TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Dampak musim kemarau ekstrem tahun ini terus meluas di Jembrana. Saat ini, sejumlah masyarakat Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali mulai kesulitan akses air bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, warga setempat memanfaatkan sebuah bulakan atau kubangan yang jadi sumber mata air alternatif di wilayah setempat.

Menurut informasi yang diperoleh, kekeringan yang melanda Desa Manistutu sudah terjadi sejak satu pekan belakangan ini.

Penyebabnya adalah sumber mata air pegunungan yang selama ini digunakan warga mulai mengering dan tidak mengalir lewat pipa-pipa yang dibangun sebelumnya.

Baca juga: Diduga Korsleting Listrik, Dapur Warga Jembrana Bali Terbakar, Kerugian Material Ditaksir Rp30 Juta

Sementara bantuan distribusi air bersih dari berbagai pihak belum datang ke lokasi tersebut.

Sehingga, warga memanfaatkan sumber mata air yang paling memungkinkan yakni di sebuah bulakan atau kubangan air di sebuah kawasan pertanian.

Air tersebut digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mulai dari memasak, mencuci, minum, dan lainnya. 

Selain itu kerap digunakan warga setempat sebagai tempat mandi hingga mencuci pakaian.

Baca juga: Ratusan WBP Rutan Jembrana Diusulkan Terima Remisi HUT ke-81 RI, Satu Napi Bakal Langsung Bebas

Warga yang mencari air bersih biasanya menggunakan galon air, jerigen hingga ember dan kemudian dibawa kerumahnya untuk berbagai keperluan.

Bahkan, ada sejumlah warga yang mengaku terpaksa menempuh jarak sekitar satu sampai dua kilometer untuk mendapatkan air bersih karena belum memiliki kendaraan untuk menuju sumber air bulakan tersebut.

Di sisi lain, ada warga luar Banjar yang mencari air ke bulakan tersebut.

"Sudah semingguan belum ada air. Ya kami memanfaatkan air ini (sumber mata air di kubangan) untuk kebutuhan sehari hari," kata Biang Kadek, warga Banjar Pendem, Desa Manistutu.

Warga dari Banjar Benel, Ni Komang Susanti mengakui terpaksa mencari air di bulakan tersebut karena air pegunungan yang selama ini ia gunakan mulai macet karena kekeringan. 

"Air gunungnya sudah mulai macet karena kekeringan. Harus mencari ke bulakan ini karena untuk kebutuhan minum, mencuci dan memasak," ungkapnya. 

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra mengatakan, hingga saat ini masih belum ada laporan dari pihak desa terkait krisis air bersih yang dialami warga tersebut. 

"Masih belum ada laporan. Tapi kita tindaklanjuti dengan pihak desa untuk segera distribusi air bersih," ucapnya. 

Sebelumnya, Musim kemarau di Bali khususnya Kabupaten Jembrana diprediksi bakal terjadi hingga November bahkan awal Desember 2026 mendatang.

Sebab, fenomena El Nino tahun ini disebutkan aktif dan indeksnya diprediksi mencapai kategori sangat kuat. Sehingga peluang hujan intensitasnya lebih sedikit, berbeda dengan tahun lalu. 

Menurut informasi yang diperoleh, mulai 9 hingga 15 Agustus 2026 mendatang, cuaca di wilayah Kabupaten Jembrana secara keseluruhan bakal cerah hingga berawan. Rata-rata suhu yang terjadi pada 21-33 derajat Celcius.

Sementara untuk kecepatan angin mulai 4 km hingga maksimal 37 km per jam. Kemudian untuk gelombang laut diprediksi mulai 0,5 meter hingga 2 meter.

"Untuk tahun ini (2026) berbeda dengan tahun lalu, dikarenakan tahun ini fenomena El Nino aktif dan indeksnya diprediksi mencapai kategori Sangat Kuat," kata Staf Analis Stasiun Klimatologi BMKG Bali, Trayi Budi Samantu saat dikonfirmasi. 

Dia mengungkapkan, kondisi tersebut menyebabkan kondisi musim kemarau saat ini cenderung lebih kering dan lebih panjang. Kondisi di lapangan juga menunjukkan hal tersebut.

Beberapa wilayah sudah mulai mengalami krisis air bersih bahkan potensi kebakaran lahan sangat tinggi.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya titik lokasi penyaluran air bersih dari BPBD maupun PMI. Sementara untuk kebakaran lahan sudah terjadi kesekian kalinya pada periode Juli-Agustus ini. (*)

 

 

 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.