Laporan wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya menyoroti dua indikator yang perlu mendapatkan perhatian. Hal ini diungkapkan usai menggelar pertemuan di Kamandara Cafe, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026).
Adapun untuk dua indikator yang mulai perlu mendapat perhatian yakni rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang mendekati ambang 5 persen dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio/LDR) yang sangat tinggi di Kabupaten Tasikmalaya.
Menanggapi hal ini, Kepala Kantor OJK Tasikmalaya Nofa Hermawati mengatakan bahwa secara umum industri perbankan di wilayah kerja OJK Tasikmalaya masih tumbuh. Total aset perbankan mencapai Rp90,94 triliun atau tumbuh 4,54 persen secara year on year.
Baca juga: OJK Minta Korban Titip Limit di Ciamis–Tasik Segera Cek SLIK dan Laporkan Rekening Pelaku
Sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,60 persen menjadi Rp37,13 triliun. Adapun penyaluran kredit tumbuh 3,26 persen menjadi Rp58,19 triliun.
“Secara kinerja perbankan masih bisa tumbuh dengan positif. Namun, pertumbuhan tersebut bukan berarti tanpa catatan, tapi perlu menjadi perhatian," kata Nota kepada TribunPriangan.com.
Nofa menyebut, angka tersebut memang turun 0,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi sudah cukup dekat dengan ambang 5 persen.
“Rasio NPL itu saat ini 4,75 persen. Jadi hampir mendekati threshold. Kita sudah mendekati threshold 5 persen,” ujarnya.
Ia melihat, bahwa kondisi ini dipengaruhi belum pulihnya sebagian debitur dari dampak pandemi Covid-19 yang cukup panjang.
Selain itu, terdapat sejumlah kebijakan dan kondisi ekonomi yang turut memengaruhi kemampuan bayar debitur.
"Dengan kata lain, mesin kredit masih bergerak, tetapi indikator suhu kredit mulai perlu dipantau," jelasnya.
Kondisi paling mencolok terjadi di Kabupaten Tasikmalaya dengan LDR mencapai 236,06 persen.
Nofa menjelaskan, ini menunjukkan penyaluran kredit di Kabupaten Tasikmalaya jauh lebih besar dibandingkan dana yang dihimpun dari masyarakat.
“Penabungnya cenderung sedikit dan penyaluran kreditnya cenderung banyak sehingga selisihnya sampai dua kali lipat antara jumlah yang disalurkan dengan jumlah yang dihimpun,” ungkap Nofa.
OJK pun mendorong peningkatan budaya menabung masyarakat Priangan Timur yakni dengan Momentum Hari Indonesia Menabung yang puncaknya digelar 26 Agustus diharapkan dapat ikut memperkuat sumber dana lokal perbankan.
"Harapannya, kebutuhan pembiayaan tidak terlalu bergantung pada dana dari kantor pusat maupun transfer dana dari wilayah lain," ucap Nofa.(*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.