TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi Sodikin, batik bukan sekadar barang dagangan. Selama puluhan tahun bergelut di dalamnya, ia justru melihat batik sebagai sesuatu yang harus terus dijaga agar tidak kehilangan orang-orang yang membuatnya.
Perjalanan itu dimulai sejak 1988, ketika Sodikin mulai bekerja di dunia batik. Setelah menyelesaikan kuliah pada 1994, ia kembali menekuni bidang yang sama dan dipercaya menjadi manajer di salah satu perusahaan batik di kawasan Malioboro.
Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya untuk berdiri sendiri. Pada 2001, Sodikin mulai membangun usaha batiknya sendiri. Sejumlah merek dengan segmen berbeda sempat ia dirikan sebelum akhirnya melahirkan Batik Pramugari pada 2010.
"Kalau ditanya sudah berapa lama, ya sudah 38 tahun saya bergulat di dunia batik. Awalnya kerja tahun '88, lulus kuliah tahun '94 jadi manajer. Tapi rasa-rasanya ada hal yang lebih penting yang harus saya perjuangkan, sampai akhirnya berani buka usaha sendiri," ungkapnya.
Batik Pramugari sejak awal diarahkan untuk menyasar pasar menengah atas dengan koleksi batik yang lebih eksklusif. Namun, perjalanan panjang di dunia batik membuat Sodikin tidak hanya berpikir tentang bagaimana menjual kain dan pakaian.
Ia juga ingin menghasilkan sesuatu yang bisa menjadi bukti dedikasinya terhadap batik.
Pada 2010 hingga 2011, Sodikin berhasil mencatatkan dua rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor pertama berupa kain batik dengan 1.001 motif dalam satu kain. Setelah itu, ia kembali menciptakan kain sepanjang empat meter yang memuat 500 warna.
Bagi Sodikin, pencapaian tersebut bukan sekadar soal mengejar rekor.
“Kenapa saya menciptakan MURI kemudian empat meter? Karena saya enggak ingin menciptakan MURI hanya gagah-gagahan. Jadi ada the next-nya, ada fungsinya. Ini masih bisa dipakai,” ujar Sodikin.
Ia bahkan sempat memiliki mimpi agar ada kain batik dipasang di berbagai kedutaan besar sebagai salah satu cara memperkenalkan batik sebagai karya khas Indonesia.
Baca juga: Dari Pipa hingga Truk, Mencari Jalan bagi Keberlanjutan Energi di Jogja
Namun, persoalan yang kemudian lebih mengusik pikirannya justru datang dari sisi lain. Pandemi Covid 19 yang melanda pada 2020 membuat banyak aktivitas usaha berhenti.
Para pembatik yang sebelumnya bekerja dengannya kemudian mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup.
Dari banyak pembatik yang sebelumnya terlibat, hanya dua orang yang akhirnya kembali. Itu pun mereka sudah berusia lanjut.
Situasi tersebut membuat Sodikin mulai memikirkan masa depan batik secara lebih serius. Ia khawatir bukan pada hilangnya kain bermotif batik, melainkan semakin sedikitnya orang yang benar-benar memiliki keterampilan membatik.
“Sampai hari ini menjadi keprihatinan saya. Walaupun masih punya pembatik, tapi saya mikir nanti ke depannya bagaimana. Maksudnya saya pengin nguri-uri, terutama batik Jogja,” katanya.
Menurutnya, batik Jogja sudah sangat dikenal. Namun, popularitas tersebut tidak akan berarti banyak jika tidak dibarengi dengan keberadaan generasi penerus yang mampu membuatnya.
Kegelisahan itu pula yang membuat Sodikin tidak sepakat jika pelestarian batik hanya dibatasi pada batik tulis. Baginya, batik harus bisa digunakan oleh sebanyak mungkin orang.
Ia justru melihat keberadaan batik cap maupun tekstil bermotif batik sebagai bagian dari ekosistem yang membuat masyarakat semakin dekat dengan batik.
“Kalau hanya tulis tok, nanti batik jadi sangat eksklusif. Kalau sudah sangat eksklusif, yang pakai orangnya terbatas. Kalau sudah terbatas, akhirnya menjadi batik dipakai seperti kita asing di negara sendiri,” ucapnya.
Sodikin ingin batik hadir dalam berbagai lapisan masyarakat, dari yang harganya terjangkau hingga karya eksklusif dengan nilai tinggi. Dengan semakin banyak orang memakai batik, menurutnya, peluang untuk menjaga keberlangsungan ekosistem batik juga semakin besar.
Di sisi lain, ia menyadari ada persoalan yang harus diselesaikan jika ingin regenerasi pembatik berjalan. Salah satunya adalah penghasilan pembatik yang masih dianggap kurang menarik bagi generasi muda.
Sodikin melihat kondisi tersebut seperti lingkaran yang sulit diputus. Batik sulit dijual mahal karena pasar terbatas, sementara harga jual yang rendah membuat upah pembatik juga tidak cukup menarik.
Karena itu, salah satu cita-citanya melalui Batik Pramugari adalah membangun pasar untuk batik eksklusif sehingga pembatik dapat memperoleh penghasilan yang lebih layak.
“Harapan saya dengan adanya membayar pembatik katakanlah minimal standar UMR, paling enggak yang muda itu tertarik,” katanya.
Saat ini, sebagian pembatik yang bekerja untuk Sodikin masih berasal dari Bantul.
Ia berharap suatu hari bisa melihat lebih banyak anak muda, termasuk dari Kota Yogyakarta, yang tertarik mempelajari keterampilan tersebut.
Upaya mengenalkan proses membatik juga sudah dilakukan melalui konsep pengalaman langsung. Pengunjung yang ingin belajar membatik dipersilakan mencoba, bahkan tersedia sesi belajar tanpa biaya.
Bagi Sodikin, pengalaman tersebut bukan sekadar aktivitas wisata. Ia ingin orang yang pernah mencoba membatik memahami betapa rumitnya proses di balik selembar kain.
"Supaya mereka merasakan sendiri 'mbatik iki angel' (membatik ini sulit). Ketika nanti mereka paham rumitnya prosesnya, orang tidak akan lagi menawar batik dengan murah, karena tahu ada keringat dan dedikasi tinggi pengrajin di dalamnya," tuturnya.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade hidup bersama batik, Sodikin masih menyimpan harapan sederhana. Ia ingin terus diberi kesempatan untuk menjaga apa yang sudah menjadi bagian besar dari hidupnya.
Jika kelak memiliki kesempatan dan umur panjang, ia ingin meneruskan pengetahuan tersebut kepada anaknya agar batik Jogja tetap memiliki penerus.
Sebab, bagi Sodikin, mempertahankan batik bukan hanya soal menjaga motif, warna, atau kain. Ada manusia di balik setiap prosesnya, dan selama para pembatik masih ada, ia percaya batik akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan.
“Saya inginnya itu, kalau mudah-mudahan masih bisa dikasih umur panjang, bisa ngajari anak saya supaya tetap menjaga batik Jogja itu ada,” pungkasnya.(nto)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.