TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Bagi sebagian orang, layang-layang mungkin hanya mengingatkan pada permainan masa kecil. 

Namun di Kabupaten Nunukan, permainan tradisional itu mulai diarahkan menjadi wadah olahraga, sekaligus ajang mencari bibit-bibit berprestasi.

Hal itu terlihat dalam Festival Olahraga Masyarakat yang digelar Komite Olahraga Masyarakat Indonesia atau KORMI Nunukan di Paras Perbatasan, Sabtu (5/9/2026).

Sejumlah Induk Organisasi Olahraga (INORGA) di bawah KORMI ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Salah satunya Persatuan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Nunukan yang menghadirkan perlombaan layang-layang.

Ketua Pelangi Nunukan, Aswar, mengatakan keberadaan lomba layang-layang bukan sekadar untuk hiburan. 

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan olahraga tradisional,  sekaligus menjaring pegiat potensial untuk dibina ke tingkat yang lebih tinggi.

“Layang-layang ini memang dilaksanakan di setiap daerah.

Ini termasuk lomba kreasi tradisional, dan menjadi bibit-bibit dari kabupaten ke provinsi sampai ke nasional,” kata Aswar kepada TribunKaltara.com.

 

FESTIVAL OLAHRAGA MASYARAKAT -  Peserta mengikuti Festival Olahraga Masyarakat yang digelar KORMI Nunukan di Paras Perbatasan, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan ini melibatkan sejumlah INORGA, termasuk Asiafi, Perbafi, dan Pelangi. (TribunKaltara.com/Fatimah Majid)
FESTIVAL OLAHRAGA MASYARAKAT -  Peserta mengikuti Festival Olahraga Masyarakat yang digelar KORMI Nunukan di Paras Perbatasan, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan ini melibatkan sejumlah INORGA, termasuk Asiafi, Perbafi, dan Pelangi. (TribunKaltara.com/Fatimah Majid) (TribunKaltara.com/Fatimah Majid)

 

Baca juga: KORMI Nunukan Gelar Festival Olahraga di Paras Perbatasan, jadi Wadah Budayakan Hidup Sehat

Dalam festival kali ini, kategori lomba yang dipertandingkan di antaranya layang-layang dua dimensi dan tiga dimensi.

Untuk kategori dua dimensi, tercatat sekitar delapan peserta.

Sementara kategori tiga dimensi diikuti sekitar empat peserta.

Panitia sendiri menyediakan kuota hingga 40 peserta untuk perlombaan layang-layang.

Menariknya, peserta tidak hanya dinilai dari kemampuan menerbangkan layang-layang.

Ada sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam penilaian, mulai dari bentuk dan kreativitas, kerapian perakitan, perpaduan warna, hingga kestabilan layang-layang ketika mengudara.

“Yang pertama bentuk dan kreasi, bagaimana kerakitannya.

Kemudian warna dan kombinasinya. Yang ketiga bagaimana layang-layang ini stabil saat diterbangkan,” jelasnya.

Pelangi Nunukan Berdiri Sejak 2023

Pelangi Nunukan sendiri telah terbentuk sejak 2023.

Meski tergolong organisasi yang masih relatif muda, Aswar menyebut minat masyarakat terhadap layang-layang sebenarnya cukup besar.

Hanya saja, keberadaan komunitas tersebut dinilai masih belum banyak diketahui masyarakat.

Menurut Aswar, hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus Pelangi Nunukan.

Sosialisasi perlu terus dilakukan, agar masyarakat mengetahui bahwa olahraga layang-layang memiliki wadah organisasi, dan dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih serius.

“Kalau sebenarnya banyak peminatnya.

Ini yang menjadi PR kami dari pengurus Pelangi.

Kami memang butuh sekali sosialisasi bahwa Pelangi ini ada perkumpulannya,” ujarnya.

Ia menilai layang-layang memiliki daya tarik tersendiri karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sejak kecil.

“Kalau berbicara tentang layang-layang, ini adalah masa kecil.

Masa kecil kita bagaimana layang-layang ini memang disalurkan bakat kami,” katanya.

Sebatik Jadi Salah Satu Kantong Peminat

Salah satu wilayah yang disebut memiliki cukup banyak pegiat layang-layang adalah Pulau Sebatik.

Peserta dari wilayah tersebut bahkan disebut rutin mengikuti perlombaan, dan kerap membawa pulang penghargaan.

Aswar berharap ke depan semakin banyak masyarakat yang terlibat, bukan hanya sebagai penerbang atau atlet, tetapi juga sebagai perakit layang-layang.

“Harapan kami yang pertama, kami memperbanyak pegiat-pegiat pelayang, termasuk perakit,” tuturnya.

Menurut dia, kebutuhan terhadap perakit menjadi penting, karena perkembangan olahraga layang-layang juga menuntut kreativitas dalam membuat bentuk dan desain.

Pelangi Nunukan kini masih berupaya mencari dan mengembangkan perakit, yang mampu menghasilkan layang-layang dengan teknik yang lebih modern.

Dengan semakin banyaknya pegiat dan perakit, Aswar berharap layang-layang tidak berhenti sebagai permainan tradisional, tetapi mampu berkembang menjadi olahraga masyarakat yang memiliki prestasi hingga tingkat provinsi maupun nasional.

Festival Olahraga Masyarakat KORMI Nunukan pun menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan kembali olahraga tradisional tersebut kepada masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk menekuni layang-layang secara lebih serius.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.