TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG – Gelombang tinggi kembali menerjang kawasan pesisir Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, Selasa 11 Agustus 2026 pagi.
Ombak yang diperkirakan mencapai sekitar 3 meter membuat air laut merangsek puluhan meter ke daratan hingga mendekati jalan beraspal.
Kondisi ini terjadi saat BMKG mengeluarkan informasi potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Bali pada 11–14 Agustus 2026.
Warga setempat, Dewa Gede Putra, mengatakan gelombang besar mulai terlihat sekitar pukul 08.00 Wita.
Kuatnya hempasan ombak membuat air laut masuk jauh ke daratan.
Bahkan, air disebut telah mencapai jalan aspal yang berjarak sekitar 80–100 meter dari garis pantai.
“Sekitar jam 8 pagi ombak besar. Tingginya kira-kira 3 meter,” ujar Dewa.
Bagi masyarakat pesisir Kusamba, gelombang besar bukan sepenuhnya fenomena baru.
Baca juga: Gelombang Tinggi di Bali, Kapal MK Baruna Karam di Padang Galak, BMKG: Waspada hingga 14 Agustus
Warga biasanya mulai meningkatkan kewaspadaan ketika memasuki periode tertentu dalam kalender Bali, termasuk menjelang Sasih Karo, saat kondisi laut kerap menjadi perhatian masyarakat pesisir.
Namun, kekhawatiran warga kini semakin besar karena gelombang tinggi terjadi di tengah persoalan abrasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Pengikisan daratan membuat garis pantai semakin mendekati permukiman dan bangunan warga.
Dewa mengatakan perubahan garis pantai di kawasan tersebut sangat terasa dibandingkan kondisi beberapa puluh tahun lalu.
Menurutnya, dahulu jarak permukiman dengan laut hampir mencapai dua kilometer.
Kini, sebagian besar daratan tersebut telah hilang akibat abrasi.
“Dulu jarak rumah di sini dengan laut hampir dua kilometer. Sekarang sudah habis abrasi,” katanya.
Abrasi tidak hanya mengubah bentuk kawasan pesisir, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap bangunan milik warga.
Salah satu bangunan milik saudara Dewa mengalami kerusakan cukup parah setelah berulang kali diterjang ombak selama sekitar lima bulan terakhir.
Kerusakan tersebut membuat bangunan tidak lagi dapat ditempati.
Untuk sementara, penghuni harus menumpang di rumah orangtua.
“Ini bangunan saudara saya, rusak parah kena ombak sekitar lima bulanan. Saudara saya jadi numpang ke rumah orangtua,” ungkapnya.
Dewa juga menceritakan perubahan yang terjadi di kawasan Pantai Mongalan.
Dahulu kawasan tersebut menjadi tempat tinggal warga dengan sekitar 16 kepala keluarga (KK).
Seiring abrasi yang terus menggerus daratan, kawasan tersebut kini berubah drastis.
Rumah-rumah warga yang sebelumnya berdiri di kawasan tersebut sebagian telah hancur dan hanya menyisakan puing akibat terus diterjang gelombang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman bagi masyarakat pesisir Kusamba bukan hanya datang dari gelombang tinggi dalam jangka pendek, tetapi juga dari abrasi yang secara perlahan mengurangi luas daratan dan mendekatkan laut ke kawasan permukiman.
Kondisi gelombang di Kusamba perlu menjadi perhatian karena berdasarkan informasi tinggi gelombang BBMKG Wilayah III, terdapat potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Bali pada periode 11–14 Agustus 2026.
Pola angin permukaan di perairan utara dan selatan Bali umumnya bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan sekitar 4–25 knot.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi peningkatan kecepatan angin di perairan utara maupun selatan Pulau Bali.
Gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Bali.
Sementara gelombang 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Selat Bali bagian selatan, Selat Lombok bagian utara, dan Selat Badung.
Adapun gelombang yang lebih tinggi, yakni 4–6 meter, berpeluang terjadi di perairan selatan Pulau Bali dan Selat Lombok bagian selatan.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku aktivitas kelautan, untuk memperhatikan kondisi angin dan gelombang sebelum melakukan aktivitas di laut.
Masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi.
Bagi warga Kusamba, kondisi gelombang tinggi yang kembali menerjang pesisir menjadi pengingat bahwa ancaman abrasi membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
Warga berharap kawasan pesisir Kusamba mendapat perhatian lebih, terutama untuk mengantisipasi abrasi yang semakin mengancam bangunan, akses jalan, maupun kawasan permukiman.
“Kami berharap kondisi pesisir Kusamba mendapat perhatian dan penanganan, terutama untuk mengantisipasi abrasi yang semakin mengancam bangunan maupun kawasan permukiman di sekitarnya,” harap Dewa.
(*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.