TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Tiga atlet asal Sumatera Utara berhasil meraih medali pada ajang Indonesia Muaythai Championship (IMC) 2026 yang berlangsung di GOR Abdu Rosyad, Kompleks GOR Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, 5-10 Agustus 2026. Ketiga atlet tersebut merupakan binaan R12 Fighting Camp. Mereka adalah Sinar Yabes Sagala yang meraih medali perak di kelas 48 kilogram, Satria Leonardo Silvester dengan medali perak kelas 63,5 kilogram, serta Aprilia Eka Putri yang membawa pulang medali perunggu kelas 56 kilogram.

Prestasi tersebut menjadi catatan positif bagi R12 Fighting Camp yang baru mulai serius mengembangkan cabang olahraga muaythai. Sebelumnya, sebagian besar atlet binaan camp tersebut memiliki dasar kickboxing. Pemilik R12 Fighting Camp, Sadarmawati Simbolon, mengatakan keikutsertaan pada IMC 2026 awalnya menjadi ajang untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah jam terbang para atletnya di cabang olahraga muaythai.

Namun, hasil yang diraih justru melampaui ekspektasi. Para atlet R12 Fighting Camp mampu bersaing hingga babak akhir menghadapi sejumlah atlet nasional yang memiliki pengalaman lebih banyak. "Menurut saya, dengan cabang olahraga yang baru kami tekuni, ini cukup membanggakan. Perdana di muaythai kemarin sebenarnya hanya cek ombak untuk menambah jam terbang, tetapi anak-anak sudah bisa langsung bersaing dengan atlet-atlet nasional," kata Sadarmawati Simbolon kepada Tribun Medan. 

Wanita yang juga pelatih nasional kickboxing Indonesia itu menyebut sejumlah peserta yang dihadapi para atletnya memiliki pengalaman di ajang nasional, termasuk atlet yang pernah tampil di SEA Games dan PON. Menurut Sadarmawati, keberhasilan tiga atlet tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknik yang dimiliki atlet R12 Fighting Camp sebenarnya sudah cukup memadai. Kekurangan yang masih terlihat lebih banyak berkaitan dengan strategi bertanding karena para atlet masih beradaptasi dengan karakter pertandingan muaythai. "Kalau dari segi teknik sudah mumpuni, hanya di strategi saja. Karena masih baru, kami sedikit kewalahan di ronde-ronde awal. Kalau berikutnya, saya rasa mereka sudah bisa bersaing," ujarnya.

Para atlet R12 Fighting Camp juga tidak sepenuhnya berpindah dari kickboxing ke muaythai. Camp tersebut menerapkan pembinaan lintas cabang olahraga bela diri dengan menyesuaikan potensi dan peluang prestasi masing-masing atlet.

Hal itu dilakukan agar atlet tidak hanya bergantung pada satu cabang olahraga. Atlet yang dinilai lebih berpeluang berprestasi di kickboxing akan tetap diarahkan ke kickboxing, sementara atlet yang memiliki potensi lebih besar di MMA maupun muaythai akan diberikan kesempatan untuk berkembang di cabang tersebut. "Kami memang tidak fokus ke kickboxing saja. Kami juga pernah melahirkan atlet yang meraih juara di MMA, seperti Asia GAMMA Championship dan World GAMMA Championship. Cabang bela diri mana saja yang memiliki peluang, kami akan masuk," jelas wanita yang akrab disapa Icen tersebut.

Baca juga: Setelah Vakum Hampir 20 Tahun, PSSI Toba Aktif Lagi

Icen menegaskan, pihaknya tidak ingin membatasi atlet hanya pada satu cabang olahraga. Menurutnya, strategi tersebut penting agar lebih banyak atlet binaan R12 Fighting Camp memiliki peluang meraih prestasi dan menembus ajang olahraga nasional.

Sementara itu, khusus Sinar Yabes Sagala, R12 Fighting Camp mulai mempersiapkannya secara lebih serius untuk menekuni muaythai, termasuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (Porprovsu) 2026. Yabes diproyeksikan ke muaythai karena pada kickboxing terdapat atlet lain dari R12 Fighting Camp, yakni Antoni Tambunan, yang berada di kelas yang sama.

"Yabes memang kami fokuskan ke muaythai karena kalau di kickboxing ada saingannya, Antoni Tambunan. Mereka memiliki kelas yang sama, yakni 51 kilogram low kick. Jadi, kami masukkan Yabes ke muaythai. Karena kalau nanti bertemu di final dalam satu cabang dan satu camp, hasilnya tidak maksimal," katanya.

Sadarmawati juga optimistis pengalaman yang diperoleh dari IMC 2026 akan menjadi modal penting bagi Yabes dan atlet lainnya saat menghadapi persaingan pada Porprovsu 2026.

Pada IMC 2026, para atlet R12 Fighting Camp sudah bertemu dengan atlet dari Jawa Timur dan Jawa Barat yang memiliki rekam jejak sebagai juara. Dari pengalaman tersebut, tim pelatih kini memiliki gambaran mengenai karakter dan gaya bertanding calon lawan. "Kalau kembali bertemu untuk kedua kalinya, saya rasa mereka bisa mengalahkan karena kami sudah membaca permainannya," ungkapnya.

Namun, Aprilia Eka Putri memiliki jalur pembinaan yang berbeda. R12 Fighting Camp masih mempertahankan Aprilia untuk tetap fokus di kickboxing sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Medali perunggu yang diraih Aprilia di IMC 2026 lebih diarahkan sebagai pengalaman dan tambahan jam terbang di muaythai. Sadarmawati berharap seluruh atlet binaannya memiliki kesempatan tampil pada PON 2028, meski nantinya mereka harus memperkuat cabang olahraga yang berbeda.

"Kami berharap semua atlet bisa tampil di PON 2028. Jangan sampai ada yang menganggur dan jangan sampai atlet dari satu camp justru saling bertemu di Porprovsu. Kalau ada peluang di cabang olahraga lain selain kickboxing supaya bisa masuk PON, kami berikan peluang," tuturnya.

Menurutnya, PON merupakan kesempatan yang sangat penting bagi atlet karena digelar empat tahun sekali. Karena itu, pembinaan harus dilakukan dengan mempertimbangkan peluang setiap atlet untuk menembus ajang tersebut. "Jangan sampai peluang mereka terganggu hanya karena kami memaksakan satu cabang olahraga. Nasib atlet yang lain juga harus kami pikirkan, apalagi PON hanya berlangsung empat tahun sekali," pungkasnya. (cr29/tribun-medan.com)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.