Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI – Sejumlah gempa bumi tercatat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengguncang kawasan Selat Sunda hingga selatan Jawa pada 8–14 September 2026.
Kekuatan gempa bervariasi, mulai dari magnitudo 2 hingga terbesar M5,9. Gempa tercatat di sekitar Selat Sunda, Banten, Sukabumi, selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Gempa terbesar terjadi 12 September 2026 pukul 04.23.56 WIB dengan magnitudo 5,9, berpusat sekitar 49 kilometer barat laut Jakarta dengan kedalaman 376 kilometer. Guncangannya turut dirasakan di Sukabumi.
Aktivitas kembali tercatat di selatan Jawa pada 13 September. Di antaranya gempa M2,6 di selatan Kabupaten Bandung, M2,8 di tenggara Kabupaten Sukabumi, serta M4,3 yang berpusat sekitar 83 kilometer selatan Kabupaten Sukabumi dan dirasakan hingga Cianjur serta Bandung Barat.
Pada 14 September, BMKG mencatat gempa M5,2 di tenggara Kabupaten Malang dengan kedalaman 10 kilometer.
Terbaru, gempa M2,9 terjadi pukul 11.16.32 WIB di sekitar 89 kilometer selatan Kota Sukabumi dengan kedalaman 23 kilometer.
Baca juga: Gempa M5,9 Guncang Selat Sunda dan Selatan Jawa, Rentetan Getaran Berlanjut Hingga Sukabumi
Rentetan gempa tersebut menunjukkan aktivitas kegempaan masih terjadi di kawasan selatan Jawa, dengan kedalaman yang bervariasi dari dangkal hingga dalam.
Pakar Gempa Bumi dan Tsunami Dr. Daryono menjelaskan, gempa 12 September 2026 pukul 04.23.56 WIB dengan magnitudo 5,9, berpusat sekitar 49 kilometer barat laut Jakarta hingga getarannya terasa di Sukabumi dan Bandung
Kuatnya getaran yang dirasakan di wilayah selatan Jawa meski episenter gempa berada di utara Jakarta berkaitan dengan jalur perambatan gelombang seismik melalui lempeng tektonik atau slab penunjaman.
Lempeng Indo-Australia yang menunjam dari arah selatan ke utara di bawah Pulau Jawa hingga Laut Jawa menjadi salah satu jalur efektif bagi gelombang gempa untuk merambat.
"Penjelasannya terletak pada jalur perambatan gelombang seismik melalui lempeng tektonik atau slab penunjaman. Lempeng Indo-Australia miring menunjam dari arah selatan ke arah utara di bawah Pulau Jawa hingga Laut Jawa," ujar Daryono.
Menurut Daryono, gelombang gempa dapat merambat lebih cepat dan efisien melalui batuan padat pada lempeng samudera yang menunjam. Jalur tersebut membuat energi gempa dapat diteruskan hingga wilayah selatan Jawa seperti Sukabumi, Cianjur, dan Bandung. Sebaliknya, gelombang yang menuju permukaan di sekitar Jakarta harus melewati lapisan mantel dan sedimen lunak yang dapat meredam sebagian energi.
"Gelombang gempa merambat jauh lebih cepat dan efisien melalui batuan padat lempeng samudera yang menunjam menuju ke arah selatan seperti Sukabumi, Cianjur, Bandung. Sebaliknya, gelombang yang menuju ke permukaan langsung di wilayah Jakarta harus melewati lapisan mantle dan sedimen lunak yang akan meredam sebagian energi gempa," jelasnya. (*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.