TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Setiap kesuksesan tidak akan didapat tanpa perjuangan. Peribahasa tersebut menggambarkan sosok Esti Denni Rahmawati, produsen gamis dan hijab asal Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.
Esti dikenal sebagai pengusaha fesyen cukup tersohor dengan brand fesyen yang digeluti bernama "Aude Hijab Collection".
Market pasar produknya sudah tembus ke kota-kota besar di Indonesia. Mengandalkan karakteristik model karya sendiri dengan harga relatif terjangkau, namun kualitas tidak kaleng-kaleng.
Perempuan 38 tahun itu mampu membuktikan bahwa penduduk pesisir Jepara tidak hanya dikenal dengan kerajinan ukir dan tenun saja. Tetapi bisa juga dikenal dengan karya-karya lain yang bernilai jual, seperti halnya dunia fesyen meski sekadar produk gamis dan hijab.
Sembilan tahun sudah Esti membangun bisnis fesyennya dari titik nol hingga dikenal luas.
Sesuai namanya Aude Hijab Collection, usaha yang dibangun Esti pada mulanya hanya bergerak di bidang produksi hijab.
Lambat lahun usahanya tumbuh hingga pengembangan merambah pada produksi gamis.
Sistem penjualannya dilakukan dengan memanfaatkan sosial media hingga menjangkau pasar lebih luas. Termasuk sistem live streaming sosial media sebagai andalan penjualan produk secara online.
Koleksi hijab dan gamis Esti dibandrol dengan harga ekonomis. Dia mengenalkan sistem pendekatan untuk mengenalkan produk kepada customer dengan menawarkan harga jual yang bersahabat, namun tidak mengecewakan dalam segi kualitas.
Harga hijab Aude Hijab Collection dibandrol mulai dari Rp 10.000 - 25.000 per pcs. Sedangkan harga jual gamis mulai dari Rp 35.000 - 120.000 per pcs.
Baca juga: Bus Tunas Muda Terbakar di Tol Semarang - Batang, 15 Penumpang Berhamburan Selamatkan Diri
"Market pasar kita memang sasarannya masyarakat menengah ke bawah. Kalau kita bersaing dengan brand-brand fesyen terkenal akan susah, karena butuh modal besar. Kita mainnya di kalangan menengah ke bawah saja, dan Alhamdulillah pemasaran sudah menjangkau daerah-daerah di Indonesia," terangnya, Sabtu (12/9/2026).
Siapa sangka, di balik kesuksesan bisnis usaha gamis dan hijab Esti dimulai dari sebuah keterpurukan. Keadaan di mana titik terendah justru menjadi motivasi besar dalam membangun sebuah bisnis.
Pada mulanya Esti dan suami meneruskan sebuah usaha turun temurun keluarganya yang bergerak di bidang produksi gula merah.
Di generasi suaminya, usaha gula merah itu sempat berjalan baik. Krisis ekonomi yang terjadi pada era 1997-1998 menggoyahkan usaha gula merah yang sudah dibangun puluhan tahun secara turun-temurun.
Usaha itu pun sempat jatuh bangun hingga akhirnya gulung tikar. Tempat produksi gula merahnya ditutup permanen karena lesunya pasar, bahkan usahanya terus merugi.
"Waktu itu benar-benar down, usaha rugi dan akhirnya tutup permanen. Padahal itu usaha warisan keluarga, namun keadaan yang memaksa kami menutup usaha gula merah," tuturnya.
Esti pun sempat berhenti untuk menata kembali ekonomi keluarga yang sempat terpuruk.
Beberapa waktu setelahnya, Esti dan suaminya mencoba bangkit dengan memulai usaha baru sebagai produsen ayam petelur.
Usaha baru Esti pada mulanya berjalan lancar dengan modal yang disertakan mencapai kurang lebih Rp 100 juta.
Setelah tiga tahun berjalan, nasib baik belum menghampiri Esti dan keluarga. Usaha ayam petelur yang dirintisnya kembali gulung tikar.
Semua modal yang disertakan ludes tanpa sisa. Saat itu, dia dan keluarga kembali terpuruk untuk kedua kalinya.
"Waktu usaha ayam petelur tutup setelah tiga tahun, bingung mau usaha apa lagi. Sampai berpikir apa enggak cocok jadi pengusaha. Waktu itu kami berhenti dulu, karena modalnya juga habis," ujar dia.
Sekiranya pada 2017, Esti mencoba memberanikan diri untuk memulai bisnis baru di bidang produksi fesyen.
Kala itu, dia membeli lembaran kain dengan modal Rp 100 ribu.
Kain tersebut dijahit menjadi beberapa pcs hijab karya sendiri dan ditawarkan ke teman terdekat.
Hijab karyanya menuai respons positif. Perlahan mulai dikenal di kalangan teman sebaya, juga tetangga sekitar di lingkup desa.
Hasil penjualan di awal produksi digunakan untuk mengembangkan jumlah produksi hijabnya. Perlahan dan pasti, karya hijab dengan brand Aude Hijab Collection mulai dikenal luas.
Pemasarannya perlahan merambah di tingkat kabupaten dan beberapa daerah sekitar Muria Raya.
"Perjuangan dalam merintis usaha ini benar-benar dari nol. Waktu itu sudah tidak ada modal, ya modalnya nekat mengandalkan apa yang kita punya. Kebetulan bisa menjahit, mampunya waktu itu beli kain lembaran atau meteran, saya jahit sejadinya," ucapnya.
Esti pun mulai menggaet beberapa penjahit lokal dalam pengembangan bisnisnya. Dari sebelumnya fokus pada produksi hijab, kini sudah merambah ke produksi gamis.
Saat ini, Esti dibantu 20 penjahit lokal untuk memenuhi pesanan 200-300 gamis dan 10-20 kodi per hari.
Selain itu, dia juga menggandeng tujuh karyawan milenial dan gen z untuk membantu proses pemasaran secara online melalui sosial media.
"Saat ini Alhamdulillah juga menerima pesanan baju tidur juga. Semakin rame, hijab jalan, gamis jalan, untuk baju tidur hanya kalau ada pesanan. Untuk pesanan masih di lingkup dalam negeri saja, belum sampai ke luar negeri," tutur dia.
Dia berharap, usahanya yang ketiga kali ini bisa terua berkembang dan bisa menjangkau pasar global. (Sam)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.