Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nurika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Seni rupa Indonesia kembali menegaskan taringnya di panggung internasional.

Sebanyak 27 perupa berbakat dari berbagai daerah di Tanah Air dipastikan akan tampil dalam ajang seni bereputasi dunia, ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026 di Jerman, yang dijadwalkan berlangsung pada 11–13 September mendatang.

Kehadiran puluhan perupa ini terwujud berkat inisiasi Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP).

Program ini digagas oleh seniman asal Bali, Niluh Swati, sebagai wujud komitmen membuka akses dan jaringan yang lebih luas bagi seniman Indonesia untuk menembus pasar seni global.

Baca juga: Program INI BUDI Tembus Panggung Kabupaten, Guru dan Siswa di Bondowoso Tampilkan Seni Budaya Lokal

Niluh mengungkapkan, NSIAP lahir dari refleksi pengalaman pribadinya saat meniti karier sebagai seniman di Jerman sejak 2019. 

Ia merasakan langsung rumitnya tantangan di Eropa, mulai dari membangun jaringan hingga memahami sistem galeri internasional.

“Indonesia memiliki banyak sekali seniman berkualitas dunia, tetapi masih banyak yang kesulitan menembus pasar internasional karena keterbatasan akses informasi, jaringan, dan biaya. Melalui NSIAP, saya ingin menjadi jembatan yang membuka peluang bagi seniman Indonesia untuk berpameran, membangun relasi, dan berkembang di ekosistem seni global,” ujar Niluh Swati dalam keterangan resminya, Rabu (22/7/2026).

27 Perupa Berbagai Latar Belakang dan Daerah

Pada perhelatan perdananya di ARTe Kunstmesse Wiesbaden 2026, NSIAP memboyong 27 perupa dengan keragaman gaya dan latar belakang seni.

Mereka adalah: I Wayan Mardiana, Doddy “MR D” Hernanto, Fahmi DNR, Arzethian, Putu Arcana, Prassboedhi, Agus Wicaksono, Con, Didik Hamdi, Dodi Darussalam, Achy Askwana, Epot Owl, Hary Nurdianto, Harhari Gustaf, Ifat Futuh, Juan Widhiyanto, Kusswoyo, I Made Sesangka Puja Laksana, Masadjie Noer, Rizal Ramdhani, Restu Adi, Sanher, Sapto Oetomo, Tingga, Yuni Daud, Zulfian Hariyadi, serta Niluh Swati.

Tak Sekadar Pameran, NSIAP Lakukan Pembekalan Standar Internasional

Bagi Niluh, membawa karya ke Eropa hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah mempersiapkan mental dan tata kelola administrasi para seniman agar siap berinteraksi secara profesional dengan galeri maupun kolektor internasional.

"Banyak seniman Indonesia karyanya luar biasa, tetapi masih butuh pendampingan soal administrasi internasional, seperti pembuatan Certificate of Authenticity, invoice profesional, pemahaman kontrak, hingga penggunaan tanda tangan elektronik," jelasnya.

NSIAP menekankan kurasi karya yang menonjolkan kualitas artistik, identitas, serta nilai kekayaan budaya Indonesia.

Pihaknya sengaja menghindari karya yang bersifat anarkis atau provokatif, guna menjaga fokus utama sebagai media dialog budaya dan citra positif Indonesia.

Respons Positif Galeri dan Kolektor Eropa

Secara formal, NSIAP juga bertindak sebagai sponsor penyelenggaraan pameran ini dengan sokongan dari sejumlah kolektor seni yang memiliki visi mempromosikan karya Tanah Air.

Gayung pun bersambut, antusiasme dari galeri dan pelaku seni di Jerman dinilai sangat menggembirakan, bahkan beberapa tawaran kerja sama telah menanti pasca-pameran.

Di akhir keterangannya, Niluh memberikan pesan motivasi bagi para perupa di Indonesia agar tidak gentar mencoba peluang internasional.

“Jangan menunggu semuanya sempurna atau punya biaya besar untuk mulai. Berkaryalah dengan apa yang ada, lalu terus belajar. Jangan hanya mengandalkan bakat, tetapi bangun juga portofolio, jaringan, dan sikap profesional. Kesempatan akan datang bagi mereka yang konsisten, mau belajar, dan berani mencoba,” pungkas Niluh.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.