TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertumbuhan likuiditas perekonomian dan penyaluran kredit nasional membuka ruang bagi industri perbankan untuk melanjutkan fungsi intermediasi.

Di tengah momentum tersebut, Bank Woori Saudara (BWS) memiliki ruang untuk melanjutkan ekspansi kredit secara selektif dengan tetap mengedepankan kualitas aset.

Bank Woori Saudara adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk, sebuah bank umum di Indonesia yang merupakan bagian dari Woori Bank, salah satu grup perbankan terbesar asal Korea Selatan.

Baca juga: BI Dorong Intermediasi, BWS Punya Ruang Perluas Kredit

Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas tetap tumbuh pada Juli 2026. Kondisi tersebut berjalan seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan kredit perbankan nasional.

Aktivitas intermediasi perbankan juga menunjukkan momentum yang solid. Pertumbuhan kredit nasional pada Juli 2026 berada di kisaran 13 persen secara tahunan, menunjukkan permintaan pembiayaan yang masih kuat dari dunia usaha maupun masyarakat.

Aditya Prayoga dari Phintraco Sekuritas menilai pertumbuhan kredit nasional memberikan sinyal positif terhadap aktivitas ekonomi sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan bagi perbankan.

Namun, momentum tersebut perlu diimbangi disiplin dalam menentukan sektor maupun profil debitur yang menjadi sasaran ekspansi.

“Pertumbuhan kredit yang semakin tinggi menjadi katalis bagi perbankan, tetapi kualitas pertumbuhan tetap lebih penting daripada sekadar mengejar volume. Bank dengan modal dan likuiditas yang memadai memiliki fleksibilitas lebih besar untuk memilih debitur serta sektor dengan profil risk-return yang menarik,” ujar Aditya, Senin (31/8/2026).

BWS berada pada posisi yang cukup kuat untuk menangkap peluang tersebut. Hingga akhir Juni 2026, perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp40,34 triliun, sementara dana pihak ketiga tercatat mencapai Rp29,46 triliun.

Kredit modal kerja menjadi porsi terbesar dalam portofolio pembiayaan BWS. Nilainya mencapai Rp20,90 triliun atau sekitar 51,8 persen dari keseluruhan kredit perseroan, mencerminkan besarnya eksposur BWS terhadap kebutuhan pembiayaan aktivitas operasional dunia usaha.

Komposisi tersebut memberikan peluang bagi BWS untuk menangkap peningkatan aktivitas ekonomi melalui pembiayaan kebutuhan kas, pembelian bahan baku, piutang hingga aktivitas bisnis sehari-hari.
Karakter kredit modal kerja yang memiliki siklus relatif pendek juga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan portofolio.

Di sisi lain, ekspansi BWS ditopang bantalan permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan tercatat 32,03 persen per Juni 2026, memberikan ruang yang memadai bagi BWS untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan mitigasi risiko.

Dengan dukungan permodalan dan likuiditas tersebut, BWS dinilai memiliki ruang untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan intermediasi nasional secara terukur. Selektivitas penyaluran kredit, disiplin pricing serta pengelolaan kualitas aset akan menjadi faktor penting agar ekspansi pembiayaan dapat diterjemahkan menjadi penguatan fundamental.

“Kredit memang masih tumbuh, momentumnya kuat. Tetapi bank-bank yang lebih selektif akan diuntungkan karena memacu pertumbuhan tidak berarti mengorbankan kualitas portofolio kredit.” Pungkas Aditya.  

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.