TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (28/8/2026) pagi.
Di tengah aktivitas warga yang mulai berjalan, kualitas udara justru berada pada kondisi yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data kualitas udara PM2,5 yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui aplikasi ISPUNet, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Sampit, pada pukul 07.00 WIB tercatat mencapai 338.
Angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya dengan indikator warna hitam.
Kondisi ini membuat masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang perlu dilakukan.
Kabut asap yang menyelimuti Sampit merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim.
Asap tebal bahkan mulai dirasakan warga sejak petang dan bertahan hingga pagi hari.
Seorang warga Sampit, Syahrudin, mengaku khawatir dengan kondisi tersebut, terutama terhadap dampak kesehatan apabila kabut asap terus terjadi.
Ia mengatakan kondisi asap tebal yang muncul sejak petang hingga pagi hari tersebut bukan baru terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, kondisi serupa telah dirasakan masyarakat selama lebih dari dua pekan terakhir.
“Kami tentu khawatir kalau kondisi seperti ini terus terjadi. Asapnya tebal, mulai dari petang sampai pagi,” ujar Syahrudin.
Ia berharap kondisi udara segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas tanpa harus terus dihantui kabut asap.
Kekhawatiran warga tersebut semakin beralasan setelah kualitas udara di Sampit pada Jumat pagi tercatat berada dalam kategori berbahaya.
Meski demikian, kondisi cuaca di Sampit pada Jumat pagi justru tercatat cerah berawan.
Berdasarkan data BMKG pada pukul 07.00 WIB, suhu udara di Sampit berada di angka 23,1 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 94 persen.
Angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan sekitar 4 kilometer per jam. Sementara jarak pandang di wilayah Sampit tercatat sekitar 7 kilometer.
Kondisi tersebut menunjukkan cuaca yang terlihat cukup bersahabat pada pagi hari tidak serta-merta membuat kualitas udara membaik.
Baca juga: Asap Selimuti Sampit Kotim Sejak Malam, Kualitas Udara Tak Sehat, Warga Mulai Keluhkan Sesak Napas
Baca juga: Kualitas Udara Palangka Raya Sedang Tidak Sehat, BMKG Kalteng Catat 179 Titik Panas
Tingginya konsentrasi PM2,5 membuat masyarakat tetap perlu mewaspadai kondisi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.
Kondisi udara ini sekaligus menjadi gambaran bahwa persoalan karhutla di Kotim masih berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Asap dari lahan yang terbakar masih berpotensi terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di kawasan perkotaan Sampit.
Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi pencemaran kembali meningkat.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.