TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemanfaatan gas bumi di Yogyakarta mulai menemukan bentuknya dalam berbagai skala. Di satu sisi, jaringan pipa gas telah menjangkau ribuan rumah tangga di Sleman.

Di sisi lain, kawasan yang belum memiliki jaringan pipa tetap dapat memanfaatkan gas bumi melalui sistem Compressed Natural Gas (CNG) yang diangkut menggunakan truk.

Dua pola distribusi itu memperlihatkan satu persoalan sekaligus peluang.

Pengembangan energi berbasis gas bumi tidak cukup hanya dengan membangun jaringan pipa, tetapi juga membutuhkan cara agar energi tersebut tetap dapat menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di wilayah yang infrastrukturnya belum tersedia.

Bagi pelaku usaha yang beroperasi hampir tanpa hari libur, persoalan ketersediaan energi menjadi kebutuhan yang sangat nyata.

Adi Saputro, PIC Mitra Manajemen Payakumbuah Cabang Yogyakarta, merasakan hal tersebut sejak rumah makan tersebut menggunakan layanan Gaslink dari PT Gagas Energi Indonesia sejak November 2024.

Rumah makan itu belum berada di kawasan yang terjangkau jaringan distribusi pipa gas. Karena itu, pasokan gas dikirim menggunakan truk pengangkut CNG berukuran 10 feet.

Truk tersebut datang secara berkala untuk mengisi tabung penyimpanan yang berada di area gas room.

Gas yang datang dengan tekanan tinggi hingga sekitar 200 bar kemudian diturunkan tekanannya sesuai kebutuhan pelanggan, sekitar 0,5 bar di area penggunaan.

Sistem tersebut membuat rumah makan tidak perlu lagi membeli dan menyimpan tabung gas dalam jumlah banyak. Pemakaian gas dihitung menggunakan meteran dan tagihan dibayarkan setiap bulan.

Bagi Adi, perubahan paling penting bukan sekadar cara gas itu datang, tetapi kepastian bahwa bahan bakar tersedia ketika usaha membutuhkannya.

"Benefit-nya yaitu aman pastinya. Terus ketersediaan bahan bakarnya juga, tidak akan ada yang kosong atau habis. Jadi tanggal merah maupun libur Lebaran atau Tahun Baru itu selalu ada," kata Adi saat ditemui Kamis (13/8/2026).

Baca juga: Dorong Desa Mandiri Energi, Pertamina Perkuat Kapasitas Para Local Hero

Kepastian tersebut menjadi penting bagi rumah makan yang aktivitasnya tidak mengenal banyak hari libur.

Adi menyebut penggunaan Gaslink juga memberikan efisiensi sekitar 30 persen dibandingkan pola penggunaan energi sebelumnya.

Dari sisi layanan, pelanggan juga mendapatkan pemantauan keamanan dari tim Gagas. Pemeriksaan dilakukan secara rutin, termasuk pengecekan terhadap potensi kebocoran.

Pengalaman di rumah makan tersebut menjadi contoh bagaimana gas bumi dapat digunakan tanpa harus menunggu seluruh wilayah tersambung jaringan pipa.

Area Head Jogja PT Gagas Energi Indonesia, Miranti Dyah Pramesti, mengatakan skema CNG memang disiapkan untuk pelanggan yang lokasinya belum terjangkau jaringan distribusi pipa gas.

"Untuk pelanggan yang belum ada jaringan pipanya, gasnya kita antar," ujarnya.

Di wilayah Jogja, Solo, dan Magelang, terdapat hampir 30 instalasi pelanggan dengan skema tersebut. Pelanggannya tidak hanya rumah makan, tetapi juga hotel dan industri.

Untuk pelanggan ritel seperti rumah makan dan hotel, gas disimpan dalam tabung tabung CNG. Biaya yang dibayarkan pelanggan juga telah mencakup gas sekaligus layanan pengiriman.

Dengan demikian, pelanggan tidak perlu memikirkan pengadaan gas secara terpisah maupun biaya pengangkutannya.

Model tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan infrastruktur pipa tidak serta merta menjadi penghalang pemanfaatan gas bumi.

Namun, di wilayah yang telah memiliki jaringan pipa, tantangannya berbeda. PGN harus memastikan jaringan yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan secara optimal dan memiliki dasar ekonomi yang cukup untuk dikembangkan.

Di Sleman, jaringan gas bumi PGN yang mulai dikembangkan sejak 2023 kini telah melayani 4.545 pelanggan rumah tangga.

Jaringan tersebut juga melayani enam pelanggan kecil dan empat pelanggan komersial industri.

Infrastruktur itu ditopang satu unit Pressure Regulating Station atau PRS dan lima unit Regulating Station atau RS. Total panjang jaringan pipa mencapai sekitar 141,4 kilometer, terdiri atas pipa DTM sepanjang 15,9 kilometer dan pipa DTR sepanjang 125,5 kilometer.

Namun, jaringan tersebut belum digunakan secara penuh.

Area Head Semarang PT Perusahaan Gas Negara, Sugianto Eko Cahyono, mengatakan pemanfaatan kapasitas PRS saat ini masih sekitar 30 hingga 40 persen.

Dengan kata lain, secara teknis masih terdapat ruang untuk menambah pelanggan.

Persoalannya, keberlanjutan jaringan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pipa yang masih bisa menampung pelanggan.

PGN juga harus memperhitungkan keekonomian investasi, besarnya konsumsi pelanggan, serta komposisi antara pelanggan rumah tangga dan pelanggan komersial.

"Pengembangan rumah tangga itu memang masih di titik tertentu tergantung dari keekonomian yang kami hitung," kata Sugianto.

Pertimbangan tersebut membuat pelanggan komersial memiliki posisi penting dalam pengembangan jaringan gas rumah tangga.

Konsumsi pelanggan komersial diharapkan dapat menopang keekonomian jaringan, sehingga pengembangan kepada rumah tangga tetap memiliki dasar bisnis yang berkelanjutan.

Gambaran manfaatnya kembali terlihat dari pengalaman pengguna.

Elin Arianita, pemilik warung nasi goreng di kawasan Gejayan, Gang Alamanda, Yogyakarta, mulai menggunakan jaringan gas bumi sekitar satu tahun lalu.

Sebelumnya, ia mengandalkan berbagai jenis tabung gas untuk menjalankan usaha yang buka sejak pukul 10.00 hingga tengah malam.

Salah satu persoalan yang paling sering dihadapi adalah kekhawatiran kehabisan gas ketika warung masih melayani pelanggan.

Kini, persoalan itu hilang. Gas dialirkan langsung melalui jaringan dan pemakaian dihitung menggunakan meteran.

"Kalau dulu kita harus punya stok tabung gas banyak sekali karena takut pada saat jualan ternyata habis gasnya. Kalau sekarang kita enggak pernah lagi khawatir kehabisan gas," ujar Elin.

Bukan hanya soal kenyamanan, penggunaan jargas juga berdampak langsung pada pengeluaran usaha.

Sebelum menggunakan jaringan gas, Elin menganggarkan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan untuk membeli gas. Setelah beralih, pengeluarannya sekitar Rp680.000 per bulan.

"Jauh lebih murah. Sekitar sepertiganya," katanya.

Elin juga tidak harus mengganti kompor yang sudah dimiliki. Pemasangan dilakukan melalui instalasi jaringan, sementara kompor yang digunakan tetap dapat dipakai seperti biasa.

Pengalaman Elin dan Adi memperlihatkan dua wajah pemanfaatan gas bumi di Yogyakarta.

Ketika pipa telah tersedia, gas dapat dialirkan langsung ke rumah dan tempat usaha. Ketika pipa belum tersedia, gas dapat didatangkan dalam bentuk CNG menggunakan truk.

Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni membuat gas bumi lebih mudah digunakan oleh pelanggan tanpa harus bergantung pada pola distribusi tabung.

Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.bUntuk pelanggan rumah tangga, PGN memberikan pemasangan instalasi dari meter hingga ke dalam rumah secara gratis. Nilai instalasi tersebut disebut dapat mencapai lebih dari Rp3 juta.

Namun, ekspansi rumah tangga di jaringan Sleman pada 2026 telah memasuki tahap akhir.

Pun demikian PGN masih membuka kesempatan bagi sekitar 100 pelanggan tambahan hingga kontrak pekerjaan berakhir pada September 2026.

Peluang pengembangan kembali pada tahun berikutnya masih terbuka, meski belum dapat dipastikan.

Dari sisi pasokan, PGN menyebut gas bumi yang digunakan berasal dari sumber domestik dan masih memiliki potensi pemanfaatan dalam jangka panjang.

Untuk menjaga kesinambungan pasokan, PGN juga mengupayakan penggunaan berbagai sumber pasokan atau multisource.

Keandalan jaringan menjadi bagian lain yang tidak kalah penting. Tim operasional disiagakan untuk menangani gangguan, termasuk kerusakan jaringan akibat aktivitas pihak ketiga.

Penanganan dilakukan agar gangguan distribusi tidak berlangsung terlalu lama.

Di tingkat pelanggan, manfaat keberlanjutan itu justru terasa melalui hal hal sederhana. Elin tidak lagi harus menimbun tabung gas. Adi tidak perlu khawatir pasokan terhenti saat rumah makan tetap beroperasi pada hari libur.

Pada akhirnya, cerita gas bumi di Yogyakarta bukan hanya tentang berapa kilometer pipa yang berhasil dibangun atau berapa ribu pelanggan yang telah tersambung.

Ada pertanyaan yang lebih besar di baliknya, yakni bagaimana infrastruktur energi yang sudah dibangun dapat terus digunakan, berkembang, dan benar benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Ketika pipa belum sampai, gas datang dengan truk. Ketika jaringan telah tersedia, gas mengalir langsung ke rumah dan tempat usaha.

Dua cara itu menunjukkan bahwa keberlanjutan energi tidak selalu berjalan melalui satu jalan. Yang lebih penting adalah memastikan jalan tersebut tetap terbuka, pasokan tetap tersedia, dan masyarakat memiliki alasan yang kuat untuk memilihnya.(nto)

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.