TRIBUNPEKANBARU.COM, KUANSING - Kabar baik menghampiri petani karet di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Harga terendah bahan olah karet (Bokar) di sejumlah Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) menembus level Rp 19 ribuan per kilogramnya.
Sementara harga tertinggi pada pekan ketiga Agustus 2026 bahkan mencapai Rp20.500 per kilogram.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kuansing, Andriyama Putra, mengatakan harga Bokar di sejumlah UPPB menunjukkan variasi.
Perbedaan itu dipengaruhi oleh kualitas Bokar dan mekanisme pemasaran yang diterapkan masing-masing UPPB.
"Untuk harga lelang Bokar minggu ketiga Agustus ini, yang tertinggi Rp20.500 per kilogram di UPPB Sepakat," kata Andriyama, Rabu (26/8/2026).
Sementara itu, harga Rp19.925 per kilogram tercatat di sejumlah UPPB, yakni Air Hilang, Tuah Sakato, Maju Basamo, Sei Geringging, dan Tabuah Indah.
Sedangkan harga Rp19.620 per kilogram tercatat di UPPB Lestari Sako Makmur, Maju Bersama, Jaya Makmur, serta Jaya Mulya.
Baca juga: Warga Pekanbaru Sambut Suka Cita Hujan, Sajadah Salat Istisqa Digulung
Baca juga: Disdikbud Pelalawan Liburkan Sekolah di 10 Kecamatan Akibat Asap Karhutla, Belajar Jarak Jauh
Meski terdapat selisih harga antarkelompok, tren tersebut menjadi sinyal positif bagi petani karet Kuansing yang selama ini berhadapan dengan fluktuasi harga komoditas perkebunan.
Andriyama menegaskan, harga tinggi tidak datang begitu saja.
Kualitas Bokar yang dihasilkan petani menjadi salah satu penentu utama nilai jual di tingkat UPPB.
"Petani harus tetap menjaga kualitas Bokar. Karena harga itu sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kondisi pasar," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan UPPB juga memiliki peran penting dalam memperkuat posisi petani.
Melalui pemasaran yang lebih terorganisasi, petani diharapkan tidak hanya memperoleh harga yang lebih kompetitif, tetapi juga memiliki akses pemasaran yang lebih transparan.
Dinas Perkebunan dan Peternakan Kuansing pun mendorong petani untuk terus meningkatkan mutu hasil olahan karet sekaligus memanfaatkan UPPB sebagai saluran pemasaran.
"Harapannya petani bisa terus meningkatkan kualitas Bokar dan memanfaatkan UPPB dalam pemasaran, sehingga harga yang diterima lebih baik dan komoditas karet kita semakin berdaya saing," kata Andriyama.
Angka Rp20.500 per kilogram menjadi kabar yang cukup melegakan di tengah harga komoditas perkebunan yang masih bergerak dinamis.
Namun, harga tinggi tersebut bukan berarti ruang untuk berpuas diri terbuka lebar.
Bagi petani karet Kuansing, menjaga kualitas Bokar menjadi kunci agar harga tetap bertahan di level yang menguntungkan.
"Jika kualitas terjaga dan pemasaran semakin tertata, kenaikan harga bukan sekadar angka, tetapi dapat menjadi tambahan pendapatan yang benar-benar terasa di kantong petani,' ujarnya.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.