TRIBUNNEWS.COM. BANDUNG -  Jelang dini hari tadi, Sabtu (5/9/2026), sejumlah netizen di Jawa Barat dan Banten mendengarkan dentuman keras.

Bahkan dentumannya membuat jendela dan pintu kaca bergetar.

"Efeknya lumayan parah sampe bikin kaca jendela dan pintu bergetar," tulis seorang warganet yang mengaku berasal dari Bandung, Jawa Barat.

Dirga Rivaldi (42), warga Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mendengar suara dentuman tersebut sekitar pukul 23.30 WIB. 

Suara dentuman tersebut  diikut getaran dan suara aneh pada kontruksi bangunan. 

"Ya terdengar. Saya kira suara tetangga sedang memasang paku di tembok," katanya kepada Tribun Jabar.id, Sabtu pagi. 

Ia mengatakan suara misterius tersebut berlangsung lama dan diikuti hembusan angin kencang. 

Sifa Andira (35), warga Pamulihan, Kabupaten Sumedang, kaget mendengar  suara dentuman tersebut. 

"Saya kira suara dentuman itu berasal dari ban truk yang meletus," ujarnya.

Diduga Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilowati mengatakan suara dentuman juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

Dia mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan diduga berkaitan dengan kemunculan suara dentuman.

"Untuk di wilayah lain di Jawa Barat memang dilaporkan juga terdengar dan diduga berhubungan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terjadi di waktu yang sama," ujar Rita.

"Di tempat lain kami hanya mendapat laporan dan diduga berkaitan dengan aktivitas GAK (Gunung Anak Krakatau)," ujarnya.

Gunung Anak Krakatau pulau vulkanik aktif yang terletak di perairan Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra, secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung

Berdasarkan pemantauan PVMBG, status aktivitasnya berada di Level III (Siaga) dengan rekomendasi agar masyarakat dan nelayan tidak mendekati kawah dalam radius 3 kilometer.

Sejarah Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan laut pada tahun 1927 dan terus meletus secara berkala hingga saat ini. 

Anak Krakatau lahir dari kaldera bekas letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883.

Erupsi bawah laut mulai terjadi pada Juni 1927, dan pada 20 Januari 1930 kerucut vulkaniknya secara resmi permanen muncul di atas permukaan laut. 

Sejak lahir, gunung ini aktif tumbuh dan meletus ratusan kali dengan siklus istirahat berkisar antara 1 hingga 8 tahun. 

Pada 22 Desember 2018, Anak Krakatau mengalami letusan besar yang menyebabkan sebagian lerengnya longsor ke laut dan memicu tsunami di Selat Sunda, serta mengubah tinggi gunung secara drastis. 

Sumber: Tribun Jabar/Kompas.com

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.