TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Band Kotak memasuki fase baru dalam perjalanan karier mereka setelah memutuskan kembali bergerak secara mandiri.

Sekian lama tidak merilis karya baru, Tantri Syalindri, Swasti Sabdastantri, dan Mario Marcella kini hadir dengan single berjudul YOLO yang sekaligus menjadi penanda kebangkitan mereka sebagai band independen.

Menariknya, di usia yang sudah menginjak 22 tahun, Kotak justru merasa seperti kembali menjadi band baru yang harus belajar dari awal.

Tantri mengakui, keputusan untuk berjalan mandiri membuat mereka kembali merasakan energi dan antusiasme seperti ketika baru memulai karier di industri musik.

Baca juga: Kunci Gitar Lagu YOLO - Kotak: Jangan Sia-Siakan Usia Tak Usah Malu Berteriaklah

"Fase Kotak sekarang tuh karena memang kita merangkak kembali menjadi band baru tanda kutip. Belajar jadi band baru lagi," kata Tantri saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).

Menurut Tantri, perasaan tersebut berbeda dengan perjalanan Kotak ketika masih berada di bawah label mayor.

Selama berkarier di industri musik, Kotak telah merilis sekitar sembilan album. 

Kini, karya baru yang mereka persiapkan menjadi momentum untuk kembali bereksperimen dan beradaptasi dengan perubahan industri musik.

"Di usia 22 tahun ini rasa kita, spirit kita tuh jadi terasa benar-benar muda banget," ujarnya.

"Kalau kemarin-kemarin di mayor kita sudah ngerilis kurang lebih sekitar sembilan album, ini album kesepuluh kalau misalnya ini jadi album itu jadi kayak ngerasa, 'Wih kita jadi kayak band baru lagi ya'," lanjut Tantri.

Bagi Tantri, menjadi band independen bukan sekadar persoalan tidak lagi berada di bawah label besar.

Justru, independen bagi Kotak berarti memiliki kebebasan lebih besar untuk menentukan arah pergerakan dan kreativitas mereka.

"Di fase yang bukan lagi santai, malah kita dituntut untuk belajar," ungkapnya.

Single YOLO sendiri diambil dari akronim You Only Live Once.

Namun, Kotak tidak ingin memaknai istilah tersebut sebagai alasan untuk menjalani hidup seenaknya.

Tantri mengatakan, pesan utama lagu ini justru mengajak pendengar berani menjadi diri sendiri, berkembang, dan tidak hidup di bawah tekanan ekspektasi orang lain.

"Jangan mentang-mentang You Only Live Once jadi seenaknya. Maksudnya ini kita lebih menjurus lagi, You Only Live Once, lo jadi diri lo, lo berkembang tanpa harus jadi beban seperti orang lain," kata Tantri.

Lagu tersebut juga memiliki makna personal.

Banyak orang juga mengalami rasa takut berlebihan hingga akhirnya kesulitan mengekspresikan diri.

"Jadi lagu ini sebagai doping untuk semangat yang lebih berwarna lagi," kata Tantri.

Dari sisi musik, Cella mengatakan YOLO sengaja dibuat dengan semangat mengembalikan energi awal Kotak.

Namun, bukan berarti mereka ingin mengulang formula lama.

Mario Marcella justru memasukkan berbagai sentuhan sound baru, termasuk eksplorasi synthesizer dan permainan gitar yang dibuat lebih menonjol.

"Kalau musiknya sendiri aku pengen ngembaliin roots-nya Kotak, bukan berarti harus kembali ke era lama, spirit-nya aja," jelas Cella.

Ia juga mengaku selalu mendengarkan berbagai musik untuk memperkaya referensi, tetapi memilih tidak mendengarkan musisi lain ketika sedang masuk tahap penggarapan.

Single ini juga menjadi penanda bahwa setelah 22 tahun berkarier, Kotak masih ingin belajar, bereksperimen, dan menemukan kembali energi sebagai sebuah band.

Ke depan, Kotak telah menyiapkan sejumlah lagu baru yang berpotensi dikemas dalam format EP.

"Single satu, single dua, single tiga, baru nanti akan format EP-nya. Tapi bisa jadi karena kita mandiri, enak-enak kita aja kapan keluarinnya, ya sudah nanti sikat," pungkas Tantri.

Video Klip single YOLO pun sudah bisa dinikmati oleh penggemar Kotak, Kerabat Kotak.

(Tribunnews.com/ Fauzi Alamsyah)

 

 

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.