TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora terus berupaya mempermudah petani memperoleh bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk mendukung sektor pertanian.


Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengoptimalkan penerbitan surat rekomendasi pembelian BBM subsidi melalui aplikasi XStar BPH Migas dengan target seluruh permohonan yang memenuhi syarat dapat terlayani.


Kepala Bidang Sarana Prasarana Pertanian dan Peternakan, DP4 Blora, Sofwan Rifai, mengatakan selama Januari hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 701 petani mengajukan surat rekomendasi BBM subsidi jenis solar.


Sementara itu, untuk BBM subsidi jenis pertalite terdapat 115 pemohon.


"Jumlah pemohon surat rekomendasi BBM subsidi jenis solar dari Januari sampai Juni 2026 ada 701 orang. Sedangkan pemohon rekomendasi BBM subsidi jenis pertalite sebanyak 115 orang," kata Sofwan, kepada Tribunjateng.com, Sabtu (11/7/2026).


Menurutnya, jumlah permohonan rekomendasi BBM subsidi biasanya lebih tinggi pada musim penghujan dibandingkan musim kemarau.


Hal tersebut karena pada musim tanam pertama (MT I) dan musim tanam kedua (MT II), kebutuhan penggunaan alat dan mesin pertanian jauh lebih tinggi.


"Biasanya lebih banyak di musim penghujan. Saat itu traktor digunakan untuk olah lahan pada MT I dan MT II. Selain itu, ketika hujan datang tidak menentu, petani juga tetap menggunakan pompa air untuk mengairi sawah," jelasnya.


Tak hanya saat pengolahan lahan, kebutuhan BBM subsidi juga meningkat ketika masa panen karena penggunaan mesin panen atau combine harvester.


"Pas panen juga combine digunakan. Jadi rata-rata pemanfaatan alat mesin pertanian memang terjadi saat musim tanam dan panen pada MT I maupun MT II," katanya.


Meski demikian, Sofwan menyebut masih ada sejumlah wilayah yang tetap membutuhkan alat mesin pertanian pada musim tanam ketiga (MT III), terutama daerah yang masih produktif menanam jagung.


"Di beberapa kecamatan, MT III masih ada yang tanam jagung. Mereka tetap membutuhkan traktor untuk mengolah lahan," ujarnya.


Sementara itu, pada musim kemarau, penggunaan BBM subsidi untuk pompa air justru cenderung menurun.


Menurut Sofwan, kondisi tersebut disebabkan banyak sumur dangkal milik petani yang mengering sehingga penggunaan pompa diesel menjadi tidak optimal.


"Kalau musim kemarau justru tidak banyak. Banyak sumur dangkal yang kering. Tanaman jagung juga tidak membutuhkan penyiraman sebanyak tanaman padi, sehingga penggunaan pompa diesel lebih sedikit," paparnya.(Iqs)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.