SURYA.CO.ID SURABAYA - Pemkot Surabaya kembali menggelar Surabaya Kite Festival setelah vakum beberapa tahun, Sabtu-Minggu (29-30/8/2026), sekaligus menandai penyelenggaraan ke-22 festival layang-layang tersebut.
Berlangsung di South Side Long Beach Pakuwon City, festival ini menghadirkan pelayang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Festival diikuti peserta dari DKI Jakarta, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Bali. Sejumlah pelayang internasional dari Malaysia, Jepang, dan Swedia juga turut menerbangkan layang-layang dalam ajang tersebut.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Surabaya, Farah Andita Ramdhani, mengatakan festival layang-layang merupakan agenda tahunan yang telah lama dinantikan para pelayang. Festival terakhir digelar pada 2022 sebelum kembali diselenggarakan pada 2026.
Baca juga: Festival Jaranan Trenggalek 2026 Resmi Masuk Karisma Event Nusantara, Jadi Event Unggulan Nasional
“Alasan menggelar festival ini memang ini sudah lama menjadi agenda tahunan ya. Ini yang ke-22 kalinya. Terakhir itu kan kita di tahun 2022 kemudian off cukup lama. Nah ini baru diselenggarakan kembali di 2026,” kata Farah.
Menurut Farah, kembalinya festival tersebut sekaligus menjawab kerinduan komunitas pelayang dari berbagai daerah yang selama ini menantikan kesempatan menerbangkan layang-layang di Surabaya.
“Pasti karena sudah ditunggu banyak pelayang juga ya untuk bisa menerbangkan layang-layang mereka di Surabaya,” ujarnya.
Beragam layang-layang menghiasi langit South Side Long Beach Pakuwon City, mulai karakter animasi, tokoh wayang, hewan, hingga berbagai bentuk kreatif lainnya. Keberagaman desain tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama keluarga yang datang bersama anak-anak.
Farah mengatakan, Surabaya Kite Festival menjadi salah satu upaya Pemkot Surabaya menghadirkan daya tarik wisata baru berbasis event.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan luar negeri diharapkan semakin memperkuat posisi Surabaya sebagai kota tujuan penyelenggaraan festival layang-layang berskala nasional hingga internasional.
Baca juga: Pesantren Jadi Sasaran Edukasi LPS, Bukan Cuma Soal Menabung di Bank
“Jadi dari berbagai daerah di Indonesia itu kan karena dulu sudah setiap tahun datang ke sini, karena sudah lama enggak ada. Kita komunikasi sama Pelangi, nah pasti juga untuk menjadi daya tarik wisata baru untuk event layang-layang,” katanya.
Menurut Farah, salah satu pembeda festival di Surabaya dengan ajang serupa di daerah lain adalah skala peserta yang dihadirkan. Surabaya dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam penyelenggaraan festival layang-layang serta mampu mendatangkan pelayang dari berbagai provinsi dan mancanegara.
“Sebetulnya banyak daerah-daerah yang mulai mengadakan ya karena memang ini bisa jadi daya tarik wisata. Enggak semua orang setiap bulan menerbangkan layang-layang seperti itu kan, kalau enggak memang betul-betul difasilitasi di acara khusus,” jelasnya.
“Nah ini di Surabaya kita istilahnya sudah bisa bilang mungkin levelnya nasional karena pesertanya dari banyak provinsi dan juga ada dari peserta asing yang menerbangkan layang-layang,” tambah Farah.
Selain menjadi tontonan wisata, festival tersebut juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat melalui keterlibatan sejumlah UMKM. Pelaku usaha yang menjual layang-layang maupun produk kreatif mendapat ruang untuk berjualan di lokasi acara.
Pemkot Surabaya melakukan kurasi terhadap UMKM yang terlibat. Selain pelaku UMKM dari kalangan pelayang dan warga setempat, peserta dari kecamatan sekitar hingga daerah lain juga diberikan kesempatan.
“Berdampak juga ke UMKM pelayangan, banyak juga yang jualan. Ya itu memang dikurasi sama panitia. UMKM yang memang jualan layangan yang bagus-bagus dari warga setempat itu yang kita berikan kesempatan untuk ada di sana jadi bagian dari acara,” ujar Farah.
Untuk mengukur dampak wisata dan ekonomi, panitia tahun ini menerapkan sistem registrasi pengunjung. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya yang terbuka sehingga jumlah pengunjung sulit didata, registrasi kali ini dilakukan secara gratis dengan menginput data pengunjung.
Farah mengatakan, jumlah pengunjung yang datang selama pelaksanaan festival mencapai sekitar 4.000 orang berdasarkan perputaran pengunjung yang keluar dan masuk lokasi.
“Tahun ini kami melakukan format registrasi, tidak berbayar tapi hanya input data supaya bisa menghitung sebenarnya seberapa banyak yang hadir, dari mana saja dan sebagainya. Tadi mungkin hampir 4.000 orang in out,” katanya.
Data tersebut nantinya digunakan untuk menghitung perputaran wisatawan sekaligus dampak ekonomi yang dihasilkan selama festival, termasuk pemberdayaan UMKM.
“Jadi itu nanti pada perputaran jumlah wisatawan sama jumlah ekonominya juga," tandasnya.
"Jadi kita kalau penyelenggaraan event itu kan sudah mulai berfokus ke sana. Untuk menghitung dampaknya seberapa banyak termasuk UMKM yang bisa diberdayakan di lokasi tersebut,” ujarnya.
Salah seorang pengunjung, Rian Saputra, mengapresiasi kembali digelarnya Festival Layang-Layang Surabaya. Menurutnya, festival tersebut menjadi hiburan menarik bagi keluarga karena menghadirkan beragam bentuk dan ukuran layang-layang yang jarang ditemui dalam aktivitas sehari-hari.
“Acara seperti ini bagus karena bisa menjadi hiburan untuk keluarga. Layang-layang yang ditampilkan juga bermacam-macam, ada karakter animasi, wayang, hewan, sampai bentuk-bentuk unik lainnya. Semoga festival seperti ini bisa rutin digelar,” kata Rian.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.