Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang

TRIBUN-TIMUR.COM - Tahun tahun belakangan ini jumlah para pemuda Indonesia yang mencari hidup bekerja di Jepang makin meningkat tinggi.

Jepang juga membutuhkan banyak tenaga kerja asing dari berbagai negara.

Terutama dibidang konstruksi, perawatan, manufaktur, pertanian. Juga di bidang perikanan.

Di bidang perikanan, banyak tantangan dihadapi Jepang saat ini.

Salah satunya penurunan populasi penduduk setiap tahun.

Akibatnya, permintaan dalam negeri menurun.

Selain itu, jumlah pekerja industri ini juga otomatis akan menurun.

Selain itu juga permasalahan rata rata suhu air sekitar Jepang yang telah meningkat 2 derajat selama 100 tahun belakangan ini.

Tapi tetap saja perikanan di Jepang satu terbaik didunia.

Masyarakat nya punya kegemaran dan budaya mengonsumsi berbagai hasil laut.

Ikan Tuna atau Meguro sering digunakan untuk Sashimi dan sushi.

Ikan Makerel atau saba dan Salmon juga sangat populer.

Produk produk laut yang lain pun sangat banyak.

Meski demikian, tahun belakangan ini, ada kecenderungan konsumsi ikan warga Jepang makin menurun, seiring makin gencarnya serbuan budaya western fast food dan perubahan gaya hidup.

Volume tahunan fresh seafood yang dibeli per rumah tangga juga menurun.

Menurut survei Ministry of Internal Affairs and Communications, tahun 2008 rumah tangga membeli rata-rata 36,3 kilogram makanan laut segar; turun menjadi 23 kilogram di tahun 2019. Disaat bersamaan, konsumsi daging punya trend meningkat.

Menurut data Ministry of Agriculture, Forestry, and Fisherie, di tahun 2018 tingkat swasembada Japan’s self-sufficiency rate untuk edible seafood pernah mencapai puncak 113 persen pada tahun 1964, saat hampir semua makanan laut bersumber dari dalam negeri.

Setelah itu terus menurun hingga hanya sekitar 60 persen di tahun 2018.

Produk impor pun berdatangan; Salmon dari Rusia, gurita dari Mauritania dan berbagai udang dari Indonesia.

Ada satu program televisi Jepang favorit saya yakni program kisah para nelayan pemburu ikan tuna dan hasil laut lainnya.

Acaranya ‘Maguro ni Kaketa Otokotachi’ umumnya bersifat dokumentari liputan para pelaut ulung Jepang - yang umumnya sudah berusia tidak muda lagi, memburu ikan besar tuna dengan berbagai teknik, alat, pengalaman juga berbagai intuisi tajam mereka.

Terkadang juga muncul dokumentasi pekerja perikanan para pemuda Indonesia.

Betul betul menarik menyaksikan ketangguhan para nelayan menangkap tuna besar yang kadang beratnya bisa mencapai 200 kilogram.

Sangat menarik menyaksikan mereka melawan suhu dingin, ombak tinggi, kadang angin topan demi keluarga.

Mereka harus menaklukan laut. Sekaligus menjaga pride mereka sebagai penakluk tuna tangguh.(*)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.