TRIBUNNEWS.COM – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, kebutuhan akan ruang untuk bertumbuh bersama juga semakin besar.

Berangkat dari keresahan tersebut, lahirlah komunitas Ranah Energi, sebuah wadah bagi siapa saja yang ingin mengenal diri, mengembangkan potensi, sekaligus menjaga kesehatan mental.

Di balik komunitas tersebut berdiri Nisabela Rosadi atau akrab disapa Bela. Perempuan berusia 29 tahun asal Solo itu mendirikan Ranah Energi sekaligus menjadi satu-satunya anggota tim yang mengelola seluruh aktivitas komunitas hingga saat ini.

Bagi Bela, ide mendirikan Ranah Energi berawal dari keresahan sederhana. Ia melihat banyak orang memiliki semangat untuk berkembang, tetapi tidak mengetahui harus memulai dari mana dan bersama siapa. Dari pengamatannya, proses bertumbuh akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung.

Bela menuturkan, sebagian besar komunitas lahir dari kesamaan hobi atau identitas. Berbeda dengan itu, Ranah Energi dibangun dari kebutuhan akan teman bertumbuh.

"Biasanya kan komunitas itu lahir dari satu hobi, satu identitas, kayak komunitas lari atau komunitas pecinta matcha. Kalau Ranah Energi ini lahir dari satu kebutuhan, yaitu untuk punya teman bertumbuh," ujar Bela saat ditemui Tribunnews, Senin (20/7/2026).

Bagi Bela, Ranah Energi hadir sebagai ruang aman bagi siapa saja yang ingin didengar. Dalam setiap kegiatan, peserta didorong untuk berani menyampaikan pendapat dan berbagi pengalaman sehingga setiap suara memiliki kesempatan yang sama untuk didengarkan.

Semangat tersebut sejalan dengan tagline Ranah Energi, "Setiap individu membutuhkan dukungan kelompok."

"Hidup itu random. Hari ini kita bisa belajar memasak, besok mungkin belajar public speaking. Ranah Energi ingin menjadi tempat yang menampung semua kerandoman itu," ujarnya.

Karena itu, komunitas ini menjadi ruang yang inklusif, tempat setiap orang dapat hadir apa adanya tanpa harus memenuhi kriteria tertentu. Tanpa syarat khusus, Ranah Energi terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.

Baca juga:  Jangan Cemas Lihat Si Kecil Inhalasi, Mengupas Efektivitas Terapi Langsung ke Saluran Napas Anak

Didirikan pada 2024, Ranah Energi kini memiliki sekitar 530 anggota dari berbagai latar belakang dengan rentang usia 17 hingga 60 tahun. Anggotanya tidak hanya berasal dari Solo Raya, tetapi juga Yogyakarta. Menariknya, seluruh kegiatan komunitas tersebut masih dikelola sendiri oleh Bela.

Ranah Energi menyasar siapa saja yang sedang menjalani proses pemulihan maupun mencari ruang aman untuk mengenali dan menerima perasaan mereka.

"Aku berpikir isu mental health masih sangat awam. Teman-teman yang sedang berproses untuk sembuh sering kali tidak punya tempat untuk memvalidasi perasaan mereka. Semoga mereka bisa menemukan semangat di Ranah Energi," tutur Bela.

Meski mengelola komunitas seorang diri, Bela mengaku belum mengalami kesulitan berarti.

"Sejauh ini aku enggak ada struggle karena aku menikmati ini," katanya.

Ada Apa di Ranah Energi?

Pendiri Ranah Energi, Nisabela Rosadi
FOUNDER RANAH ENERGI - Pendiri Ranah Energi, Nisabela Rosadi, Ibu rumah tangga berusia 29 tahun berasal dari Solo.

Berbagai kegiatan di Ranah Energi dirancang secara fleksibel, mulai dari bakti sosial, kelas kreatif, seminar, nonton bareng, hingga sekadar nongkrong dan makan bersama. 

Menurut Bela, ruang untuk bertumbuh tidak selalu harus dibangun melalui suasana yang serius dan kaku, tetapi juga dapat tercipta lewat aktivitas sederhana yang menghadirkan pengalaman serta sudut pandang baru.

Kegiatan-kegiatab tersebut meliputi kelas kreatif dengan menghadirkan narasumber, seperti kelas merajut, merangkai bunga, maupun seminar bersama para profesional, termasuk psikolog. Sementara itu, kegiatan santai seperti menonton film atau makan bersama terbuka bagi seluruh anggota.

Meski memiliki sekitar 530 anggota, Bela membatasi peserta kelas dan seminar menjadi sekitar 20 hingga 30 orang agar kegiatan tetap nyaman dan sesuai kapasitas tempat. Adapun kegiatan yang bersifat santai tidak menerapkan pembatasan jumlah peserta.

Seiring semakin dikenal masyarakat, Ranah Energi kerap menerima undangan untuk berkolaborasi dengan berbagai instansi maupun komunitas lain. Dalam beberapa bulan tertentu, frekuensi pertemuan anggota bahkan dapat mencapai tiga kali.

"Banyak instansi atau komunitas lain yang ngundang kami, jadi ketemunya bisa sebulan tiga kali," ujar Bela.

Selain itu, Ranah Energi menjalin kerja sama dengan sejumlah biro psikologi di Solo Raya. Kolaborasi tersebut menghadirkan psikolog sebagai narasumber dalam berbagai kegiatan edukasi mengenai kesehatan mental.

Bagi masyarakat yang ingin bergabung, caranya cukup mudah. Calon anggota hanya perlu menghubungi akun Instagram @ranah.energi, kemudian bergabung ke grup WhatsApp untuk memperoleh informasi mengenai berbagai kegiatan. Seluruh proses pendaftaran tidak dipungut biaya.

Bela menilai meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir turut mendukung tujuan Ranah Energi menghadirkan ruang yang nyaman bagi siapa saja untuk bertumbuh bersama. Melalui kebersamaan, ia berharap semakin banyak orang menemukan dukungan, semangat, sekaligus tempat untuk berkembang.

Ia juga berharap Ranah Energi terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak orang. Komunitas yang dirintisnya diharapkan tidak hanya menjadi wadah bertumbuh bagi para anggota, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Di balik berbagai kegiatan yang diadakan, Ranah Energi juga menjadi tempat bagi para anggotanya untuk berbagi cerita dan memperoleh dukungan. Salah satunya dirasakan oleh Iqro Maa Filardzi (29), anggota Ranah Energi asal Solo yang bergabung pada awal tahun ini.

"Alasan saya memutuskan bergabung karena merasa butuh ruang dan teman yang nyaman buat curhat dan cerita. Sebagai cowok, saya kadang bingung cerita ke siapa kalau ada masalah. Untungnya nemu komunitas Ranah Energi ini yang bisa jadi tempat berkeluh kesah," papar Imaf.

Saat pertama kali bergabung, Imaf mengaku sedang berada dalam kondisi yang cukup berat. Berbagai persoalan, mulai dari keluarga, hubungan pribadi, hingga pekerjaan, membuat pikirannya dipenuhi berbagai beban.

Di tengah kondisi tersebut, ia merasa membutuhkan seseorang untuk diajak berbagi cerita, tetapi belum mengetahui kepada siapa harus bercerita.

Menurut Imaf, di Ranah Energi ia menemukan dukungan melalui berbagai kegiatan, salah satunya journaling dan sesi berbincang bersama yang terkadang didampingi psikolog. Baginya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenali diri sekaligus mengolah berbagai hal yang sedang dirasakan.

Selama menjadi anggota, pengalaman yang paling berkesan baginya adalah dapat bertemu banyak orang baru yang baik dan perhatian. Kehadiran teman-teman di Ranah Energi membuatnya merasa lebih nyaman untuk terbuka dan tidak menghadapi masalah seorang diri.

"Nyaman banget bisa curhat sama banyak teman. Rasanya ingin bergabung dari dulu," ungkapnya.

Imaf menilai dukungan dari teman sebaya atau peer support memiliki peran penting dalam proses bertumbuh. Ia belajar bahwa memendam masalah sendirian bukanlah solusi. Ketika berada dalam kondisi sulit, dukungan dari teman-teman Ranah Energi membantunya kembali bangkit.

Ia berharap Ranah Energi terus berinovasi dan menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu membantu semakin banyak orang menemukan kebahagiaan.

"Harapannya bisa terus berinovasi dan berkreasi untuk membantu banyak orang menemukan kebahagiaan," harapnya.

(Mg/Magang Fadhilla Tinsi Eka Amalya)
Penulis adalah mahasiswa magang dari Universitas Sebelas Maret.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.