TRIBUNNEWS.COM - Teknologi virtual production (VP) menjadi salah satu bagian penting dalam proses produksi film horor Bisikan Desa Gringsing.
Bagi Aghniny Haque yang menjadi pemeran utama, penggunaan teknologi tersebut memberikan pengalaman berbeda selama menjalani proses syuting.
Dalam film garapan penulis sekaligus sutradara Ivander Tedjasukmana tersebut, Aghniny memerankan Hesty, seorang perempuan yang pergi ke Desa Gringsing untuk mencari ayahnya yang tiba-tiba menghilang.
Karakter tersebut membawanya masuk ke dalam suasana horor yang menuntut kemampuan akting secara maksimal.
Bisikan Desa Gringsing memanfaatkan teknologi virtual production yang juga digunakan dalam produksi film-film berskala besar.
Penggunaan teknologi tersebut membuat film ini tercatat sebagai film horor panjang Indonesia pertama yang menggunakan teknologi virtual production.
Aghniny kemudian menceritakan pengalamannya menjalani proses syuting dengan teknologi tersebut dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews dalam Podcast Si Paling Seleb untuk mempromosikan film Bisikan Desa Gringsing yang dijadwalkan rilis pada 24 September 2026.
Menurut Aghniny, bermain dalam film horor membuat aktor dituntut memberikan kemampuan terbaik, terutama ketika harus menghadirkan berbagai emosi seperti takut dan ngeri.
"Film horor kan emang kita dituntutnya demanding banget ya. Semuanya tuh kayak harus maksimal gitu kan," ujar Aghniny, dikutip Tribunnews, Rabu (26/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa tuntutan tersebut semakin terasa ketika seorang aktor harus benar-benar merasakan kondisi yang dialami karakter.
Menurutnya, rasa panas, takut, hingga ngeri perlu hadir agar emosi dalam adegan dapat tersampaikan dengan baik.
Baca juga: Teknologi Virtual Production Warnai Produksi Bisikan Desa Gringsing, Setara Film Superhero
"Kalau bisa, kalau emang kita harus ngerasain kepanasan, ketakutan, kengerian, itu tuh harus hadir banget gitu. Tapi itu di satu yang lain lah gitu," katanya.
Namun, pengalaman tersebut terasa berbeda ketika proses syuting dilakukan di studio dengan bantuan teknologi virtual production.
Aghniny menilai teknologi tersebut membuat pekerjaannya sebagai aktor menjadi lebih mudah hingga sekitar 50 persen.
"Tapi kalau di studio tuh pekerjaan aku sebagai aktor tuh kayak dimudahkan 50 persen gitu," ungkapnya.
Aghniny juga melihat penggunaan virtual production memungkinkan tim produksi menghadirkan sesuatu yang mungkin sulit dilakukan jika hanya mengandalkan lokasi syuting biasa.
Ia mengaku belum memahami secara teknis bagaimana teknologi tersebut bekerja, tetapi melihat hasil desain yang mampu membangun suasana Desa Gringsing secara menyeluruh.
"Dan menurut aku, VP ini tuh kayak mungkin susah sih untuk di-reachich sama syutingan di lokasi yang biasa gitu," tuturnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa desain lokasi dalam film tersebut dibuat seolah-olah dikelilingi tembok yang membatasi Desa Gringsing.
Menurut Aghniny, konsep tersebut membuatnya bertanya-tanya bagaimana hasil serupa bisa diwujudkan jika menggunakan lokasi nyata.
"Yang aku enggak ngerti teknisnya gimana gitu. Tapi di desain ini tuh dikelilingin sama tembok gitu kan," ujarnya.
Aghniny menggambarkan tembok tersebut seolah mengelilingi seluruh desa.
Ia pun mengaku tidak mengetahui bagaimana tim produksi dapat membangun set nyata dengan skala seperti itu tanpa bantuan virtual production.
"Tembok mengelilingin desa itu kan gitu. Aku enggak tahu kalau misalkan di real-nya bikin set kayak gitu, aku enggak ngerti gimana kalau enggak pakai VP," kata Aghniny.
Selain persoalan set, ia juga menilai pengambilan gambar dengan lokasi yang dibuat sedemikian luas akan menjadi tantangan tersendiri.
Menurutnya, virtual production membantu menghadirkan visual yang sulit diwujudkan melalui pengambilan gambar di lokasi biasa.
"Terus ngambil kameranya juga aku enggak ngerti gimana supaya tembok itu tuh bisa kayak terbentang sejauh itu dan real gitu," tandasnya.
Baca juga: Tulis Naskah di Film Bisikan Desa Gringsing, Ivander Tedjasukmana Akui Hampir Gila
Penulis sekaligus sutradara Ivander Tedjasukmana ini memanfaatkan teknologi virtual production (VP), teknologi yang juga digunakan dalam produksi film-film berskala besar.
Ivander menjelaskan, virtual production pada dasarnya memiliki konsep yang mirip dengan penggunaan green screen.
Bedanya, latar yang digunakan dalam VP dapat langsung terlihat oleh para pemain dan kru ketika proses pengambilan gambar berlangsung.
"Jadi virtual production itu dipakai di film-film gede seperti kita kenal film production dari Star Wars, Superman, mereka pakai itu. Jadi simpelnya, virtual production itu layar belakang. Bayangin green screen," ujar Ivander dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews di Podcast Si Paling Seleb.
Menurutnya, perbedaan utama VP dengan green screen terletak pada kemampuan menampilkan latar digital secara langsung.
Jika menggunakan green screen, pemain biasanya tidak dapat melihat gambaran latar yang nantinya akan ditambahkan pada tahap pascaproduksi.
"Kalau green screen kita enggak bisa ngelihat nanti isinya apa. Kalau di virtual production secara live dan langsung kita bisa lihat isinya apa," jelasnya.
Teknologi tersebut, lanjut Ivander, juga dapat menyesuaikan tampilan latar dengan pergerakan kamera.
Ketika kamera bergeser, gambar pada layar di belakang pemain akan ikut menyesuaikan sudut pandang sehingga memberikan kesan lebih realistis.
"Kalau kameranya bergeser, gambar di dalam bergeser juga supaya real," kata Ivander.
Ivander mengungkapkan, penggunaan teknologi VP dalam Bisikan Desa Gringsing sebenarnya bukan bagian dari konsep awal film.
Namun pada akhirnya ada kesempatan untuk menggunakan teknologi tersebut.
"Cerita ini sebenarnya awalnya tidak didesain untuk di VP, tapi kesempatan untuk VP-nya yang muncul, cerita ini yang kita masukin," ungkapnya.
Menurut Ivander, salah satu keuntungan terbesar penggunaan VP terlihat ketika mereka harus mengambil adegan yang melibatkan mobil.
Dalam produksi secara umum, adegan semacam itu membutuhkan waktu cukup panjang untuk mempersiapkan berbagai aspek teknis.
"Plusnya, adegan mobil yang biasanya kita ambil tuh tiga jam bahkan bisa enam jam lebih ngatur semuanya, di sini pakai VP cuma sejam," tuturnya.
Selain memangkas waktu produksi, VP juga memberikan keuntungan dari sisi teknis.
Tim produksi tidak terlalu terganggu oleh faktor suara dari lingkungan luar dan dapat mempertahankan kondisi pencahayaan yang lebih konstan selama pengambilan gambar.
"Jadi kita untungnya, kita tidak ada keganggu noise, lighting konstan," ujar Ivander.
Baca juga: Perankan Hesty di Film Bisikan Desa Gringsing, Aghniny Haque Spill Alur Cerita yang Bikin Penasaran
Film Bisikan Desa Gringsing dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026.
Dikutip dari laman resmi XXI, film ini mengisahkan tentang Hesti yang mencari ayahnya yang hilang di Desa Gringsing.
Setelah upaya bunuh diri yang gagal, Hesti terbangun di rumah sakit, dihantui oleh kekosongan emosional yang ditinggalkan oleh ayahnya yang telah lama terasing, Darmono.
Putus asa mencari jawaban, ia meyakinkan pacarnya, Wahyu, untuk membantu mencari ayahnya.
Di tengah perjalanan, Wahyu mendesaknya untuk kembali menulis sebagai sarana penyembuhan, tetapi Hesti menolak.
Perjalanan membawa mereka ke rumah Darmono, tempat Hesti mengetahui dari ibu tirinya, Maya, bahwa Darmono telah hilang selama lebih dari seminggu.
Dengan tekad bulat dan penuh rahasia, Hesti berpetualang sendirian ke Gringsing, sebuah desa terpencil dan sangat terisolasi yang dikelilingi tembok-tembok tinggi.
Mengabaikan peringatan kepala desa, Hesti menerobos masuk, hanya untuk menyaksikan entitas supernatural mengerikan yang dengan kejam membunuh siapa pun yang mencoba keluar.
Misinya segera berubah, ia tidak hanya harus menemukan ayahnya tetapi juga bertahan hidup dan melarikan diri.
Saat Hesti menggali lebih dalam, ia mengungkap sejarah desa yang kelam dan terpendam, dan menyadari bahwa kunci keselamatan mungkin terletak pada bagaimana menghadapi masa lalunya yang menyakitkan.
Daftar Pemain Bisikan Desa Gringsing:
(Tribunnews.com, Rinanda/Ifan)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.