MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM


CEO Indonesia Women's League, Teddy Tjahjono, mengungkapkan alasan soal sistem drafting ala NBA untuk pemain berlabel Timnas Indonesia di Liga Putri Indonesia.

BOLASPORT.COM - CEO Indonesia Women's League, Teddy Tjahjono, membuat gebrakan dengan menerapkan sistem drafting seperti kompetisi Basket Amerika Serikat NBA untuk gelaran Indonesia Women's League 2026/2027 atau Liga Putri Indonesia.

Setelah sekian lama berada dalam masa hiatus yang sunyi, kabar gembira akhirnya datang menyapa para srikandi sepak bola Tanah Air, karena Liga Putri Indonesia 2026 akhirnya resmi digelar dan mulai bergulir pada 17 Oktober 2026.

Dahaga akan kompetisi sepak bola putri nasional seolah tak terbendung sejak terakhir kali kita menyaksikan keriuhannya pada 2019 silam.

Kini, babak baru kebangkitan itu siap dimulai dengan Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan, sebagai panggung utamanya.

Kehadiran enam klub kontestan di musim 2026 ini membawa angin segar sekaligus harapan besar bagi masa depan lapangan hijau.

Mereka bukan sekadar peserta, melainkan para pionir yang berani membuka jalan bagi ekosistem sepak bola putri yang lebih profesional.

Enam tim yang bakal berlaga di Indonesia Women's League tersebut yakni Persija Jakarta, Persita Tangreang, Dewa United, Garudayaksa FC, Persikad Depok, dan FC Bekasi City.

Mengingat pentingnya menit bermain bagi para atlet yang sudah lama parkir, Indonesia Women's League 2026 akan menerapkan sistem kompetisi yang cukup menguras keringat sekaligus menguji konsistensi, yakni triple round-robin.

Alih-alih membiarkan klub bebas berburu pemain layaknya bursa transfer biasa seperti di Super League, kasta tertinggi sepak bola putri di Tanah Air menerapkan sistem drafting, sebuah sistem yang menjadi tulang punggung liga basket dunia yakni NBA.

Tentu saja, langkah ini diambil bukan tanpa alasan, Teddy Tjahjono sadar betul bahwa membangun liga yang sehat dimulai dari kompetisi yang kompetitif.

"Di awal ini, khusus musim ini kita buat draft karena kita tidak mau yang sangat agresif mungkin mengumpulkan semua pemain timnas di satu klub, nanti pertandingannya tidak menarik, ada 10-0, kayak gitu. Tidak sehat secara kompetisi," ujar Teddy Tjahjono kepada awak media termasuk BolaSport.com, di Kantor I.League, Selasa (12/8/2026).

Menurut mantan Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) tersebut, skor yang terlalu jomplang adalah racun bagi sebuah industri olahraga.

Penonton akan jenuh, dan esensi persaingan akan hilang, sehingga sistem drafting ini pun dilakukan agar kekuatan tim pun bisa merata.

"Tidak sehat secara kompetisi. Penonton juga tidak menarik kan. Jadi makanya di awal kita buat sistem drafting supaya merata dan itu kita sampaikan di awal (ke klub)," kata Teddy.

Lantas, bagaimana sistem NBA ini bekerja di Indonesia Women's League 2026?

Teddy menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan bakat yang cukup masif, dan ada sekitar 150 pemain pro dan 280 pemain di bawah usia 18 tahun yang masuk radar.

Para pemain, terutama penggawa Timnas Indonesia, akan dikelompokkan berdasarkan kualitas mereka dalam Grade A dan Grade B.

Ini dilakukan agar tidak terjadi penumpukan bintang di satu klub, sistem undian pun diberlakukan.

"Jadi atas kesepakatan bersama, dari daftar roster yang ada, kita buat ternyata cukup untuk Grade A dan Grade B, kemudian diundi. Jadi kita kelompokkan Grup 1 ada tiga pemain, Grup 2 ada tiga pemain, sampai enam grup, diundi," jelas Teddy Tjahjono.

Selain itu, satu poin yang sempat memancing tanda tanya adalah status dua pemain naturalisasi, Estella Loupatty dan Isabelle Nottet.

Meski sudah memegang paspor Indonesia, keduanya justru diklasifikasikan sebagai pemain asing atau marquee player untuk musim ini.

Kebijakan ini diambil murni karena alasan teknis distribusi pemain, karena saat ini baru tersedia dua pemain diaspora yang memutuskan main di Liga Putri Indonesia ini.

Untuk itu, akan menjadi tidak adil apabila mereka dianggap pemain lokal dan hanya menumpuk di satu atau dua klub tertentu.

"Asing termasuk naturalisasi ya. Karena kita ingin meemberikan wadah tadi, ya udah di naturalisasi. Ya mereka mau main di sini, karena tadi hanya dua yang available," ungkap Teddy.

"Makanya kemudian kita putuskan untuk mengklasifikasikan pemain naturalisasi ini sebagai pemain asing. Karena atas dasar fairness supaya merata tadi."

"Kalau nggak, nanti kalau dia dianggap pemain lokal, cuma ada dua, nanti empat klub lain tidak dapat. Tapi ini hanya di awal
saja," tegasnya.

Lebih lanjut, Teddy pun mengatakan bahwa ini sistem franchise tanpa degradasi di musim pertama ini diharapkan menjadi laboratorium bagi kebangkitan sepak bola putri Indonesia.

Menurutnya, tanpa beban turun kasta, enam klub ini diharapkan bisa bermain lepas dan maksimal, sehingga ini diharapkan bisa membangkitkan sepak bola wanita di Tanah Air.

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.