Liputan6.com, Jakarta - Slow living di tengah bisingnya Jakarta mungkin terdengar seperti sesuatu yang tidak mudah dilakukan, mengingat kota ini seolah selalu bergerak lebih cepat daripada para penghuninya.
Di tengah ritme seperti itu, banyak orang beranggapan bahwa gagasan tentang slow living terdengar seperti sesuatu yang hanya mungkin dilakukan jauh dari gedung-gedung tinggi dan kemacetan ibu kota.
Bayangan slow living selama ini memang kerap identik dengan kehidupan di pedesaan, rumah yang dikelilingi tanaman, udara segar, serta hari-hari tanpa notifikasi pekerjaan yang terus berdatangan.
Kenyataannya, tidak semua orang bisa meninggalkan kota demi menjalani kehidupan yang lebih tenang. Banyak orang justru membangun karier, keluarga, dan kesehariannya di kota besar seperti Jakarta, melansir Vanilla Papers, Jumat (11/9/2026).
Pertanyaannya, mungkinkah menjalani slow living tanpa harus benar-benar memperlambat seluruh kehidupan? Jawabannya mungkin terletak pada cara seseorang memandang waktu.
Slow living bukan berarti berhenti bekerja, menolak semua kesibukan, atau menghabiskan hari tanpa melakukan apa pun. Gaya hidup ini lebih dekat dengan upaya memilih apa yang benar-benar penting dan tidak membiarkan setiap menit dikendalikan oleh tuntutan untuk selalu produktif.
Jakarta mungkin tidak bisa menawarkan kesunyian seperti di pedesaan. Suara kendaraan, jadwal padat, dan layar ponsel tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ruang ketenangan masih bisa ditemukan dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.
![Meski Tinggal di Kota Besar, Hati Tetap Tenang dengan 5 Trik Slow Living Ini [Dok/freepik.com] Yuk, intip 5 trik yang bisa kamu coba untuk hidup slow living meski kamu tinggal di perkotaan. [Dok/freepik.com]](https://cdn.shengboglobal.com/Upload/File/2026/09/11/1700245671.webp)
Meromantisasi setiap sudut rumah dapat menjadi titik awal untuk membangun ritme yang lebih pelan di tengah Jakarta. Setelah menghabiskan waktu menghadapi jalanan, pekerjaan, dan berbagai tuntutan sosial, pulang ke ruang yang nyaman bisa memberikan kesempatan untuk benar-benar beristirahat.
Tidak diperlukan rumah besar atau interior yang sempurna untuk menciptakan suasana tersebut. Ruang yang lebih rapi, barang-barang yang dipilih karena benar-benar disukai, serta sedikit sentuhan tanaman dapat membuat rumah terasa lebih personal dan menenangkan.
Kehadiran warna hijau juga bisa menjadi cara sederhana untuk menghadirkan suasana yang lebih dekat dengan alam. Apartemen tanpa balkon pun tetap dapat memiliki tanaman kecil di dekat jendela atau sudut ruang yang mendapat cukup cahaya.
![Slow Living di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta, Mungkinkah? Slow Living di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta, Mungkinkah? [Dok/freepik.com]](https://cdn.shengboglobal.com/Upload/File/2026/09/11/1700253309.webp)
Kemacetan tentu paling sulit dipisahkan dari kehidupan Jakarta. Waktu perjalanan yang panjang sering terasa seperti bagian hari yang terbuang, padahal perjalanan dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk berhenti sejenak dari tuntutan pekerjaan.
Podcast, audiobook, atau musik yang disukai dapat mengubah perjalanan menjadi waktu yang lebih personal. Sebagian orang mungkin memilih menikmati perjalanan tanpa terus-menerus memeriksa pesan dan notifikasi, atau social media detox.
Mencari ruang tenang di tengah kota turut menjadi bagian dari slow living. Jakarta memiliki taman, perpustakaan, kawasan pejalan kaki, hingga kafe yang bisa menjadi tempat untuk mengambil napas dari rutinitas.
Menghabiskan akhir pekan tidak selalu berarti harus memenuhi jadwal dengan berbagai agenda. Duduk membaca buku di kafe, berjalan santai di taman, atau mengunjungi lingkungan yang belum pernah dijelajahi dapat menghadirkan pengalaman baru tanpa harus pergi jauh.
![Slow Living di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta, Mungkinkah? Slow Living di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta, Mungkinkah? [Dok/freepik.com]](https://cdn.shengboglobal.com/Upload/File/2026/09/11/1700255252.webp)
Slow living berarti belajar melepaskan kebutuhan untuk melakukan semuanya sekaligus. Multitasking sering membuat hari terasa sangat sibuk, tetapi belum tentu menghasilkan banyak hal yang benar-benar selesai.
Mengerjakan satu tugas dengan fokus, mengambil waktu makan tanpa menatap layar, hingga membatasi notifikasi pekerjaan dapat menjadi cara untuk menghadirkan perhatian penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Malam hari juga dapat menjadi kesempatan untuk menutup ritme Jakarta yang panjang. Setelah pekerjaan selesai, tubuh dan pikiran tidak selalu membutuhkan hiburan digital tanpa henti. Membaca buku, menulis jurnal, merawat diri, atau melakukan hobi yang melibatkan tangan dapat memberikan pengalaman yang berbeda dari infinite scrolling.
Kegiatan kreatif seperti menggambar, memasak, membuat kerajinan, atau memanggang sesuatu dapat menghadirkan kepuasan sederhana. Lakukan kegiatan tersebut dengan rasa suka yang murni tanpa tuntutan untuk menjadi produktif atau menghasilkan sesuatu yang sempurna.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.