SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Bicara soal kota hunian idaman di Indonesia, nama Palembang dan Kota Malang hampir tak pernah luput dari perbincangan.
Kedua kota ini punya daya pikat magis yang sangat kuat dengan karakter uniknya masing-masing.
Malang, sang Paris van East Java, berdiri gagah sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur.
Dikelilingi lanskap pegunungan yang asri dan berudara sejuk, Malang bertumbuh pesat menjadi magnet pendidikan tinggi nasional sekaligus pusat pariwisata dan surga kuliner yang selalu ramai disinggahi pelancong.
Baca juga: Meneropong 5 Daerah dengan Pengangguran Terendah di Sumatera
Sementara itu, Palembang tampil megah sebagai metropolis berbalut sejarah.
Menjadi kota tertua di Indonesia yang dahulu merupakan pusat kejayaan Kerajaan Sriwijaya, kota yang dibelah oleh keanggunan Sungai Musi ini memiliki identitas budaya yang kental, lengkap dengan warisan kulinernya yang telah mendunia.
Namun, di luar pesona wisata dan romantisme budayanya, bagaimana jika kedua kota ini disandingkan dalam hal tingkat keterjangkauan biaya hidup dan daya beli warganya?
Dikutip dari data BPS berikut perbandingan biaya hidup di Kota Malang vs Palembang, pada Sabtu (25/7/2026)
Berdasarkan data rata-rata pengeluaran per kapita sebulan, tingkat biaya hidup di kedua kota ini ternyata tidak terpaut jauh, meski Palembang sedikit lebih hemat di kantong.
Kota Malang: Rata-rata pengeluaran per kapita warganya mencapai Rp1.890.055 per bulan.
Angka ini terbagi untuk kebutuhan makanan sebesar Rp763.834 dan sektor non-makanan (hunian, transportasi, energi, dan gaya hidup) sebesar Rp1.126.221.
Palembang: Rata-rata pengeluaran per kapita warganya berada di angka Rp1.879.226 per bulan.
Alokasi untuk konsumsi makanan mencapai Rp794.213, sedangkan sektor non-makanan berada di angka Rp1.085.013.
Menariknya, warga Palembang mencatatkan porsi pengeluaran makanan yang sedikit lebih tinggi dibanding Malang, namun biaya non-makanan seperti tempat tinggal dan utilitas harian di Kota Bumi Sriwijaya ini tergolong lebih rendah.
Keunggulan Upah Minimum dan Daya Beli
Sisi paling kontras dari perbandingan kedua kota ini terletak pada standar Upah Minimum Kota (UMK).
Di Kota Malang, UMK tercatat berada di kisaran Rp3.736.101 per bulan.
Dengan rata-rata pengeluaran hidup bulanan sebesar Rp1,89 juta, warga Malang mengalokasikan sekitar 50,5 persen dari UMK untuk memenuhi standar kebutuhan pokok harian.
Di sisi lain, Kota Palembang menawarkan ruang napas finansial yang lebih longgar bagi para pekerja.
UMK Palembang mencapai Rp4.192.837 per bulan. Dengan biaya hidup per kapita rata-rata sebesar Rp1,87 juta, rasio pengeluaran dasar warganya berada di kisaran 44,8?ri standar upah minimum.
Secara teknis, Palembang sedikit unggul sebagai kota yang ramah kantong bagi para pencari kerja maupun profesional.
Gabungan antara UMK yang lebih tinggi dan rata-rata biaya hidup yang sedikit lebih rendah memberikan margin sisa pendapatan (disposable income) yang lebih tebal bagi masyarakatnya.
Namun, Malang tetap memegang daya tarik tersendiri. Bagi para pelajar, mahasiswa, dan pensiunan, efisiensi biaya makanan yang murah serta atmosfir kota sejuk berfasilitas pendidikan lengkap membuat Malang tetap menjadi rumah yang ideal untuk ditinggali.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.