TRIBUNJAKARTA.COM, KEMBANGAN - Bau menyengat dan tumpukan sampah yang kerap menjadi momok warga tak berlaku di wilayah Perumahan Taman Alfa Indah, tepatnya di RW 07, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat.
Di tangan Muhammad Ali bersama sejumlah rekannya, sisa sisa makanan rumah tangga dan dedaunan kering disulap menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi.
Aroma tanah yang khas tercium saat Ali menunjukkan tempat pengolahan sampah organik yang telah ia geluti secara konsisten.
Mengubah limbah menjadi pupuk kompos yang kaya nutrisi bukanlah proses instan.
Ali menjelaskan, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan serta memakan waktu minimal 1,5 bulan hingga siap pakai.
Semua berawal dari pengumpulan sampah organik harian dari rumah-rumah warga komplek.
Sampah berupa sisa sisa makanan seperti sisa nasi, sayuran, hingga rontokan dedaunan dikumpulkan menjadi satu.
"Awalnya dikumpulin dulu. Sesudah penuh, ditumpuk dan ditutup pakai terpal selama dua minggu," ujar Ali saat berbincang di tempat pengelolaan sampah mandiri RW 07, Selasa (11/8/2026).
Setelah mengendap dua minggu, tumpukan sampah tersebut dibalik dan dipindahkan ke petak lain untuk melewati tahap pembusukan berikutnya selama dua minggu lagi.
Guna mempercepat proses dekomposisi secara alami, cairan eco-enzyme ikut ditambahkan ke dalam tumpukan tersebut.
Setelah pembusukan optimal tercapai, racikan pupuk tersebut diangkat ke area khusus pengeringan selama minimal dua hari.
"Sesudah dari tempat pengeringan, baru digiling dan diayak sampai halusnya pas, baru dikarungin. Selesai," paparnya.
Ketekunan Ali mengolah sampah organik membuah hasil manis. Saban bulan, dari hasil olahan limbah warga komplek tersebut, ia mampu memproduksi puluhan karung kompos berkualitas tinggi.
"Biasanya minimal dapat 50 karung dalam waktu sebulan. Per karung dijual seharga Rp50 ribu," ungkap Ali.
Mengenai pemasaran, Ali tak pernah pusing mencari pembeli.
Kualitas kompos yang diproduksi terbukti ampuh menyuburkan berbagai jenis tanaman, hingga pesanan rutin terus berdatangan dari berbagai kalangan pembeli.
"Banyak pesanan. Kualitasnya bagus, bahannya sudah halus karena diayak. Digunakan khusus buat pupuk tanaman," katanya.
Inisiatif pengolahan sampah mandiri yang dilakoni warga RW 07 Joglo ini sejak beberapa tahun terakhir ini membawa dampak nyata bagi ketahanan lingkungan sekitar.
Ketika isu penutupan atau pembatasan kuota Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kerap memicu kekhawatiran warga Jakarta, wilayah tempat tinggal Ali justru relatif tenang.
Pasalnya, rantai pembuangan sampah organik warga telah terputus dan diselesaikan langsung di sumbernya.
Meski terkadang dihadapkan pada kendala teknis seperti mesin penggiling yang rusak sehingga harus diayak secara manual, Ali tetap konsisten memproduksi pupuk hijau ini.
Lewat tangan dingin Muhammad Ali, langkah sederhana memilah dan mengolah sampah organik berhasil membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan mampu berjalan seiring dengan peluang bisnis yang menjanjikan.
Saat ini RW 07 Joglo telah dijadikan wilayah percontohan terkait pengelolaan sampah mandiri.
Pengolahan sampah mandiri di RW 07 Joglo ini juga sudah diapresiasi langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Pramono pun mendukung RW 07 Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Wilayah ini dinilai berhasil membangun sistem pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber yang mampu menyerap lebih dari satu ton sampah anorganik setiap pekan.
Ia juga mengapresiasi konsistensi warga yang sejak 2019 membangun ekosistem pengelolaan sampah secara mandiri dan terintegrasi.
"RW 07 Joglo telah memiliki ekosistem pengelolaan sampah yang lengkap, mulai dari Bank Sampah Siwali, Rumah Kompos, Rumah Eco Enzyme, Rumah Maggot, hingga Kebun Sayur Sehat yang saling terintegrasi," ujarnya saat meninjau RW 07 Joglo, pada Kamis (11/6/2026) lalu.
Menurut Pramono, praktik pengelolaan sampah di RW 07 Joglo sejalan dengan Pemprov DKI Jakarta yang mendorong pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari sumber.
Pola ini penting untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir.
Sejak 1 Juni 2026, RW 07 Joglo menerapkan sistem pengangkutan sampah terpilah.
Sampah organik diangkut setiap hari, residu dua kali sepekan, sampah anorganik sekali sepekan, dan minyak jelantah sebulan sekali.
"Hasilnya cukup baik. Bank Sampah Siwali kini mampu menyerap lebih dari satu ton sampah anorganik setiap minggu sehingga mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir," tutur Pramono.
Selain sampah anorganik, warga juga rutin mengolah sampah organik.
Setiap hari, sekitar 400 kilogram sampah organik terkumpul atau setara 12 ton per bulan.
Dari jumlah itu, sekitar 90 persen diolah menjadi kompos, eco enzyme, dan pakan maggot.
Pengelolaan sampah tersebut juga memberi manfaat ekonomi dan lingkungan. Rumah Kompos menghasilkan 100–200 ember kompos per bulan.
Rumah Eco Enzyme memproduksi sekitar 200 liter eco enzyme per minggu. Sedangkan budidaya maggot menghasilkan 126 kilogram per bulan, dan Kebun Sayur Sehat memanen 80–100 kilogram sayuran setiap bulan.
Baca juga: Terobosan Ramah Lingkungan, PNJ Kembangkan Sistem Kompos Berbasis IoT di Lingkungan Sekolah
Baca juga: 150 Biopori Dibangun di Pondok Kelapa, Sampah Dapur Warga Diolah Jadi Pupuk Kompos
Baca juga: Atasi Persoalan Sampah, Lurah Jelambar Sulap Daun Kering Jadi Kompos hingga Tata Ulang Depo Kembar
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.