Jakarta -

Selama ini, diabetes dan tekanan darah tinggi selalu dituding sebagai penyebab utama di balik rusaknya fungsi ginjal. Tetapi, penyakit tersebut bukanlah satu-satunya pemicu.


Ada banyak faktor risiko lain dari lingkungan, gaya hidup, hingga genetika yang diam-diam bisa 'menggerogoti' organ penyaring darah ini tanpa disadari. Penyakit ginjal kronis diperkirakan memengaruhi hampir 10 persen populasi global.


Sifatnya yang berkembang perlahan tanpa rasa sakit membuat penyakit ini kerap dijuluki ancaman yang sunyi. Bahkan, data penelitian menunjukkan hampir satu dari empat orang dewasa kemungkinan memiliki tingkat gangguan fungsi ginjal tertentu tanpa mereka ketahui.




Dikutip dari , berikut beberapa pemicu sakit ginjal lainnya yang jarang disadari:


1. Obesitas


Obesitas tidak hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga bisa merusak ginjal secara langsung. Saat berat badan seseorang berlebih, ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring darah.




Fenomena ini disebut sebagai hiperfiltrasi. Seiring berjalannya waktu, kerja lembur yang ekstrem ini memicu munculnya jaringan parut pada jaringan ginjal, yang pada akhirnya menurunkan kemampuan penyaringan organ tersebut.




2. Kebiasaan Merokok


Merokok tidak hanya merusak paru-paru dan jantung, tetapi juga bertindak sebagai akselerator kerusakan ginjal yang senyap. Kandungan nikotin dalam rokok dapat mengurangi aliran darah ke jaringan ginjal.


Selain itu, racun dalam asap rokok memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut. Pada orang yang sudah memiliki masalah ginjal, merokok akan mempercepat penurunan fungsi organ tersebut secara drastis.


3. Konsumsi Obat Pereda Nyeri yang Dijual Bebas


Penggunaan obat pereda nyeri yang dijual bebas (OTC), terutama jenis NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid) secara sering untuk mengatasi sakit kepala atau nyeri sendi dapat merusak ginjal secara permanen. Kerusakan ini terjadi bertahap dan kerap tidak disadari.


Selain itu, masyarakat juga harus waspada terhadap label 'alami' pada obat tradisional atau jamu yang tidak teregulasi. Sebab, beberapa di antaranya dilaporkan menyembunyikan kandungan berbahaya seperti kontaminasi logam berat.


4. Suplemen Kebugaran dan Pembakar Lemak


Budaya kebugaran modern sering kali menormalisasi penggunaan suplemen tanpa resep, seperti suplemen tinggi protein, kreatin, hingga senyawa pembakar lemak untuk binaraga atau penurunan berat badan.


Jika dikonsumsi berlebihan dan tanpa pengawasan medis, produk-produk ini dapat memberikan tekanan besar pada ginjal, terutama bagi mereka yang memiliki masalah ginjal tersembunyi.


5. Infeksi Saluran Kemih Berulang dan Batu Ginjal


Jangan sepelekan infeksi saluran kemih (ISK) yang sering kambuh. Bakteri dari infeksi tersebut bisa menyebar naik ke atas hingga memicu jaringan parut pada ginjal.


Selain ISK, masalah batu ginjal yang tidak diobati juga dapat menyebabkan penyumbatan dan peradangan berulang yang berisiko merusak jaringan ginjal secara permanen.






6. Faktor Riwayat Keluarga


Riwayat kesehatan keluarga atau genetik memegang peran sentral dalam mendeteksi risiko penyakit ginjal. Penyakit genetik tercatat berkontribusi sekitar 20 hingga 25 persen pada kasus penyakit ginjal kronis.


Kondisi genetik ini sering kali muncul dalam bentuk tekanan darah tinggi di usia dini yang sifatnya sulit diobati.


7. Penyakit Autoimun


Gangguan autoimun sistemik, seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE), diketahui dapat menyerang filter atau penyaring di dalam ginjal secara langsung.


Serangan sistem imun yang keliru ini menyebabkan peradangan hebat pada organ ginjal dan memicu kerusakan kronis jangka panjang jika tidak segera ditangani.














Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.