.
Sejumlah penelitian pada hewan juga menunjukkan lavender memiliki efek pereda nyeri, antiperadangan, dan antioksidan.
Rosemary atau Rosmarinus officinalis L. berpotensi membantu mengatasi sakit kepala serta nyeri otot dan tulang.
Rosemary juga dikaitkan dengan kemampuan mengurangi peradangan, merelaksasi otot polos, dan mengurangi nyeri pada orang yang mengalami putus obat golongan opium.
Tinjauan yang lebih baru menyebut minyak rosemary mungkin bermanfaat dalam penanganan beberapa kondisi, termasuk kecemasan, depresi, penyakit Alzheimer, epilepsi, dan penyakit Parkinson.
Minyak eucalyptus yang berasal dari tanaman Eucalyptus berpotensi membantu mengurangi nyeri, pembengkakan, dan peradangan.
Penelitian pada 2022 menemukan bahwa menghirup minyak eucalyptus selama lima menit, tiga kali sehari selama satu bulan, dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan rheumatoid arthritis.
Capsaicin merupakan senyawa yang terdapat dalam cabai dan dapat digunakan untuk membantu meredakan nyeri.
Penelitian pada 2021 menemukan capsaicin yang digunakan secara topikal efektif mengurangi nyeri neuropatik.
Senyawa ini diduga bekerja dengan mengurangi zat pembawa sinyal nyeri dari sel saraf di area tubuh yang mengalami nyeri.
Penggunaan capsaicin pada kulit dapat menimbulkan sensasi terbakar ringan atau kesemutan.
Feverfew merupakan tanaman obat yang secara tradisional digunakan untuk mengatasi migrain, rheumatoid arthritis, sakit gigi, dan sakit perut.
American Migraine Foundation menyebut hasil penelitian mengenai efektivitas feverfew masih beragam. Namun, tanaman ini kemungkinan membantu mencegah migrain.
Penelitian pada 2023 juga menunjukkan feverfew mungkin memiliki efek antiperadangan, antioksidan, dan neuroprotektif.

Meski berasal dari bahan alami, tanaman herbal dan minyak esensial tidak selalu bebas risiko. Minyak esensial harus diencerkan sebelum digunakan pada kulit dan tidak boleh ditelan karena dapat bersifat toksik.
Beberapa tanaman herbal dan suplemen juga dapat menimbulkan efek samping atau berinteraksi dengan obat tertentu. Oleh sebab itu, konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan minyak esensial, tanaman herbal, atau suplemen baru, terutama jika sedang mengonsumsi obat.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.