Liputan6.com, Jakarta - Industri film semakin berkembang bersamaan dengan teknologi yang tumbuh pesat. Kini AI Content Fest 2026 hadir oleh CapCut sebagai kompetisi dan festival film berbasis kecerdasan buatan (AI) tingkat nasional.


Dalam puncaknya yang dihelat pada Jumat lalu (11/9/2026) di CGV Grand Indonesia, Jakarta, 10 film pendek terbaik telah dipilih untuk ditayangkan di layar lebar dan memperebutkan penghargaan.


Jessica Wowor selaku Head of Content Operations dari CapCut Indonesia mengungkapkan bahwa CapCut AI Contest hadir sebagai ruang bagi para kreator Indonesia untuk menunjukkan bakatnya kepada dunia.


“Kami melihat talenta dan kreator Indonesia sangat potensial, terutama para kreator yang terus bertumbuh pesat. Namun, ruang yang dimiliki masih begitu terbatas. Karena itu, melalui CapCut AI Contest, kami ingin memberikan ruang lebih banyak kepada kreator Indonesia untuk mewujudkan visi dan ide mereka,” ungkapnya.


Tidak hanya sebagai kompetisi, Jessica pun berharap festival tersebut dapat menjadi sebuah kesempatan bagi para pelaku kreatif untuk terus mengekspresikan idenya.


“Kami mencoba memberikan bukan hanya sekadar kompetisi. CapCut ingin menghadirkan ruang yang lebih besar untuk exposure, memberikan kesempatan kepada kreator untuk mengekspresikan diri, berkolaborasi, dan bereksperimen,” ujar dirinya.



Buka Akses ke Industri


Jessica Wowor berbicara dalam diskusi panel di puncak CapCut AI Content Fest di Jakarta, Jumat (11/9/2026). (dok CapCut Indonesia)
Jessica Wowor berbicara dalam diskusi panel di puncak CapCut AI Content Fest di Jakarta, Jumat (11/9/2026). (dok CapCut Indonesia)

Selain itu, wadah tersebut pun dijadikan kesempatan oleh CapCut untuk membuka askes kepada para pelaku industri kreatif yang diharapkan dapat mengarahkan para kreator pemula untuk berkembang dengan baik.


“Kami tidak hanya memberikan ruang, tetapi juga kesempatan bagi kreator untuk mendapatkan insight secara langsung dari para pelaku industri kreatif dan profesional. Dengan begitu, skill dan potensi yang mereka punya bisa benar-benar terarah,” tutur Jessica.



Karya Tetap Butuh Rasa


Meski menggunakan teknologi AI yang canggih, Jessica pun mengatakan bahwa karya yang dapat menyentuh hati adalah karya yang memiliki rasa dari sang pencipta.


“Hal yang paling kami pelajari dalam penyelenggaraan CapCut AI Contest adalah sebuah karya yang bisa menyentuh hati merupakan karya yang memiliki rasa,” katanya.


Kreator tetap fokus dalam mengembangkan ide cerita, dan teknologi AI dalam CapCut yang mempermudah proses editing serta pembuatan konten. “Kami memberikan kesempatan kepada kreator untuk fokus mengembangkan ide dan storytelling, sementara proses editing atau pembuatan konten bisa menjadi lebih mudah dan accessible,” tambahnya.



Pesan untuk Para Kreator


Ia pun mengungkapkan pesannya untuk para kreator di luar sana agar terus mempertahankan identitas di setiap karya yang dibuatnya.


“Jangan sampai kehilangan identitas. Jangan karena ini AI terus pengennya buat yang futuristik, biru-biru semua, robotik gitu ya. Jangan kayak gitu karena identitas kalian di dalam sebuah karya itu penting,” pungkasnya.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.