Kutai Kartanegara (ANTARA) - Petani tambak di Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mengaku hasil tambaknya mulai membaik setelah kawasan tambak kembali ditanami mangrove melalui program rehabilitasi Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Borneo Andi Firmansyah mengatakan dirinya telah mengelola tambak sejak 1995 dan sempat merasakan penurunan hasil produksi setelah kawasan mangrove di sekitar tambak dibuka.
"Setelah ditanami bakau mangrove jenis Rhizophora ini, Alhamdulillah sekarang sudah mulai kembali, dan itu saya rasakan langsung sendiri di tambak saya sendiri," kata Firman dalam acara Temu Media bersama Masyarakat Pesisir Desa Sepatin di Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jumat.
Menurut Firman, keberadaan mangrove membantu melindungi tambak dari abrasi sekaligus mendukung produktivitas tambak yang sebelumnya terus menurun setelah kawasan mangrove berkurang.
Ia mengatakan pengalaman tersebut mendorong kelompoknya mengajak petambak lain untuk ikut menanam mangrove di lahan yang mereka kelola.
"Karena kami sudah merasakan hasil dan dampaknya, maka kami juga mencoba menghimbau kepada teman-teman petambak supaya menanam mangrove di lahan-lahan yang mereka kelola," ujarnya.
Firman mengatakan program M4CR berbeda dengan program rehabilitasi sebelumnya karena melibatkan masyarakat melalui mekanisme swakelola, mulai dari pembentukan kelompok, penanaman hingga pemeliharaan mangrove.
Sementara itu, Ketua KTH Peduli Hutan Mangrove Suardi mengatakan program rehabilitasi mangrove tidak hanya berdampak terhadap pemulihan lingkungan pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui kegiatan penanaman, persemaian bibit, hingga penyediaan bibit mangrove.
"Semua elemen yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan itu sangat bermanfaat untuk masyarakat Desa Sepatin dalam meningkatkan perekonomian," katanya.
Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) adalah proyek yang dibiayai Bank Dunia (World Bank) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kehutanan di bawah Ditjen PDASRH (Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitas Hutan). Berdasarkan dokumen pelaksanaan rehabilitasi M4CR, KTH Mangrove Borneo berhasil mencatat tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove sebesar 69 persen pada penanaman seluas 55 hektare pada 2025. Pada 2026, kelompok tersebut melanjutkan penanaman mangrove di area seluas 199 hektare yang masih berlangsung.