TRIBUNWOW.COM - Di hadapan Muhammad Bimo Oryosejo, layar laptop masih dipenuhi desain grafis dan naskah podcast yang harus diselesaikan.

Di sela kesibukan itu, ia kerap mengingat satu pelajaran yang mengubah cara pandangnya tentang masa depan, pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh pekerjaan, melainkan kesempatan untuk mengajar guru di daerah, mendampingi komunitas, atau menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Saya merasa Panasonic Scholarship bukan hanya membantu secara finansial, tetapi juga mengubah cara saya memandang perjalanan karier. Saya jadi berani memilih jalan yang sesuai dengan nilai yang saya yakini, bukan semata-mata mengejar penghasilan," ujar Bimo kepada TribunWow.com, Jumat (10/7/2026).

Keyakinan itu tumbuh seiring perjalanan akademiknya. Aktif di organisasi kemahasiswaan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat membuat Bimo percaya bahwa ruang belajar tidak hanya berada di ruang kelas.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya menjadi penerima Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2024 dan menjalani satu semester perkuliahan di University of Information Technology and Management in Rzeszów, Polandia.

Dari Kesempatan Menjadi Kontribusi

POTRET BIMO - Momen Bimo setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025.
POTRET BIMO - Momen Bimo setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025. (Tribunwow/Adi Manggala)

Sepulang dari Polandia, kesempatan lain kembali menghampirinya. Bimo terpilih sebagai penerima Panasonic Scholarship dan berkesempatan mengikuti Panasonic Global Scholarship International Essay Competition hingga mewakili Indonesia pada kompetisi tingkat internasional di Jepang.

Meski belum berhasil membawa pulang gelar juara dunia, pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.

"Saya belajar bahwa nilai yang diajarkan Panasonic tidak berhenti pada teori. Kami didorong untuk terus belajar, berani mencoba, dan memberi manfaat bagi orang lain. Itu yang paling saya rasakan selama menjadi awardee," katanya.

Bagi Bimo, manfaat Panasonic Scholarship tidak berhenti pada bantuan pendidikan sekitar Rp22 juta per tahun.

Dukungan tersebut memberinya keleluasaan menentukan arah karier sesuai nilai yang diyakininya, tanpa harus menjadikan faktor finansial sebagai pertimbangan utama.

Alih-alih mengejar tempat magang dengan bayaran tertinggi, ia memilih bergabung bersama organisasi nirlaba Focus on the Family Indonesia dan berkarya di Symbiosis Indonesia sebagai kreator podcast serta desainer grafis.

Baginya, pekerjaan bukan semata-mata tentang memperoleh penghasilan, melainkan juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

"Beasiswa ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang kita capai untuk diri sendiri, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain," tuturnya.

Warisan yang Menjangkau Lebih Banyak Anak Bangsa

POTRET SAJIDA - Momen Sajida setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025.
POTRET SAJIDA - Momen Sajida setelah mendapatkan beasiswa Panasonic Scholarship tahun 2025. (Tribunwow/Adi Manggala)

Perjalanan Bimo bukanlah satu-satunya cerita tentang bagaimana Panasonic Scholarship mengubah kehidupan seseorang.

Di tempat yang berbeda, Sajida Nur Zafir Abdurrahim juga merasakan perubahan serupa. Berasal dari keluarga sederhana, ia berhasil menempuh pendidikan melalui berbagai beasiswa hingga akhirnya menjadi penerima Panasonic Scholarship 2025.

Kesempatan itu tidak hanya membawanya mengenal dunia industri melalui program magang di Panasonic, tetapi juga memperkuat tekadnya untuk mengabdikan ilmu psikologi melalui pelatihan guru, edukasi kesehatan mental, dan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Kesempatan itu tidak hanya membawanya mengenal dunia industri melalui program magang di Panasonic, tetapi juga memperkuat tekadnya untuk mengabdikan ilmu psikologi melalui pelatihan guru, edukasi kesehatan mental, dan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

"Saya belajar supaya semua kegiatan saling mendukung, bukan saling mengganggu. Ilmu yang saya dapat melalui Panasonic Scholarship ingin saya bawa kembali untuk memberi manfaat kepada masyarakat," ujar Sajida kepada TribunWow.com, Sabtu (4/7/2026).

Jalan yang ditempuh keduanya memang berbeda. Bimo memilih berkarya melalui organisasi sosial dan industri kreatif, sementara Sajida mengabdikan ilmunya di bidang psikologi dan pendidikan. Namun keduanya dipertemukan oleh keyakinan yang sama: kesempatan yang diperoleh melalui Panasonic Scholarship bukan berhenti sebagai bantuan biaya pendidikan, melainkan menjadi bekal untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Kisah Bimo dan Sajida hanyalah dua dari ratusan cerita yang lahir dari Panasonic Scholarship. Sejak hadir di Indonesia pada 1999, program ini telah menjangkau 207 mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai dari diploma hingga doktoral. Seiring berkembangnya kebutuhan pendidikan nasional, cakupan program terus diperluas, namun tetap membawa nilai yang sama.

Nilai itu berakar pada filosofi Make People Before Products yang diwariskan Gobel Group selama tujuh dekade. Bagi Gobel Group, melahirkan talenta yang siap berkontribusi bagi Indonesia tidak hanya dilakukan melalui inovasi dan teknologi, tetapi juga dengan menyiapkan manusia yang kelak mampu berkarya bagi bangsanya.

Karena itulah, ketika Bimo memilih menggunakan kemampuannya untuk berkarya di organisasi sosial, atau Sajida mengabdikan ilmunya melalui pelatihan dan edukasi kesehatan mental, filosofi tersebut tidak lagi berhenti sebagai slogan perusahaan. Nilai itu tampak ketika para awardee kembali mengajar, mendampingi komunitas, berkarya di industri kreatif, atau memilih pekerjaan yang berdampak bagi masyarakat.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.