BANJARMASINPOST.CO.ID- Menjadi atlet bukan hanya tentang menjalani latihan rutin, mengejar target, dan menjaga stamina. Di balik tuntutan untuk terus meningkatkan performa, atlet juga perlu memahami bagaimana merawat tubuh agar tetap sehat dan mampu mendukung prestasi dalam jangka panjang.
Hal itu menjadi perhatian tim Universitas Lambung Mangkurat (ULM), khususnya dalam pembinaan atlet perempuan usia remaja di lingkungan JPOK ULM.
Pada usia remaja, tubuh masih berada dalam masa pertumbuhan. Di saat bersamaan, tuntutan latihan olahraga terus berjalan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan energi, pola makan, asupan cairan, waktu istirahat, hingga kesehatan menstruasi menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang atlet putri.
“Atlet tidak hanya membutuhkan latihan fisik, tetapi juga perlu memahami apa yang dibutuhkan tubuhnya. Terlebih pada atlet perempuan usia remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan, kebutuhan gizi dan kesehatan tubuh harus mendapat perhatian,” ujar Siti Aisyah Solechah, SKG, MSi, salah satu penggagas kegiatan edukasi kesehatan dan gizi bagi atlet perempuan usia remaja di lingkungan JPOK ULM, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: PDWA ULM Tingkatkan Kapasitas Petani Cerbon, Begini Deretan Materinya
Edukasi tersebut merupakan bagian dari Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) ULM Tahun 2026. Kegiatan melibatkan atlet perempuan dari lingkungan pendidikan olahraga serta sejumlah klub olahraga, dengan dukungan JPOK ULM dan mitra klub.
Program digagas oleh Siti Aisyah Solechah, SKG, MSi, bersama Muhammad Irwan Setiawan, SGz, MGz dan Fahrini Yulidasari, SKM, MPH, dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ULM. Sejumlah mahasiswa turut terlibat membantu pelaksanaan kegiatan.
Suasana edukasi dibuat tidak berlangsung satu arah. Para peserta diajak berdiskusi mengenai persoalan yang mereka temui dalam keseharian sebagai atlet.
Mulai dari makanan yang tepat sebelum latihan, waktu makan, kebutuhan minum, hingga dampak ketika tubuh kekurangan energi menjadi bahan pembahasan. Peserta juga diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi tubuh mereka selama menjalani latihan.
Menurut Siti Aisyah, pemahaman semacam itu penting karena pola latihan yang padat terkadang membuat atlet lebih fokus pada pencapaian performa dibandingkan kebutuhan tubuhnya.
“Jangan sampai keinginan untuk berprestasi justru membuat atlet mengabaikan kesehatan. Performa yang baik harus dibangun dari tubuh yang sehat, asupan yang cukup, pemulihan yang baik, dan pemahaman terhadap kondisi tubuh sendiri,” katanya.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah kesehatan menstruasi dan citra tubuh. Bagi atlet putri, kedua hal tersebut bukan persoalan kecil. Aktivitas olahraga yang padat membuat mereka perlu lebih mengenali perubahan tubuh sekaligus memahami kebutuhan yang menyertainya.
Edukasi yang diberikan tim ULM pun tidak berhenti pada persoalan nutrisi. Peserta juga diajak memahami pemulihan setelah latihan, kesehatan menstruasi, citra tubuh, kondisi psikologis, hingga tanda-tanda gangguan perilaku makan.
“Kami ingin atlet memahami bahwa merawat tubuh bukan berarti mengurangi ambisi untuk berprestasi. Justru dengan memahami tubuh, mereka bisa berlatih dengan lebih aman dan mendukung performa secara berkelanjutan,” ujar Siti Aisyah.
Agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tim ULM juga menyiapkan 9Buku Saku Atlet Juara sebagai pegangan praktis bagi peserta.
Buku tersebut memuat informasi mengenai nutrisi, latihan, pemulihan, menstruasi, citra tubuh, dan perilaku makan. Materi disajikan dengan tampilan bergambar sehingga informasi yang cukup luas dapat dipahami dengan lebih ringan dan mudah diterapkan dalam keseharian.
Sebelum dan sesudah kegiatan, peserta juga mengikuti penilaian untuk melihat perubahan pemahaman. Hasil evaluasi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan pengetahuan setelah edukasi diberikan.
Bagi tim ULM, hasil tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan atlet perlu dilakukan secara lebih menyeluruh. Latihan fisik tetap menjadi bagian penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai kesehatan dan kebutuhan tubuh.
“Pembinaan atlet seharusnya tidak hanya mengejar seberapa kuat mereka berlatih atau seberapa tinggi prestasinya. Kita juga perlu memastikan mereka memiliki pengetahuan untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri,” tutur Siti Aisyah.
Baca juga: Tekan Angka Kasus Diare Pada Balita, Tim PDWA FKIK ULM Latih Ibu-Ibu di Kelurahan Teluk Tiram
Tim ULM berharap edukasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Materi yang telah dikembangkan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menjangkau lebih banyak atlet, khususnya atlet perempuan usia remaja.
Ke depan, tim juga merencanakan pengembangan media edukasi dalam bentuk digital, memperluas penyampaian materi, serta melibatkan pelatih. Dengan demikian, pengetahuan mengenai kesehatan atlet dapat semakin dekat dengan rutinitas pembinaan dan menjadi bagian dari keseharian para atlet. Sebab, menjadi juara bukan hanya tentang seberapa keras tubuh dilatih, tetapi juga seberapa baik tubuh tersebut dipahami dan dirawat. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)
Foto FK ULM
Edukasi kesehatan dan gizi bagi atlet perempuan usia remaja di lingkungan JPOK ULM
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.