Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Tren pernikahan adat Indonesia terus berkembang di tengah maraknya konsep pernikahan modern.
Melihat potensi sekaligus pentingnya menjaga warisan budaya, Celtic Wedding Organizer fokus menggarap pernikahan adat dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk pelestarian budaya Nusantara.
Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya Celtic Wedding lebih banyak menangani pernikahan bergaya Chinese dan internasional pada periode 2006 hingga 2008.
Kini, berbagai prosesi adat dari Jawa, Makassar, Sumatera, Papua hingga Ambon menjadi bagian dari layanan yang mereka tangani.
The Heart of Celtic Indonesia, Soni Laksono, mengatakan keputusan tersebut bermula saat menangani klien yang menginginkan rangkaian pernikahan adat Jawa secara lengkap, mulai dari malam midodareni, kethek, turun kembar mayang hingga prosesi yang berlangsung selama tujuh hari.
“Klien tradisional pertama kami justru meminta prosesi yang benar-benar lengkap. Dari situ kami berpikir, kenapa tidak diseriusi saja agar pernikahan adat tetap lestari,” ujar Soni Laksono kepada Tribun Jatim, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, setiap prosesi dalam pernikahan adat Indonesia memiliki filosofi dan makna yang diwariskan secara turun-temurun sehingga perlu terus dijaga keberadaannya.
Ia menilai, pelestarian budaya melalui pernikahan adat penting dilakukan agar tradisi tersebut tidak hilang ataupun diklaim oleh pihak lain.
Seiring berkembangnya usaha, Celtic Wedding dipercaya menangani berbagai pernikahan adat dari sejumlah daerah di Indonesia.
Pengalaman tersebut membuat mereka semakin memahami keragaman budaya yang dimiliki Indonesia.
“Kami melihat langsung betapa kayanya budaya Indonesia. Sayang sekali kalau tidak ada yang meneruskan. Karena itu kami ingin lebih fokus mengangkat budaya Indonesia melalui pernikahan adat,” katanya.
Sementara Veni Laksono, The Soul of Celtic Indonesia mengungkapkan, setiap daerah memiliki tingkat kerumitan yang berbeda dalam pelaksanaan prosesi pernikahan.
Meski beberapa tradisi memiliki tahapan serupa, detail pelaksanaannya tetap memiliki ciri khas masing-masing.
Ia mencontohkan prosesi siraman yang dijumpai di beberapa daerah memiliki perbedaan, seperti penggunaan air kelapa pada adat tertentu.
Sementara dalam adat Banjar, kedua mempelai menjalani prosesi dengan posisi berdampingan, berbeda dengan adat Jawa yang dilakukan secara terpisah.
Menurutnya, prosesi pernikahan dari wilayah Indonesia Timur menjadi salah satu yang paling kompleks karena masih sangat kental dengan aturan adat dan pengaruh budaya lokal.
“Ada prosesi yang mengharuskan penyembelihan tujuh ekor kerbau. Ada juga aturan berdasarkan garis keturunan atau kasta. Bahkan penggunaan suntiang atau hiasan kepala memiliki jumlah tingkat yang berbeda, mulai tiga, lima, tujuh hingga sembilan susun sesuai status keluarga, sehingga bobotnya juga cukup berat,” jelasnya.
Melalui komitmen tersebut, Celtic Wedding berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tetap memilih dan melestarikan pernikahan adat sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia di tengah perubahan tren gaya hidup.
“Karena sebenarnya setiap hal yang kita pakai dalam tradisi budaya Indonesia, itu ada maknanya. Dan maknanya bagus sekali. Jadi supaya tidak hilang, kami harus lestarikan. Jangan sampai tradisi ini hilang bahkan diklaim orang lain. Kami melihat Indonesia ini kaya akan budaya,” tutup Veni
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.