Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak keluarga masih memilih memisahkan piring, gelas, hingga alat makan anggota keluarga yang menderita tuberkulosis (TB). 

Mereka khawatir penyakit tersebut akan menular melalui peralatan makan yang digunakan bersama.

Padahal, anggapan itu merupakan mitos yang hingga kini masih beredar di masyarakat.

Dokter spesialis paru sekaligus pakar tuberkulosis, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K) menegaskan, TB tidak menular melalui piring, gelas, maupun makanan.

Penularan penyakit ini justru terjadi melalui udara ketika seseorang menghirup percikan droplet yang mengandung kuman TB dari penderita.

Karena itu, masyarakat perlu memahami cara penularan yang benar agar tidak memberikan perlakuan yang keliru terhadap pasien TB sekaligus dapat melakukan pencegahan secara tepat.

TB Menular Lewat Udara, Bukan Alat Makan

Prof. Erlina mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap penderita TB harus dipisahkan seluruh peralatan makannya agar penyakit tidak menular.

Padahal, cara tersebut tidak akan mencegah penularan.

"Jadi, jangan lagi ada yang mengatakan, oh ini kalau TB makannya dipisah, gelasnya dipisah, piringnya dipisah, enggak. Enggak menular lewat piring, menular gelas, menular makanan, menularnya lewat udara,"ungkapnya ditemui usai diskusi Pengembangan AI untuk Deteksi Dini Tuberkulosis Melalui Pembacaan Hasil Rontgen Dada untuk Daerah Terpencil di Indonesia yang diselenggarakan KONEKSI, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, ketika pasien TB batuk, ia akan mengeluarkan droplet yang mengandung kuman TB ke udara.

Apabila droplet tersebut terhirup orang lain, maka kuman dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko penularan.

Karena itu, fokus pencegahan seharusnya diarahkan pada pengendalian penularan melalui udara, bukan sekadar memisahkan alat makan.

Rumah Lembap dan Ventilasi Buruk Mempermudah Penularan

Prof. Erlina menjelaskan, risiko penularan akan meningkat apabila pasien TB tinggal di rumah yang memiliki ventilasi buruk.

Rumah yang minim jendela, tidak mendapatkan sinar matahari, dan memiliki sirkulasi udara yang kurang baik membuat udara di dalam ruangan menjadi lembap.

Dalam kondisi tersebut, kuman TB lebih mudah bertahan sehingga peluang orang lain menghirup udara yang telah terkontaminasi menjadi lebih besar.

Ia mencontohkan kondisi ini sering ditemukan pada kawasan permukiman yang padat penduduk.

Di rumah-rumah seperti itu, anggota keluarga yang keluar masuk ruangan berisiko menghirup udara yang mengandung kuman TB apabila tinggal bersama pasien yang belum mendapatkan pengobatan.

"Kalau di suatu rumah di daerah yang kumuh dan padat itu, yang ventilasinya tidak bagus, ada pasien TB yang batuk, pada saat dia batuk, dia mengeluarkan droplet yang mengandung kuman TB. Dan kuman ini akan berkembang dengan baik di suasana yang lembab,"imbuhnya. 

Karena itu, ventilasi rumah menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko penularan TB di lingkungan keluarga.

Jangan Takut Berinteraksi, yang Penting Pahami Cara Penularannya

Prof. Erlina menilai pemahaman yang keliru mengenai cara penularan TB justru dapat memperkuat stigma terhadap pasien.

Akibatnya, penderita TB sering dijauhi atau diperlakukan berbeda, padahal tindakan seperti memisahkan alat makan tidak memberikan manfaat dalam mencegah penularan.

Sebaliknya, masyarakat perlu memahami bahwa penularan lebih berkaitan dengan kualitas udara di dalam ruangan dan lamanya kontak dengan penderita yang belum diobati.

Dengan mengetahui cara penularan yang benar, keluarga dapat memberikan dukungan kepada pasien tanpa rasa takut yang berlebihan.

Selain itu, upaya pencegahan juga menjadi lebih tepat sasaran, seperti menjaga sirkulasi udara di rumah dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah ke TB.

Kenali Gejala agar Tidak Terlambat Diperiksa

Selain meluruskan mitos tentang penularan, Prof. Erlina juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala TB.

Seseorang yang mengalami batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, atau berkeringat pada malam hari sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri perlu ditingkatkan, seperti ketika pandemi Covid-19, saat orang tidak ragu melakukan pemeriksaan begitu muncul gejala.

Baca juga: Cerita Perjuangan Penderita Tuberkolosis Resisten Obat untuk Sembuh

Semakin cepat TB ditemukan dan diobati, semakin kecil pula risiko penularan kepada anggota keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.