TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Petarung mixed martial arts (MMA) asal Sumatera Utara, Jon Setiawan Saragih, langsung mengalihkan fokus menghadapi ajang yang lebih besar setelah sukses meraih medali emas pada Asia GAMMA Championship 2026 di Putrajaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Jon kini membidik World GAMMA Championship yang dijadwalkan berlangsung di Spanyol pada Desember 2026 mendatang. Prestasi di level Asia menjadi modal penting bagi petarung asal Sumatera Utara tersebut untuk menghadapi persaingan yang lebih ketat di tingkat dunia.
Pada Asia GAMMA Championship 2026 yang berlangsung 28 Juli hingga 2 Agustus 2026, Jon berhasil menjadi juara di kelas 65,8 kilogram. Ia meraih medali emas setelah mengalahkan Oleg Pekhotin, petarung asal Kazakhstan, pada pertandingan final.
Gelar tersebut sekaligus menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan karier Jon di level internasional. Ia mengaku sangat bangga karena berhasil meraih medali emas internasional pertamanya pada level amatir. "Saya sangat senang. Namanya juga ini menjadi salah satu perdana medali emas saya di internasional pada amatir," ujar Jon kepada Tribun Medan melalui sambungan seluler.
Keberhasilan tersebut juga menjadi bagian dari proses transformasi Jon dari cabang kickboxing menuju MMA. Pasalnya, Jon merupakan atlet jebolan kickboxing Sumatera Utara. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024 lalu, Jon masih memperkuat kontingen Sumut di cabang olahraga kickboxing. Namun, saat itu ia belum berhasil menyumbangkan medali bagi Sumatera Utara.
Menurutnya, proses perpindahan cabor tersebut berjalan cukup lancar karena sebelumnya ia sudah memiliki pengalaman bertanding di dunia MMA profesional. Jon tercatat pernah merasakan atmosfer pertandingan MMA profesional di ajang One Pride MMA, termasuk bertanding di China Pro dan Amerika Serikat. Pengalaman tersebut membuat dirinya tidak terlalu kesulitan ketika harus beradaptasi dengan berbagai aspek dalam MMA.
"Awal mula transformasi dari kickboxing ke MMA itu berjalan lancar saja. Sebelumnya saya pernah bermain di profesional MMA, One Pride, di China Pro juga pernah, di Amerika juga pernah. Jadi untuk transisi dari kickboxing ke MMA masih wajar dan mudah," jelasnya.
Dalam meraih kemenangan di Asia GAMMA Championship 2026, Jon mengaku salah satu kunci utamanya adalah mampu menemukan kepercayaan diri dan karakter bertarungnya sendiri di dalam arena. Ia menilai seorang petarung harus mampu menunjukkan dominasi sejak pertandingan dimulai. Bagi Jon, dominasi tersebut bukan berarti meremehkan lawan, melainkan bagian dari mentalitas untuk meyakinkan diri bahwa dirinya mampu mengendalikan jalannya pertandingan.
"Kalau kunci kemenangan saya mendapatkan jati diri saya sendiri di dalam pertandingan. Istilahnya kita harus menunjukkan bahwa kita itu bisa dominan, bagaimana kita bisa menentukan bahwa kita dominan," katanya.
Jon menyadari setiap lawan memiliki kemampuan yang sama-sama berbahaya. Karena itu, ia membutuhkan mental bertanding yang kuat agar mampu tampil maksimal ketika berhadapan dengan lawan yang memiliki karakter dan gaya bertarung berbeda. "Walaupun sama-sama makan nasi dan sesama manusia, bukan berarti sombong. Tetapi itu motivasi. Kita harus menunjukkan bahwa kita bisa dominan dalam pertandingan. Dari situ saya mendapatkan jati diri saya sendiri," ujarnya.
Setelah menjadi juara Asia, Jon mengaku cukup puas dengan penampilannya. Salah satu hal yang membuatnya semakin percaya diri adalah keberhasilan mengalahkan petarung dari Kazakhstan, negara yang menurutnya memiliki tradisi kuat dalam olahraga MMA dan combat sport.
Namun, Jon tidak ingin menjadikan hasil tersebut sebagai alasan untuk berpuas diri. Ia menyadari level persaingan di kejuaraan dunia akan jauh lebih berat karena akan mempertemukannya dengan petarung dari berbagai negara dengan kualitas yang lebih tinggi. "Kalau dari evaluasi pertandingan kemarin saya cukup puas. Salah satu negara yang saya kalahkan itu negara yang dominan di MMA di dunia dan combat sport," ungkapnya.
Baca juga: Atlet Binaan R12 Fighting Camp Raih Medali di Indonesia Muaythai Championship 2026
Dengan begitu, Jon bertekad meningkatkan intensitas latihan menjelang World GAMMA Championship di Spanyol. Ia menyebut target utamanya bukan sekadar tampil, tetapi mempertahankan performa sekaligus kembali memburu medali emas. "Ini masih di level Asia dan belum bertemu negara-negara besar lainnya. Saat ini saya menuju World GAMMA di Spanyol pada Desember nanti. Jadi dari evaluasi tidak ada yang terlalu besar, tetapi saya harus lebih giat lagi dalam latihan supaya bisa mempertahankan bahkan mendapatkan medali emas di kejuaraan dunia nanti," tuturnya.
Meski sudah memastikan target berikutnya, Jon masih belum menentukan kelas yang akan diikutinya pada World GAMMA Championship. Ada kemungkinan ia tetap bertanding di kelas 65 kilogram atau turun ke kelas 61 kilogram.
Ketidakpastian tersebut disebabkan Indonesia memiliki dua atlet yang berpotensi tampil di kelas 65 kilogram. Karena itu, keputusan akhir mengenai pembagian kelas masih akan dibahas lebih lanjut. "Untuk kelasnya nanti mungkin saya belum tahu. Mungkin saya akan turun di kelas 61 atau masih stay di 65 karena masih abu-abu. Di kelas 65 kami ada dua orang dari Indonesia. Mungkin salah satu akan turun dan ada yang tetap stay," jelas Jon.
Meski demikian, Jon menegaskan dirinya siap bertanding di kelas mana pun yang ditentukan. Ia mengaku akan tetap mempersiapkan diri secara maksimal karena setiap kesempatan tampil di pentas internasional harus dimanfaatkan sebaik mungkin. "Saya tetap ready di kelas berapa pun karena di sini pun kita punya kontrak yang harus dipenuhi. Jadi hasilnya harus maksimal," pungkasnya. (cr29/tribun-medan.com)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.