TRIBUNGOORNTALO.COM - Warga Gorontalo mengaku merasakan perbedaan suhu yang mencolok saat musim kemarau.

Kondisi udara terasa lebih panas pada siang hari dan berubah lebih dingin saat malam hari.

Fenomena ini yang dikenal sebagai bediding, yakni penurunan suhu udara yang umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau.

Warga Gorontalo mengakui terjadinya perubahan suhu terutama ketika malam hingga menjelang pagi. Dinginnya malam kali ini terasa berbeda dibandingkan hari-hari biasanya.

Revin Abas (26), warga Gorontalo mengaku sudah sepekan terakhir semakin merasakan udara dingin, terutama ketika berada di luar ruangan.

"Saya rasa kemarau terus juga ini, mungkin pengaruh itu juga mungkin," kata Revin kepada wartawan TribunGorontalo.com pada Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, perubahan suhu membuat kebiasaan sehari-harinya ikut berubah. Sebelumnyan ia terbiasa mandi malam pukul 21.00 Wita, kini ia lebih sering memilih mandi pada sore hari.

"Biasa mandi jam 9, sekarang sudah sering mandi sore," ujarnya.

Menurut Revin, dinginnya udara bukan sesuatu yang baru sepenuhnya bagi masyarakat Gorontalo.

Ia mengingat cerita yang pernah didengarnya dari orang tua.

"Kalau berdasarkan informasi orang-orang tua dulu, kalau malam dingin, siang itu pasti panas sekali," katanya.

Atin (44) warga Gorontalo lainnya mengaku belakangan mulai memperhatikan suhu udara ketika malam hari. Menurutnya, rasa dingin tersebut lebih terasa dibandingkan kondisi yang biasa ia rasakan sebelumnya.

"Saya juga rasa kenapa ya tiap malam itu, apalagi akhir-akhir ini cuaca itu terasa dingin sekali," ujarnya

Atin menduga kondisi tersebut berkaitan dengan musim kemarau yang sedang berlangsung di Gorontalo.

"Mungkin pengaruh musim kemarau juga ini, sampai malam itu terasa dingin sekali," ungkapnya.

Dia tidak mengetahui secara pasti penyebab perubahan suhu yang dirasakan tersebut.

Warg Gorontalo lainnya, Maryam Labaco (47) mengaku merasakan udara malam yang berbeda dalam beberapa waktu terakhir.

"Saya juga kurang tahu ini fenomena apa, cuma biasanya tidak seperti ini," kata Maryam.

Iman Bakari (43), pengemudi bentor juga mengaku rasa dingin terutama mulai terasa ketika malam hari.

"Iya saya juga dapat rasa itu kalau malam terasa dingin sekali, tapi baru akhir-akhir ini saya rasa, kurang lebih dua mingguan," kata Iman ditemui TribunGorontalo.com kawasan Hotel Mega Zanur Gorontalo

Bagi Iman yang sehari-hari beraktivitas di luar ruangan, perubahan udara cukup mudah dirasakan.

DANAU LIMBOTO - Suasana senja di Danau Limboto pada Senin (10/8/2026). Masyarakat datang berswafoto bersama keluarga hingga kerabat. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Sandri Mooduto)
DANAU LIMBOTO - Suasana senja di Danau Limboto pada Senin (10/8/2026). Masyarakat datang berswafoto bersama keluarga hingga kerabat. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Sandri Mooduto) (TribunGorontalo.com/Sandri Mooduto)

Penjelasan BMKG Gorontalo soal Fenomena Bediding

Forecaster On Duty Stasiun Klimatologi Gorontalo Dimas Yudistira, menyebut kondisi tersebut bukan fenomena yang berarti. Perubahan suhu antara siang dan malam seperti itu merupakan kondisi yang umum terjadi ketika wilayah memasuki musim kemarau.

"Tidak ada fenomena yang berarti, karena kondisi seperti itu umum terjadi saat musim kemarau," ujar Forecaster On Duty Stasiun Klimatologi Gorontalo melalui via WhatsApp, Rabu (26/8/2026). 

Menurutnya, panas yang terasa menyengat pada siang hari dipengaruhi oleh kuatnya sinar matahari. Kondisi tersebut semakin terasa ketika langit dalam keadaan cerah dan tidak banyak tutupan awan.

Minimnya tutupan awan membuat sinar matahari lebih langsung mencapai permukaan bumi. Akibatnya, permukaan bumi menjadi lebih cepat panas dan suhu udara pada siang hari terasa meningkat.

"Pada saat siang hari sinar Matahari terik lebih kuat dan ditambah lagi tidak adanya tutupan awan, sehingga permukaan bumi cepat panas," jelasnya.

Saat matahari sudah tidak memberikan pemanasan, permukaan bumi mulai melepaskan panas yang sebelumnya tersimpan.

Langit yang cerah membuat panas dari permukaan bumi lebih cepat dipancarkan kembali ke atmosfer.

Akibatnya, suhu pada malam hari dapat mengalami penurunan yang cukup terasa.

"Kemudian malam hari karena langit cerah, panas dari permukaan bumi lebih cepat dipancarkan kembali ke atmosfer," lanjutnya.

Selain kondisi langit yang cerah, faktor lain yang membuat malam hari terasa lebih dingin adalah kondisi udara yang lebih kering selama musim kemarau.

Kelembapan udara yang lebih rendah membuat efek pendinginan pada malam hari terasa semakin kuat.

"Akibatnya suhu malam turun cukup drastis ditambah lagi udara lebih kering pada musim kemarau berakibat pada kelembapan biasanya lebih rendah sehingga efek pendinginan pada malam hari bisa lebih terasa," bebernya.

Oleh karena itu, perbedaan suhu yang dirasakan masyarakat antara siang dan malam bukan berarti sedang terjadi perubahan cuaca yang tidak biasa.

Kondisi tersebut justru menjadi salah satu karakteristik cuaca ketika memasuki musim kemarau. Siang hari dengan matahari terik membuat permukaan bumi cepat mengalami pemanasan. Sementara malam hari yang cerah membuat panas lebih cepat dilepaskan.

Perpaduan kedua kondisi tersebut akhirnya membuat siang terasa sangat panas, sedangkan malam terasa lebih dingin. (*/Sandri/Jef)

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.