TRIBUN-TIMUR.COM - Makassar sedang benar-benar merasakan musim kemarau.
Dalam beberapa hari terakhir, suhu siang hari terasa menyengat.
Aktivitas di luar ruangan menjadi lebih melelahkan.
Gerah dan keringat seolah menjadi teman tetap warga kota.
Bahkan sejak pukul 09.00 Wita, sebagian warga sudah merasakan panas seperti tengah hari.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menunjukkan kondisi tersebut masih berada dalam kategori normal.
Tidak ada dinamika atmosfer yang ekstrem.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Nur Asia Utami, Minggu (12/7/2026), menyebut kondisi ini masih normal terjadi di Makassar.
Penyebab utamanya justru sederhana.
Tutupan awan sangat minim sehingga sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi.
Suhu aktual memang berkisar 34 hingga 35 derajat Celsius, dengan puncak sekitar 36 derajat.
Namun suhu yang dirasakan tubuh dapat mencapai 40 derajat akibat pengaruh kelembapan udara.
Penjelasan ini penting. Di tengah derasnya informasi di media sosial, cuaca panas sering dikaitkan dengan berbagai spekulasi, mulai dari gelombang panas hingga perubahan iklim yang ekstrem.
Padahal, BMKG menegaskan kondisi yang terjadi di Makassar saat ini masih merupakan karakteristik musim kemarau dengan langit cerah dan minim awan.
Namun, normal menurut meteorologi belum tentu ringan bagi masyarakat.
Bagi pekerja lapangan, pengemudi ojek, pedagang kaki lima, petugas kebersihan, hingga mahasiswa yang beraktivitas di kampus, suhu yang terasa mencapai 40 derajat tentu membawa risiko kesehatan.
Dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga menurunnya produktivitas menjadi konsekuensi yang tidak bisa diabaikan.
Tidak mengherankan jika banyak warga mulai membiasakan membawa tumbler berisi air minum sebagai langkah sederhana menjaga kondisi tubuh.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap cuaca harus menjadi bagian dari budaya perkotaan.
Penyediaan ruang terbuka hijau, penanaman pohon peneduh, ketersediaan air minum di ruang publik, hingga pengaturan jam kerja bagi aktivitas luar ruangan merupakan bentuk kesiapsiagaan yang semakin relevan di kota besar seperti Makassar.
Musim kemarau memang datang setiap tahun.
Panas juga bukan hal baru bagi Makassar.
Tetapi kota yang semakin padat memerlukan kemampuan beradaptasi yang semakin baik.
Sebab yang diuji bukan hanya ketahanan cuaca, melainkan juga ketahanan masyarakat menghadapi cuaca.(*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.