Kali ini kami berharap bisa sampai final, namun tidak terbayang akan juara. Maklum, kami dari sekolah kecil yang ada di pelosok desa

Jakarta (ANTARA) - SMAN 2 Katingan Kuala, Kalimantan Tengah, dinobatkan menjadi pemenang Grand Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 Tingkat Nasional yang berlangsung di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/8).


Dikutip dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis, posisi kedua diraih SMAN 8 Jakarta Selatan, DKI Jakarta, sementara juara ketiga diraih SMAN 1 Tanjung Selor, Kalimantan Utara, dan posisi keempat ditempati SMAN 2 Bogor, Jawa Barat.


Meski akhirnya keluar sebagai juara, SMAN 2 Katingan Kuala sempat mengawali pertandingan dengan kurang meyakinkan. Dalam dua sesi awal, mereka masih berada di peringkat ketiga, di bawah SMAN 8 Jakarta Selatan dan SMAN 1 Tanjung Selor.



Titik balik terjadi pada sesi ketiga, yakni sesi rebutan. Secara perlahan, SMAN 2 Katingan Kuala mulai mendulang poin dan mengejar perolehan nilai SMAN 8 Jakarta Selatan.






Dengan perlahan tetapi pasti, SMAN 2 Katingan Kuala mampu membalikkan keadaan hingga akhirnya memimpin perolehan nilai dan memastikan diri sebagai juara pertama.


Keberhasilan SMAN 2 Katingan Kuala menjadi pemenang terasa istimewa karena pada babak final, tim tersebut harus tampil dengan sembilan peserta setelah salah seorang anggotanya yang bernama Abdul Malik mengalami kejang dan tidak dapat mengikuti perlombaan.


Meski absen, seusai lomba, Abdul Malik datang ke acara penyerahan hadiah dengan menggunakan kursi roda dan menemui rekan setimnya.



“Saya sempat deg-degan, bangga dan merasa bersalah karena hanya bisa menyaksikan perjuangan teman-teman di final melalui tayangan YouTube dari tempat tidur di Poliklinik MPR. Tetapi sepanjang lomba saya juga mendoakan agar teman-teman mampu mencapai hasil terbaik,” katanya.






Sementara itu, bagi guru pembimbing SMAN 2 Katingan Kuala, Indah Fitriana, keberhasilan anak didiknya menjadi juara nasional LCC Empat Pilar di luar perkiraan dirinya.


“Tahun 2025 kami juga bermain hingga ke tingkat nasional, tetapi kalah. Kali ini kami berharap bisa sampai final, namun tidak terbayang akan juara. Maklum, kami dari sekolah kecil yang ada di pelosok desa,” ujarnya.


Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan pihak sekolah dan seluruh orang tua siswa yang bahu-membahu memberikan dukungan, termasuk doa, agar anak-anak dapat meraih prestasi terbaik.